Sabtu, 2 Mei 2026
Image Slider

KH. Ridwan Abdullah

Karyanya Paling Populer Dibanding Kiai Lain

*Oleh Isfandiari Mahbub Djunaidi, Wakil Sekretaris Jendral PBNU.

TheJatim.com – Rumah-rumah klasik, termasuk satu dua bangunan berdesain art deco di kawasan Bubutan, Surabaya, bukan sekadar suguhan visual arsitektur. Kawasan ini menyimpan banyak kisah dan romantika ketika Nahdlatul Ulama merenda sejarah peradaban Islam Nusantara.

Beruntung, saya sempat sowan sekaligus berdiskusi intens soal kesantrian dengan sahabat dan guru, KH. Sholahuddin Azmi, yang akrab disapa Gus Udin. Di tempat itu pula, anak-anak muda “bandel” namun progresif berkumpul dalam wadah House of Bumi Miring, komunitas Nahdliyin belia binaan Gus Udin. Mengapa disebut “miring”? Hingga kini masih menjadi misteri bagi saya.

Dari semua perjumpaan itu, yang paling kuat terasa adalah momen mengenang kakek beliau, KH. Ridwan Abdullah. Ia merupakan salah satu perintis dan pendiri utama organisasi keagamaan terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama. KH. Ridwan dikenal sebagai kiai ternama yang gemar berkeliling menebar ilmu agama, pejuang kemerdekaan dalam Laskar Sabilillah, dan memiliki sisi unik sebagai seniman lukis. Dari tangannya lahir karya visual paling populer di kalangan umat Islam Nusantara, yakni logo Nahdlatul Ulama.

Baca Juga:  Mendaki Gunung, Meriset Pola Pikir dalam Islam

Banyak pihak mengakui, logo Nahdlatul Ulama merupakan salah satu lambang organisasi keagamaan paling legendaris di dunia. Penyebarannya masif dan mudah dikenali, dari bordir peci hingga terpampang besar di dinding pesantren dengan puluhan ribu santri. Logo itu hadir di sudut-sudut strategis kota besar hingga pelosok pedalaman. Dipajang dengan bangga oleh warga Nahdliyin struktural dari tingkat bawah hingga pimpinan, juga menghiasi rumah santri Nahdlatul Ulama kultural, bahkan santri abangan yang menghormati paham Ahlussunnah wal Jama’ah.

Inilah keistimewaan KH. Ridwan Abdullah. Karyanya paling kentara dibandingkan kiai-kiai lain. Logo Nahdlatul Ulama dirancang melalui imajinasi spiritual yang mendalam, ditempa lewat istikharah yang menajamkan rasa. Dari sanalah detail bentuk, makna, dan nilai filosofis logo tersebut diterjemahkan dan diwariskan hingga kini. KH. Ridwan adalah sosok jenius, dan itu sebuah fakta.

Dalam catatan sejarah, perannya sangat strategis. Ia lahir di Kampung Carikan Gang 1, kawasan Alun-Alun Contong, Bubutan, Surabaya, yang juga tercatat sebagai kantor pertama Nahdlatul Ulama. Ia berduet dengan KH. Wahab Hasbullah di Nahdlatul Wathan, menyusun strategi organisasi sekaligus aktif dalam perjuangan nasionalisme melalui Laskar Sabilillah demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga:  PANGGUNG ORANG-ORANG KASAR

KH. Ridwan juga dikenal intens “mengisi bensin” para santrinya. Ia tidak terpaku di kawasan Bubutan, melainkan berkeliling ke berbagai madrasah, sehingga masyarakat menjulukinya sebagai kiai keliling. Materi dakwahnya tidak melulu soal akhirat. Ia inovatif, memadukan nilai agama, pengetahuan umum, seni, dan yang paling dibutuhkan saat itu, penanaman nasionalisme. Dari sanalah lahir santri-santri mandiri, berwawasan kebangsaan, dan progresif. Sulit menafikan bahwa nilai patriotisme arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November juga tak lepas dari peran pendidikan kader yang ia tanamkan.

Lahir pada 1884 dan wafat pada 1962, KH. Ridwan Abdullah bukan tipe ulama-seniman yang egois. Dalam merancang lambang Nahdlatul Ulama, ia terbuka menerima masukan dari para kiai lain. Tali yang awalnya digambar kencang dan kokoh, kemudian disarankan menjadi lebih longgar sebagai simbol keluwesan Nahdlatul Ulama dalam bersosialisasi dan beradaptasi.

Bentuk bumi melambangkan tempat manusia berpijak dan kelak dikuburkan. Tali dengan 99 untaian merepresentasikan Asmaul Husna sekaligus ikatan persaudaraan umat Islam. Satu bintang besar melambangkan Rasulullah Muhammad SAW sebagai pembawa cahaya Islam. Empat bintang di atas melambangkan Khulafaur Rasyidin, sementara empat bintang di bawah mewakili empat mazhab fikih. Total sembilan bintang melambangkan para wali yang berjasa menyebarkan Islam di Nusantara.

Baca Juga:  Pleno PBNU, Langkah Menuju Persatuan dan Perbaikan Tata Kelola

Kaligrafi huruf ‘ain terbuka melambangkan keterbukaan ilmu dan sikap ulama terhadap kebenaran. Warna hijau melambangkan kesuburan, sedangkan putih melambangkan kesucian. Dua simpul vertikal dan horizontal menggambarkan hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarsesama. Tulisan Arab “Nahdlatul Ulama”, yang berarti kebangkitan para ulama, menjadi identitas utama organisasi.

Begitulah jejak dan laku hidup KH. Ridwan Abdullah. Generasi muda Nahdlatul Ulama patut sowan dan menapaktilasi kediaman beliau. Akan lebih afdal jika berdiskusi langsung dengan para penerus nasab dan binaannya di House of Bumi Miring. Siapa tahu, di sana lahir inspirasi atau perdebatan yang setimpal. Bukan begitu?

Al-Fatihah untuk KH. Ridwan Abdullah, sang seniman x-traordinary, muasis NU.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT