Jumat, 30 Januari 2026
Image Slider

Rencana Tanggul Laut Ditunda Surabaya Utamakan Infrastruktur Pengendalian Banjir

TheJatim.com – Pemerintah Kota Surabaya memutuskan menunda pembangunan tanggul laut sebagai upaya jangka panjang pengendalian banjir rob. Saat ini, pemkot menilai langkah yang paling memungkinkan ialah memperkuat infrastruktur yang sudah ada, seperti rumah pompa, pintu air, dan bozem di berbagai titik rawan.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya, Syamsul Hariadi, mengatakan pendekatan teknis yang lebih realistis saat ini adalah memastikan seluruh fasilitas pengendali air bekerja maksimal.

“Penanganan banjir rob itu memang harus ada tanggul laut, lengkap dengan pintu air dan pompa. Tapi untuk sekarang kita fokus pada yang bisa langsung diperkuat,” ujarnya, Senin (8/12/2025).

Baca Juga:  Kursi Sekda Kosong, Wali Kota Surabaya Buka Peluang untuk Semua Kepala Perangkat Daerah

Ia menjelaskan, wilayah timur Surabaya sudah memiliki perlengkapan pengendali banjir yang memadai, mulai dari pintu air hingga pompa air. Dengan kondisi tersebut, Syamsul optimistis potensi banjir rob bisa ditekan.

“Itu sudah lengkap, sehingga insyaallah bisa kita minimalisir,” tuturnya.

Berbeda dengan timur Surabaya, kawasan barat masih menghadapi kekurangan fasilitas. Daerah seperti Kali Krembangan, Kalianak, dan Kali Sememi belum memiliki pintu air maupun rumah pompa. Kondisi ini membuat banjir rob masih mungkin terjadi ketika debit air meningkat.

“Wilayah barat ini ada lima akses sungai menuju laut. Kita agendakan pembangunan rumah pompa di tiga sampai empat sungai yang belum punya fasilitas itu,” jelasnya.

Baca Juga:  Barikade 98 Jatim Pastikan Perjuangan Kerakyatan Berjalan Tanpa Anarkisme

Saat ini, Balong dan Kandangan sudah dilengkapi pompa air, sementara Asemrowo, Kalianak, dan Tambak Langon masih menunggu pembangunan berikutnya.

Syamsul menegaskan pembangunan tanggul laut secara menyeluruh belum dapat direalisasikan. Selain bersifat kompleks, beberapa titik pesisir sebenarnya sudah memiliki proteksi alami maupun tanggul dari pengembang.

“Wilayah barat seperti Kalianak itu sudah punya tanggul. Memang bukan tanggul laut, tapi fungsinya sudah menjadi proteksi terhadap air laut,” imbuhnya.

Ia juga menyebut sebagian wilayah barat telah ditinggikan oleh pengembang kawasan pergudangan. Langkah itu membantu mengurangi risiko rendaman air laut, sehingga pemkot hanya perlu melengkapi fasilitas pengendali air.

Baca Juga:  GMNI Surabaya Dukung Kongres XXII, Dorong Regenerasi Ideologis Nasional

“Sebagian tanahnya sudah lebih tinggi karena proyek pengembang. Kita tinggal melengkapi infrastrukturnya saja,” katanya.

Di sisi lain, fungsi bozem tetap menjadi andalan sebagai tempat penampungan sementara saat hujan bersamaan dengan pasang.

“Kalau hujan, air masuk bozem dulu lalu dipompa ke laut. Kalau surut, alirannya bisa langsung turun dibantu gravitasi, jadi lebih cepat,” paparnya.

Surabaya memiliki tiga bozem besar—Bratang, Kalidami, dan Morokrembangan—masing-masing berkapasitas hingga 80 ribu meter kubik air. Ketiga fasilitas ini menjadi titik penting penahan lonjakan air saat cuaca ekstrem.

“Pompa tetap jadi kunci, dan itu yang terus kita optimalkan,” pungkas Syamsul.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT