Sabtu, 18 April 2026
Image Slider

Parenting Ideal, Modal Generasi Emas 2045

*Oleh Isfandiari Mahbub Djunaidi, Wakil Sekretaris Jendral PBNU.

TheJatim.com – Mari berhitung sederhana. Jika pada 2026 anak berumur 4, 5, atau 7 tahun, maka pada 2045 ia sudah berusia sekitar 20 tahun dan siap tampil sebagai generasi emas yang diharapkan gemilang. Perlu persiapan? Jelas. Bahkan wajib. Mental dan fisik harus ditempa dengan kuat. Untuk sampai ke sana, pola asuh dan perlakuan orang tua menjadi syarat vital. Karena itu, ilmu parenting perlu diseriusi.

Fakta di lapangan, banyak anak justru dibiasakan serba mudah, dimanjakan, dan rapuh secara mental maupun fisik. Di pusat perbelanjaan atau ruang publik, misalnya, tidak sedikit orang tua yang refleks memberi larangan: “jangan ini, jangan itu”, “awas ini, awas itu”. Padahal, si anak tidak sedang melakukan hal berbahaya. Sikap orang tua terasa berlebihan, terlalu cepat melarang dan memberi peringatan.

Kebiasaan melarang menjadi reaksi spontan. Anak berlari sedikit atau memanjat bidang landai langsung diperingatkan, “awas jatuh”. Bahkan ketika anak terjatuh dalam insiden kecil, respons orang tua sering kali berlebihan. Dalam beberapa kasus, anak menangis bukan karena sakitnya, melainkan karena reaksi panik orang tua yang membuatnya takut. Anak diperlakukan seperti benda rapuh yang mudah rusak.

Baca Juga:  KOLUMNIS

Hal lain yang juga sering terlihat, anak dibantu melakukan hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa ia lakukan sendiri. Membuka botol minum, membuka bungkus makanan, hingga hal kecil lainnya selalu diambil alih orang tua. Akibatnya, anak terbiasa bergantung. Peran pun terbalik: orang tua seperti pelayan, anak menjadi “majikan”. Hasilnya, kemandirian jauh dari harapan.

Jika melihat pola lama, anak justru dilatih membantu orang tua dalam batas wajar. Menyuguhkan minum, menyapu halaman, mengepel lantai, hingga membersihkan kamar mandi. Ada pula momen sederhana yang kini jarang ditemui, seperti anak memijat punggung ayah sepulang kerja atau membantu ibu membawa belanjaan. Semua itu merupakan bentuk pembelajaran tanggung jawab dan bakti.

Pada aspek mental, persoalannya tidak kalah kompleks. Di restoran, misalnya, jarang anak diberi tanggung jawab membayar tagihan. Anak tetap duduk, sibuk dengan gawai, sementara semua urusan diselesaikan orang tua. Anak tidak dilibatkan dalam aktivitas sosial sederhana. Padahal, seiring bertambahnya usia, tanggung jawab seharusnya ikut meningkat. Sayangnya, tidak banyak keluarga menerapkan hal ini.

Baca Juga:  Refleksi Sumpah Pemuda 2025: Menjaga Kemewahan Terakhir Seorang Pemuda

Pandangan para ahli memperkuat kondisi tersebut. Psikolog anak Laura Markham, penulis Peaceful Parent, Happy Kids, menyebut penggunaan kata “jangan” yang berlebihan dapat menutup inisiatif dan kreativitas anak. Larangan yang tidak tepat membuat anak terhambat dalam bertindak spontan. Secara psikologis, anak menjadi terkungkung, kurang berani, dan cenderung rapuh. Padahal, dalam situasi aman dan terukur, anak seharusnya diberi ruang untuk bereksplorasi.

Dampak dari pola asuh yang terlalu protektif ini terlihat dalam kehidupan sosial. Anak menjadi pasif, tidak berani menyapa, bahkan sekadar berjabat tangan pun harus disuruh. Kepercayaan diri rendah, keberanian minim, dan hal-hal sederhana terasa berat. Ironisnya, semua itu terbentuk dari pola asuh orang tua sendiri.

Padahal, nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting saat dewasa: kemandirian, penghargaan terhadap proses, tanggung jawab, kemampuan menentukan prioritas, hingga keterampilan memecahkan masalah. Termasuk juga pembentukan etika dan adab.

Baca Juga:  Baambrugge: Jejak Perjuangan GP Ansor dan Seruan Kemanusiaan

Di sisi lain, masih ada orang tua yang serius membangun karakter anak. Mereka aktif belajar parenting dan membentuk anak agar siap menghadapi kehidupan. Anak diajarkan bersyukur, berempati, dan tangguh. Bahkan dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi, tidak sedikit anak tumbuh dengan mental kuat, mandiri, dan mampu membantu perekonomian keluarga.

Maka, mari berhitung kembali. Generasi Emas 2045 tidak hadir begitu saja. Ia harus dipersiapkan sejak sekarang. Tantangan ke depan semakin kompleks. Karena itu, kebutuhan dasar yang harus dibangun antara lain daya juang, mental kuat, spontanitas, keberanian, penghargaan terhadap proses, pola pikir terbuka, nasionalisme, pemahaman agama, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Generasi ini juga harus dijauhkan dari pola hidup instan, konsumtif, dan hedonis, serta diarahkan menjadi pribadi produktif dengan hati yang baik. Semua itu tidak datang tiba-tiba, melainkan dibentuk dari kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Bisa? Tentu. Asal dimulai dari rumah, dari sekarang.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT