*Oleh Isfandiari Mahbub Djunaidi
TheJatim.com – Penciptaan manusia oleh Allah memiliki dua tujuan utama. Pertama, sebagai hamba yang wajib menjalankan perintah-Nya (abdullah). Kedua, sebagai pemimpin di bumi (khalifah) yang berikhtiar membangun hubungan harmonis, baik dengan sesama makhluk maupun dengan alam raya. Pada peran kedua inilah manusia diberi amanah untuk menciptakan tatanan sosial serta bercengkrama dengan alam sesuai tuntunan Islam.
Bercengkrama dengan alam menjadi salah satu tujuan para pendaki gunung. Ada niat, ada persiapan, hingga muncul sebab kerinduan. Dari rindu itulah lahir dorongan untuk bersua dan bersilaturahmi dengan alam. Gunung, air, batu, pepohonan, satwa, beserta seluruh isinya. Intinya, menjalin hubungan dengan sesama makhluk hidup, sebab dalam Islam sejatinya tidak ada istilah benda mati.
“Istilah benda mati hanya ada dalam kamus manusia biasa,” tutur Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal, Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ), sekaligus Menteri Agama Republik Indonesia, dalam Buku Panduan Tadabbur Alam terbitan Nasaruddin Umar Office (NUO).
Al-Qur’an menjelaskan, “Langit yang tujuh dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS Al-Isra: 44).
Dalam surah Al-Hajj ayat 18 disebutkan, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan melata, dan banyak di antara manusia?” Ayat-ayat ini menjadi dasar penting dalam membangun adab dan etika manusia saat berinteraksi dengan alam.
Keyakinan tersebut membuka cakrawala berpikir yang lebih dalam bagi para pendaki. Kehadiran mereka di tengah alam bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjumpaan dengan perwujudan ciptaan Allah. Prof. Nasaruddin Umar menggambarkannya sebagai upaya “melihat wajah Tuhan di setiap objek yang diamati”. Di sanalah terjadi dialog batin, tumbuh rasa kasih, sekaligus tanggung jawab besar.
Jika silaturahmi dengan alam gagal dijaga, maka kerusakan akan datang. Allah mengingatkan dalam QS Ar-Rum ayat 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.”
Pendaki yang telah memperoleh pencerahan batin tentu berbeda dengan pendaki awam yang semata menjadi penikmat panorama. Jasad, nafs, dan ruh mereka bergerak selaras. Mereka piawai menjalin silaturahmi dengan gunung, batu, tumbuhan, satwa, bahkan dengan diri sendiri. Etika pendakian menjadi prinsip, mulai dari leave no trace atau tidak meninggalkan jejak, pengelolaan sampah, adab buang hajat, tidak berburu, berkemah ramah lingkungan, menghindari api unggun, tetap berada di jalur pendakian, menghormati adat setempat, menolak vandalisme, hingga berbagi rezeki dengan porter lokal.
Sepanjang perjalanan, pendaki melakukan tadabbur alam. Sebuah upaya sadar untuk membaca, mempelajari, dan menghayati tanda-tanda kebesaran Allah di balik setiap ciptaan. Alam dipahami sebagai ayat-ayat Tuhan yang hidup. Terjadi interaksi timbal balik. Jika manusia berbuat baik kepada alam, alam akan membalas kebaikan itu. Jika sebaliknya, alam merespons melalui bencana.
Dalam penghayatan yang mendalam, keterhubungan itu berubah menjadi komunikasi. Ketika cuaca ekstrem muncul, alam seakan berbicara. Awan menggelap, angin menguat, kabut turun cepat. Semua menjadi tanda agar pendakian dihentikan, ego ditahan, dan risiko dikurangi. Alam mengingatkan bahaya hipotermia, altitude sickness atau penyakit ketinggian.
Pendaki yang peka akan membaca peringatan itu. Mereka tidak meremehkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mendengarkan informasi warga setempat, serta memahami posisi ketinggian. Di atas 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl), udara menipis, tubuh mudah pusing, mual, dan sesak napas. Karena itu, pendakian dilakukan bertahap melalui proses aklimatisasi agar tubuh beradaptasi.
Komunikasi ini memang bukan bahasa manusia, tetapi dapat dirasakan. Saat alam memberi tanda bahaya, pendaki yang bijak tahu cara menyikapinya. Saat kondisi bersahabat, alam seolah membuka pelukan.
Momen paling romantis terjadi ketika cuaca stabil. Lanskap terbentang luas, udara sejuk menyapa, vegetasi gunung menyambut, langit biru bersih. Di titik ini, pendaki bertafakur, bertadabbur, bahkan bertahannuts, mengasingkan diri sejenak untuk kontemplasi spiritual.
Akhirnya, terjalin kemesraan antara pendaki dan alam. Pola pikir pun diriset ulang menurut kesejatian Islam. Semua adalah sesama makhluk hidup, ciptaan Allah, yang saling berkomunikasi dalam rasa. Alam dijaga, alam pun menjaga. Pendakian bukan sekadar perjalanan raga, melainkan perjalanan batin.
Doa turut dipanjatkan bagi para pendaki yang wafat dalam perjalanan. Terutama peristiwa belakangan ini, seperti Lilie Wijayanti (59) dan Elsa Laksono (59) di Puncak Carstensz, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, serta Syafiq Ridhan Ali Razan (18) di Gunung Slamet, Jawa Tengah, dan para pendaki lainnya.
أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ
“Semoga Allah memperbesar pahalamu, memberi sebaik-baik penghiburan, dan mengampuni orang yang wafat”. Al-Fatihah.


