TheJatim.com – Cara sederhana sering kali justru paling efektif untuk menyerap aspirasi. Itu terlihat dalam agenda “Malam Minggu Ngopi Bareng” yang digelar Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Babat Jerawat bersama Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Partai PPP, Agus Mashuri, Sabtu (2/5/2026) malam.
Bertempat di Ratu Angkringan Jerawat, suasana santai berubah menjadi ruang diskusi yang produktif. Warga, pengurus RT/RW, hingga unsur keamanan duduk setara, membicarakan satu hal yang sama, arah pembangunan wilayah yang lebih konkret dan terasa.
Kegiatan yang berlangsung spontan ini dihadiri Penasihat LPMK Dhany Nartawan dan Abah Khoirul, Ketua LPMK Yudi Mulyanto beserta jajaran, serta Bhabinkamtibmas Kecamatan Pakal. Format informal justru membuat warga lebih terbuka menyampaikan kebutuhan riil di lapangan.
Dalam pembukaan, Dhany Nartawan menekankan pentingnya menjaga kekompakan sosial di tengah dinamika pembangunan kota. Ia menyebut, pembangunan fisik tanpa kohesi sosial hanya akan menyisakan masalah baru.
“Kerukunan warga adalah fondasi. Kalau ini kuat, program pembangunan akan lebih mudah dijalankan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua LPMK Babat Jerawat Yudi Mulyanto memaparkan capaian yang sudah berjalan. Di antaranya pemasangan Penerangan Jalan Umum (PJU) di sejumlah titik serta instalasi tiga unit CCTV di kawasan perumahan, yang dinilai efektif meningkatkan rasa aman warga.
Namun, pekerjaan belum selesai. Yudi menyebut ada sejumlah rencana lanjutan yang mendesak direalisasikan. Mulai dari pembangunan dua gapura sebagai identitas wilayah hingga pelebaran akses jalan dari sisi utara rel kereta api.
“Ini bukan sekadar proyek fisik, tapi kebutuhan mobilitas warga yang terus meningkat,” jelasnya.
Menanggapi itu, Agus Mashuri memberikan respons yang cukup teknis sekaligus realistis. Ia menyarankan pembangunan gapura dapat diajukan melalui skema Dana Kelurahan (Dakel), sementara proyek pelebaran jalan perlu dimatangkan lewat musyawarah warga sebelum masuk tahap pengajuan.
“Perencanaan yang matang akan mempercepat realisasi. Jangan sampai usulan ditolak hanya karena kurang detail,” tegasnya.
Cak Huri, sapaan akrabnya juga memastikan komitmennya untuk mengawal aspirasi warga, terutama di wilayah Kecamatan Pakal. Ia menyebut, koordinasi lintas instansi seperti Dinas Perhubungan dan pihak kecamatan menjadi kunci agar usulan tidak berhenti di meja administrasi.
Di sisi lain, Abah Khoirul yang juga Ketua RW 6 mengingatkan pentingnya sistem koordinasi satu pintu. Menurutnya, pola komunikasi yang terpusat akan menghindari tumpang tindih usulan dan mempercepat respons dari pihak legislatif.
Menariknya, forum seperti ini mencerminkan perubahan pola komunikasi antara warga dan wakil rakyat. Tidak lagi kaku di ruang formal, tetapi hadir di ruang-ruang sosial yang lebih cair. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam menangkap persoalan riil, mulai dari infrastruktur, keamanan lingkungan, hingga kebutuhan dasar warga.
Data Pemerintah Kota Surabaya sendiri menunjukkan, partisipasi warga dalam forum informal meningkat dalam dua tahun terakhir. Ini menjadi sinyal bahwa model komunikasi langsung tanpa sekat mulai menjadi pilihan utama dalam proses pembangunan partisipatif.
Acara ditutup dengan obrolan ringan dan secangkir kopi. Namun, dari percakapan sederhana itu, lahir sejumlah gagasan yang berpotensi menentukan wajah Babat Jerawat ke depan.


