Oleh Isfandiari Mahbub Djunaidi.
TheJatim.com – Perkara Dwi Sasetyaningtyas sudah berseliweran di mana-mana. Singkatnya, ia tidak ingin anaknya menjadi WNI karena menilai negeri orang lebih makmur, nyaman, dan tenteram. Ia sendiri “terjebak” menjadi WNI, padahal ibu pertiwi telah “memanjakan” lewat berbagai fasilitas yang tidak diberikan kepada sembarang orang. Dengan santai dan penuh kesadaran, ia menyebut Indonesia tidak bermutu. Perempuan ini pun dianggap tidak nasionalis.
Soal kepintaran, tentu tak diragukan. Bayangkan, ia mendapatkan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), program beasiswa negara untuk studi lanjut jenjang magister atau doktor di bawah Kementerian Keuangan. Syaratnya jelas: harus WNI, lulusan S1 untuk melanjutkan ke S2, lulusan S2 untuk ke S3, IPK minimal 3,00 untuk magister dan 3,25 untuk doktor. Kemampuan bahasa asing dibuktikan dengan skor TOEFL atau IELTS. Usia relatif muda, sekitar 30–40 tahun. Dokumen wajib meliputi Letter of Acceptance (LoA) Unconditional, proposal penelitian untuk S3, esai komitmen kembali dan rencana kontribusi, serta surat rekomendasi.
Jika semua beres, peserta melenggang ke negeri maju dengan biaya ditanggung hingga tuntas. Tak perlu cemas soal dana, karena di belakangnya ada negara yang menghimpun pajak rakyat. Pemerintah dan masyarakat berharap, setelah selesai menimba ilmu, penerima beasiswa kembali dan berkontribusi mengurai berbagai persoalan bangsa sesuai bidang yang dikuasai.
Persoalan ini bukan semata-mata soal nasionalisme, melainkan juga karakter. Menurut Thomas Lickona, karakter terdiri atas tiga unsur: moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (tindakan moral). Orang berkarakter tahu diri, punya rasa malu, dan memiliki tekad membalas kebaikan orang lain atau bangsanya.
Sejarah mencatat, tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Ki Hajar Dewantara, Raden Hoesein Djajadiningrat, Djamaloedin bin Mohammad Rasad, Iwa Kusumasumantri, hingga B.J. Habibie menuntut ilmu sampai ke Eropa. Mereka memahami bahwa ilmu yang dicari kelak dipersembahkan untuk bangsanya. Dalam beberapa kasus, mereka berjuang dengan biaya sendiri. Di negeri asing, mereka menyaksikan kemajuan dan keteraturan. Apakah tergoda?
Almarhum B.J. Habibie bahkan pernah ditawari kenyamanan dan peluang kewarganegaraan di luar negeri. Namun ia memilih pulang. “I must go home. Negeriku membutuhkanku.” Itu bukan kalimat kosong. Itu soal karakter. Sebagai seorang muslim, ia memegang sabda Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah ia membalasnya. Jika tidak mampu membalas setimpal, minimal mengucapkan terima kasih dan mendoakan.” Sikap tidak kufur nikmat itulah yang menginspirasi.
Fenomena Tyas menyentil rasa nasionalisme dan karakter bangsa. Kebiasaan merendahkan negeri sendiri, baik dalam candaan maupun serius, kini mudah ditemukan. Di media sosial, misalnya, muncul guyonan tentang “perbaikan keturunan” saat menikah dengan orang asing. Iklan perumahan menampilkan model yang tak mencerminkan wajah umum orang Indonesia. Standar kecantikan digeser mendekati gambaran perempuan Korea atau Jepang. Ketampanan dan kecantikan disamakan dengan artis K-Pop. Bahkan citra orang alim dan baik kerap dilekatkan pada stereotip warga Timur Tengah.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Narasi semacam ini, sadar atau tidak, mengikis rasa nasionalisme. Karakter bangsa perlahan digerus. Belum lagi slogan “Kabur Aja Dulu” yang sempat viral.
Namun ada sisi lain yang patut dicatat. Generasi baby boomers, Generasi X, hingga Generasi Z ramai menyuarakan keberatan. Mereka tak rela bangsa dihina oleh warganya sendiri. Itu tanda nasionalisme belum padam. Banyak yang masih punya karakter dan harga diri.
Di negeri ini, orang-orang pintar yang mencintai bangsanya sebenarnya tak sedikit. Mereka ingin memperbaiki keadaan. Masalahnya klasik: biaya pendidikan mahal, fasilitas terbatas, dan ruang aktualisasi tak selalu tersedia meski kapasitas mumpuni. Mereka berserakan di seantero negri, celah-celah pedalaman, sesaknya warga kota, di kampus-kampus sampai pesantren. Ayo kita cari!


