Thejatim.com – Penguatan kualitas pendidikan terus didorong melalui berbagai inovasi pembelajaran yang relevan dengan tantangan global. Dengan demikian, Tim pengabdian dari Program Studi S3 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang (UM) menggelar pelatihan bertajuk “Optimalisasi Pembelajaran Berbasis STEM melalui Pelatihan dan Pendampingan Project Based Learning (PjBL) bagi Guru” di SMA Surya Buana Malang, Kamis (12/03/2026).
Ketua tim pengabdian, Prof. Subanji, menegaskan bahwa integrasi pendekatan STEM dengan PjBL merupakan langkah strategis dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna. “Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga dilatih untuk memecahkan masalah nyata secara kreatif dan kolaboratif,” ujarnya.
Prof. Subanji memberikan perspektif penguatan melalui pendekatan pembelajaran yang lebih integratif. Ia memperkenalkan konsep pengembangan STEM yang diperluas melalui kerangka 3R (Religius, Reasoning, dan Research) sebagai fondasi dalam merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga karakter dan nilai.
Menurutnya, melalui pendekatan tersebut, pembelajaran tidak hanya mengajak siswa memahami fenomena secara ilmiah, tetapi juga mengaitkannya dengan nilai-nilai kehidupan, proses berpikir mendalam, serta kegiatan penelitian sederhana. Konsep ini kemudian dikembangkan dalam bentuk proyek integratif yang menggabungkan aspek sains, teknologi, rekayasa, dan matematika dengan dimensi sosial dan nilai-nilai kontekstual.
Prof. Subanji juga mencontohkan berbagai proyek integratif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti pengamatan sisa makanan, fenomena sosial di masyarakat, hingga praktik ekonomi sederhana. Melalui proyek-proyek tersebut, siswa didorong untuk mengamati, menganalisis, dan menarik kesimpulan berbasis data sekaligus merefleksikan makna yang lebih luas dari pembelajaran yang mereka lakukan.
“Pembelajaran harus relevan dengan kehidupan siswa dan zamannya. Guru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya membuat siswa memahami, tetapi juga berpikir, meneliti, dan mengambil makna,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, dua narasumber utama menyampaikan materi yang saling melengkapi. Pemateri kedua, Nur Qomaria memaparkan konsep dasar STEM dan PjBL, mulai dari prinsip, karakteristik, hingga tahapan penerapannya dalam pembelajaran.
Ia menekankan bahwa integrasi STEM mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi secara simultan,
“Pembelajaran berbasis STEM melalui PjBL memungkinkan siswa belajar dari permasalahan nyata, sehingga konsep yang dipelajari menjadi lebih bermakna dan aplikatif,” jelasnya.
Dosen Pendidikan IPA Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan tersebut menjelaskan, bahwa peserta juga diperkenalkan dengan berbagai contoh implementasi pembelajaran berbasis STEM-PjBL yang dapat diterapkan di kelas. Di antaranya proyek pembuatan es krim tanpa freezer, model jembatan hidrolik, hingga mesin pembuat popcorn sederhana.
” Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran inovatif dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya sederhana, sekaligus tetap mengintegrasikan konsep sains dan matematika secara mendalam,” terangnya.
Pelatihan dilaksanakan melalui sesi ceramah dan diskusi interaktif yang berlangsung dinamis. Peserta aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, serta mengeksplorasi berbagai kemungkinan penerapan pembelajaran berbasis STEM-PjBL sesuai dengan konteks pembelajaran di sekolah.
Tidak hanya berhenti pada pelatihan, kegiatan ini juga dilanjutkan dengan program pendampingan sebagai bentuk komitmen keberlanjutan. Pendampingan dirancang untuk mendukung guru dalam menyusun perangkat pembelajaran, mengimplementasikan proyek di kelas, serta melakukan refleksi dan evaluasi secara berkelanjutan.
Menurut Nur Qomaria, pendekatan ini menjadi nilai tambah karena tidak hanya memberikan pemahaman konseptual, tetapi juga memastikan implementasi pembelajaran dapat berjalan secara nyata dan konsisten. Kolaborasi antara tim pengabdian dan pihak sekolah diharapkan mampu memperkuat praktik pembelajaran inovatif di lingkungan sekolah.
Selain itu, penerapan STEM-PjBL juga sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional yang menekankan pembelajaran berpusat pada siswa, kontekstual, serta pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Pendekatan ini sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada aspek pendidikan berkualitas, inovasi, dan kesadaran terhadap isu lingkungan.
” Melalui pembelajaran berbasis proyek yang terintegrasi dengan STEM, siswa didorong untuk memahami dan merespons berbagai permasalahan nyata di sekitarnya. Hal ini menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi yang adaptif, inovatif, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan,” pungkasnya.
Perlu diketahui, Kegiatan ini diikuti oleh peserta yang terdiri atas guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya kolaboratif antara perguruan tinggi dan sekolah dalam mengembangkan pembelajaran yang kontekstual, inovatif, dan berorientasi pada keterampilan abad ke-21.
Sekedar informasi, bahwa tindak lanjut berupa pendampingan dalam pengabdian ini masih berlangsung hingga akhir bulan April mendatang. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, SMA Surya Buana Malang semakin memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Program ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi yang inspiratif serta dapat direplikasi di berbagai satuan pendidikan lainnya. (Dk)



