TheJatim.com – Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, menggelar reses di Tambak Osowilangun, kawasan perbatasan Surabaya–Gresik, Kamis (12/2/2026). Dalam kegiatan yang dihadiri ratusan warga tersebut, ia menekankan pentingnya validitas data DTSEN sebagai dasar penyaluran bantuan sosial sekaligus menyerahkan bantuan untuk UMKM dan fasilitas warga.
Cak Yebe menegaskan, wilayah perbatasan harus mendapat perhatian yang sama dalam akses pelayanan publik dan program pemerintah. Menurutnya, akurasi data menjadi kunci agar bantuan sosial benar-benar tepat sasaran.
“Kalau datanya tidak akurat, yang berhak bisa terlewat. Sebaliknya, yang tidak berhak justru bisa masuk,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).
Ia meminta warga terbuka saat proses pendataan berlangsung dan menerima petugas survei yang melakukan verifikasi lapangan. Partisipasi masyarakat, kata dia, menentukan kualitas kebijakan sosial yang disusun pemerintah.
DTSEN menjadi instrumen penting dalam pembaruan data penerima bantuan sosial. Dengan pembaruan berkala, potensi kesalahan data dapat ditekan sehingga program bantuan lebih terukur dan sesuai kebutuhan warga.
Selain sosialisasi, Cak Yebe menyerahkan bantuan berupa terop, kursi, dan meja untuk menunjang kegiatan RT, keagamaan, dan kepemudaan. Ia juga memberikan mesin pemotong rumput guna mendukung kebersihan lingkungan dan memperkuat budaya gotong royong.
Pada sektor ekonomi, bantuan senilai Rp5 juta diberikan untuk pembelian mesin jahit bagi kelompok UMKM jahit di lingkungan setempat. Dukungan alat produksi ini diharapkan meningkatkan kapasitas usaha dan pendapatan keluarga.
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, sektor UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Karena itu, penguatan usaha mikro dinilai berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
“UMKM harus kita dorong terus. Dengan alat yang memadai, usaha ibu-ibu penjahit bisa berkembang dan memberi manfaat lebih besar bagi keluarga,” kata Cak Yebe.
Salah satu penerima bantuan, Lailatul Rahimah, mengaku terbantu. Selama ini, kelompoknya yang beranggotakan empat orang belum memiliki mesin pembuat lubang kancing sehingga harus menyelesaikan proses tersebut di luar daerah.
“Biasanya ke Gresik, satu lubang kancing Rp1.000. Sekarang bisa kami kerjakan sendiri,” katanya.
Dengan tambahan mesin tersebut, pesanan seragam hingga permak pakaian dapat diselesaikan lebih cepat dan efisien. Warga berharap perhatian terhadap validitas data sosial dan penguatan UMKM terus berlanjut agar manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat.
“Sangat terbantu, alhamdulillah sangat. Selama ini dari pemerintah belum pernah dapat bantuan sama sekali. Jadi ini benar-benar membantu usaha kami,” tegasnya.


