TheJatim.com – Pemerintah Kota Surabaya menunda penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pembiayaan alternatif atau utang daerah tahun 2025 hingga mendekati akhir tahun. Padahal, anggaran perubahan telah disahkan sejak September, dan sejumlah proyek strategis sudah mulai berjalan.
Penundaan ini sengaja dilakukan untuk mencegah bunga pinjaman berjalan lebih cepat. Begitu MoU diteken dan dana digunakan, bunga otomatis mulai dihitung. Karena itu, Pemkot memilih menunda tanda tangan agar beban bunga tidak membengkak.
Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Lilik Arijanto, menjelaskan bahwa Pemkot ingin memastikan pemanfaatan pembiayaan alternatif tetap efisien. Ia menegaskan seluruh proyek tetap berjalan menggunakan skema reimburs.
“Dalam mekanisme ini, pekerjaan dimulai terlebih dahulu, sementara pencairan anggaran dilakukan belakangan,” sebutnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Surabaya, Bahtiar Rifai, mengonfirmasi bahwa strategi penundaan MoU telah dibahas dalam rapat Badan Anggaran. Jika MoU diteken pada Oktober, bunga pinjaman akan mulai berjalan sejak bulan itu.
“Dengan menggeser ke Desember, Pemkot menghemat bunga selama dua bulan,” ujarnya.
Bahtiar menyebut DPRD telah memberikan persetujuan politik terhadap skema pembiayaan alternatif, sehingga kini Pemkot hanya perlu menentukan waktu penandatanganan. Ia memastikan seluruh proyek prioritas tetap berlanjut, termasuk penanganan banjir dan pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, pekerjaan dilelang lebih dulu, kemudian pembiayaan alternatif masuk sebagai penutup melalui skema reimburs. Seluruh pembiayaan tahun 2025 wajib terselesaikan dalam tahun anggaran yang sama.
Di luar pinjaman 2025, Pemkot juga menyiapkan pembiayaan alternatif untuk tahun 2026 melalui Bank Jatim dan PT SMI dengan nilai sekitar Rp1,5 triliun. Seluruh syarat administrasi telah berjalan, mulai dari pengesahan perda hingga evaluasi gubernur, sebelum nantinya berkas disampaikan ke kementerian terkait.
Bahtiar menegaskan percepatan pengerjaan proyek memberi keuntungan ekonomi. Jika pekerjaan dimulai di awal tahun, biaya material dan upah cenderung stabil sebelum naik dalam siklus harga tahunan.
“Selisihnya bisa puluhan miliar. Pengerjaan di awal tahun jauh lebih efisien,” ujarnya.


