Thejatim.com – Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan akhirnya akan kembali kepada Allah. Makanya mulai saat ini ketika beramal dan beribadah tidak perlu ada rivalitas. Karena apa yang kita miliki di dunia hakikatnya adanya milik Allah yang diamanahkan kepada kita (manusia) sebagai khalifah di muka bumi ini.
Kalau ada yang mengatakan, “ini uangku, ini hartaku,” itu semua tidak ada maknanya. Asal bicara ngelantur saja, lama-lama juga lupa sendiri. Karena secara bahasa manusia, uang yang ada di kantong saya memang uang saya. Secara bahasa manusia, rumah yang saya tempati adalah rumahku. Sehingga sah jika dikatakan, “Ini rumahku, ini uangku. Lalu saya berikan untuk masjid.”
Kalau niatmu seperti itu berarti sah, karena kamu memiliki berdasarkan hukum manusia bukan berdasarkan hukum Allah SWT. Jadi kamu sekarang ketika beramal, “Gus, uangku saya berikan pada Anda karena Allah.” Ini bahasa manusia. Berhubung uang ini “punya saya”, maka istilahnya “punya saya”. Tapi di hatimu harus yakin bahwa itu hanya istilah manusia.
Hakikatnya Semua Milik Allah
Hakikatnya kita, harta kita, hidayah kita, prestasi kita, dan semua yang kita miliki, semuanya milik Allah Tuhan semesta Alam. Seperti ayat Al-Qur’an yang selalu kita baca dalam shalat:
اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’am: 162)
Tiada sekutu (tandingan) bagi Allah. Kalau Anda katakan Anda punya uang miliaran, berarti (seakan-akan) Anda tandingan bagi Tuhan. Padahal ayatnya jelas dalam Al-Qur’an:
وَلِلهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاِلَى اللهِ الْمَصِيْرُ
Artinya: “Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi dan hanya kepada Allahlah kembalinya (seluruh makhluk).” (QS. An-Nur: 42)
Tuhan itu memiliki langit bumi dan seisinya. Kok kamu merasa, “Ini tanah Papua milikku, HP milikku, ini uang milikku.” Padahal dalam Al-Qur’an semua yang di bumi dan langit milik Allah, kok bisa jadi milikmu, yang benar milik siapa?
Kalau Anda sampai yakin punya tanah, padahal secara hukum Allah tanah itu milik Allah, berarti kamu menjadi tandingan bagi Allah. Padahal Allah itu laa syariika lah (tiada sekutu/tandingan bagi Allah).
Meyakini hal ini paling sulit, namun jangan dipersulit, biasa saja, teruslah bicara nanti lama-lama juga lupa. Teruslah beramal baik, nanti lama-lama lupa sendiri (tidak memikirkan harta dunia).
*Disadur dari pengajian KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha.



