Kamis, 2 April 2026
Image Slider

PANGGUNG ORANG-ORANG KASAR

*Oleh Isfandiari Mahbub Djunaidi, Wakil Sekretaris Jendral PBNU.

TheJatim.com – Semoga fenomena ini bersifat sementara, segera meredup, lalu hilang. Masalahnya, mata, telinga, dan pikiran dibuat lelah menghadapi tipe manusia seperti ini. Mereka hadir intens di berbagai platform komunikasi, mulai dari televisi nasional, media sosial, hingga ruang publik. Temanya beragam, dari politik, sosial kemasyarakatan, agama, hingga sekadar sensasi. Contohnya Abu Janda di televisi nasional. Bukan isi bahasannya yang dipersoalkan, melainkan perilaku verbal dan nonverbal yang kasar, tidak beradab, dan minim etika, seolah televisi nasional adalah halaman rumah pribadi. Contoh lain adalah Ade Londok, warga Bandung kelahiran 1978. Kontennya bukan tema berat seperti sosial, politik, atau budaya, melainkan celotehan ringan yang sering kali tidak bermutu. Namun sama saja, berisi makian dan sumpah serapah tanpa filter. Ia sempat dikenal sebagai penjual odading khas Sunda, bahkan pernah diangkat sebagai duta kuliner Jawa Barat, sebelum kariernya naik dan kemudian meredup. Dua contoh ini cukup menggambarkan fenomena orang berperilaku kasar di media nasional maupun media sosial.

Baca Juga:  FKN dan JBMI Prioritaskan Kemanusiaan Saat Bencana di Tapanuli Tengah

Semua ini berkaitan dengan persoalan etika, nilai diri, tuntunan agama, dan pembangunan karakter bangsa. Jika orang-orang kasar terus diberi ruang, dampaknya bisa fatal. Jika perilaku seperti yang ditunjukkan Abu Janda dianggap lumrah, maka standar kesopanan publik ikut turun. Jika kebiasaan memaki seperti yang dilakukan Ade Londok terus diperdengarkan, bisa muncul anggapan bahwa suku tertentu memiliki karakter kasar. Hal serupa berlaku pada kelompok lain. Generalisasi seperti ini berbahaya karena berdampak luas, mulai dari persepsi budaya hingga citra kepribadian suatu bangsa.

Sebagian kalangan agamawan pun tak luput dari sorotan. Di antara mereka, ada yang berperilaku kasar, baik secara verbal maupun nonverbal. Panggungnya terbuka lebar, mulai dari mimbar hingga media elektronik. Tanpa filter yang memadai, retorika yang disampaikan sering memicu pro dan kontra. Dampaknya terasa langsung. Generasi X, Z, hingga generasi yang lebih muda menjadi terbiasa dengan bahasa kasar. Ucapan sehari-hari diselipi sumpah serapah, mulai dari nama binatang, aktivitas seksual, hingga kata-kata menjijikkan lainnya. Ini adalah konsekuensi yang nyata.

Baca Juga:  Dakwah Lebay, Umat Goodbye

Dari perspektif ilmu pengetahuan, khususnya psikologi, perilaku kasar kerap dikaitkan dengan kondisi batin seseorang. Ada pandangan bahwa kata-kata kasar mencerminkan ketidaksukaan terhadap diri sendiri. Nilai seseorang juga sering dinilai dari perilakunya; semakin kasar, semakin rendah nilainya. Sejumlah pakar bahkan berpendapat bahwa indikator kebodohan dapat terlihat dari perilaku yang tampak. Semakin kasar seseorang, semakin menunjukkan rendahnya kendali diri. Perilaku kasar cenderung didorong oleh insting, berbeda dengan sikap santun yang membutuhkan pengetahuan, kesadaran, dan kecerdasan emosional.

Syukurlah, para agamawan terus mengingatkan hal ini. Adi Hidayat pernah menyampaikan, “Orang yang lisannya kotor mencerminkan hati yang kotor.” Sementara Bahauddin Nursalim atau Gus Baha kerap menyinggung beratnya konsekuensi dari ucapan buruk. Dalam Al-Qur’an, Surah Al-Humazah ayat 1 disebutkan, “Kecelakaan bagi setiap pengumpat dan pencela.” Hadis riwayat Tirmidzi nomor 1925 juga menegaskan bahwa tidak ada yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlak yang baik, dan Allah murka kepada orang yang lisannya kotor dan kasar.

Baca Juga:  BINATANG APA?

Upaya meredam fenomena ini memang tidak mudah. Dibutuhkan kerja keras, baik secara individu maupun kolektif. Hati dan pikiran harus memiliki filter. Setiap orang perlu berusaha menjadi pribadi yang berkelas, apa pun kondisi sosial ekonominya. Adab, etika, dan sopan santun terbukti memudahkan kehidupan sehari-hari. Penting pula memilih figur panutan yang berperilaku tenang dan santun dalam bidang apa pun. Dari mereka, kita bisa belajar dan terinspirasi. Sebaliknya, menjauh dari perilaku kasar adalah langkah penting agar tidak terjebak dalam arus yang merusak. Tujuannya jelas, menjaga peradaban dan membentuk generasi yang lebih berharga serta bermartabat.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT