TheJatim.com – Video pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia viral di Instagram dan memantik perdebatan di kalangan aktivis mahasiswa Islam. Potongan video yang diunggah akun Inspiring Kanda itu menampilkan Bahlil saat memberi sambutan dalam forum kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Dalam video tersebut, Bahlil menyanggah pernyataan yang menyebut kader HMI tidak berproses dari bawah. Ia kemudian menyinggung sejarah organisasi dan menyebut Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai “skoci” yang dipersiapkan ketika HMI menghadapi ancaman pembubaran pada dekade 1960-an.
“Dalam sejarah, HMI pernah diganggu bahkan ingin dibubarkan. Maka disiapkan skoci. Skoci itulah PMII,” ujar Bahlil dalam video yang beredar luas. Ia mengaku memperoleh narasi tersebut saat mengikuti Latihan Kader II pada 2000 di Depok.
Pernyataan itu segera menuai respons. Sejumlah warganet memperdebatkan konteks sejarah yang disampaikan. Di platform X dan Instagram, potongan video tersebut dibagikan ulang ribuan kali, disertai komentar pro dan kontra. Kata kunci “PMII sekoci HMI” bahkan sempat ramai dalam percakapan digital komunitas mahasiswa.
Respons tegas datang dari Isfandiari Mahbub Djunaidi, putra tokoh PMII Mahbub Djunaidi yang kini menjabat Wakil Sekretaris Jenderal PBNU. Ia menyatakan, narasi PMII sebagai sekoci HMI tidak tepat secara historis.
Menurut Isfandiari, PMII lahir dari aspirasi kiai Nahdlatul Ulama agar mahasiswa Nahdliyin memiliki wadah intelektual sendiri. Ia menilai tidak ada indikator bahwa PMII disiapkan sebagai rencana cadangan jika HMI dibubarkan.
“Pak Mahbub justru dikenal ikut memperjuangkan agar HMI tidak dibubarkan,” ujarnya kepada The Jatim, Selasa (3/3/2026).
Mantan jurnalis itu berharap, pembahasan yang menggambarkan PMII sekoci HMI tidak perlu dilanjutkan. Sebab, sejarah PMII beda lagi, keinginan para Kyai NU agar Nahdliyyin intelektual muda ada wadahnya.
Penghobi motor gede (Moge) itu mengharapkan pembahasan sejarah HMI dan PMII yang tidak banyak manfaat malah membuat mandek. Isfan menyebut pembahasan dua organisasi mahasiswa Islam itu seharusnya justru lebih produktif saja.
“Saya harap, bagaimana ada celah sinergi agar akselerasi pemuda muslim lewat 2 wadah ini berjalan baik, bukannya selalu berlandaskan sentimen organisasi berdasarkan sejarah,” harapnya.
Isfan menekankan, hal terpenting dan diperlukan keduanya energi besar, pasti ada celah sinergi. Utamanya, pada senior HMI-PMII banyak yang manggung di pemerintahan Republik Indonesia.
“Mereka wajib manarik junior-juniornya agar bisa eksis. Pemuda intelektual Muslim sedang ditunggu kiprahnya, kembalikan citra Islam yang betul dari sisi duniawi juga akhirat,” tegasnya.
“Sekarang eranya kolaborasi, bukan kompetisi pasti anak-anak muda sekarang paham mana yang lebih menguntungkan mana yang hanya kuras energi tanpa hasil,” pungkasnya.
Secara historis, HMI berdiri pada 1947 di Yogyakarta, sementara PMII lahir pada 1960 di Surabaya dengan latar belakang dinamika politik nasional dan relasi organisasi mahasiswa Islam saat itu. Sejumlah literatur menyebut pendirian PMII berkaitan erat dengan semangat kader muda Nahdlatul Ulama untuk membangun kemandirian gerakan mahasiswa berbasis tradisi pesantren.
Pengamat gerakan mahasiswa dari beberapa kampus di Jawa Timur menilai polemik ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan narasi sejarah organisasi. Apalagi, kedua organisasi memiliki kontribusi panjang dalam dinamika sosial dan politik Indonesia.
Di tengah perdebatan, sejumlah tokoh muda mendorong agar diskursus sejarah tidak berhenti pada klaim masa lalu. Mereka mengingatkan bahwa tantangan generasi saat ini lebih kompleks, mulai dari krisis energi, ekonomi hijau, hingga transformasi digital. Kolaborasi dinilai lebih relevan dibanding membuka kembali sentimen lama.


