TheJatim.com – Malam di kawasan Wonokromo, Surabaya, mendadak ramai oleh deru knalpot motor dari berbagai jenis. Mulai skutik harian hingga motor kopling berkapasitas besar, seluruhnya berjejer rapi di halaman Warkop Bijak, Sabtu (9/5/2026) malam.
Sedikitnya 14 rider yang tergabung dalam komunitas Zero To Hero (ZTH) Surabaya berkumpul untuk memulai touring menuju Kediri. Tepat pukul 19.00 WIB, rombongan memulai perjalanan usai menggelar doa bersama demi keselamatan selama di perjalanan.
Bagi komunitas motor lain, touring mungkin hanya sebatas agenda akhir pekan. Namun bagi ZTH, perjalanan sejauh sekitar 100 kilometer itu punya makna yang jauh lebih dalam. Touring menjadi ruang untuk menjaga hubungan antarsesama anggota yang selama ini dipisahkan kesibukan pekerjaan, keluarga, hingga domisili yang berbeda kota.
Perjalanan menuju Kediri ditempuh dengan ritme santai dan mengutamakan kebersamaan. Tidak ada rider yang ditinggalkan. Sesekali rombongan berhenti untuk memastikan seluruh anggota tetap aman dan nyaman di perjalanan.
Sekitar pukul 22.00 WIB, rombongan akhirnya tiba di Kota Kediri dalam kondisi lengkap. Kehangatan langsung terasa ketika komunitas Kediri Rider Club (KRC) menyambut kedatangan mereka di Warkop Brader. Suasana cair penuh canda tawa pun mengisi malam para biker lintas kota tersebut.
Di tengah budaya touring yang kini semakin berkembang di Jawa Timur, hubungan antarkomunitas seperti ini dinilai menjadi salah satu cara menjaga solidaritas sekaligus menghapus stigma negatif terhadap komunitas motor. Tidak sedikit komunitas kini lebih aktif dalam kegiatan sosial, wisata religi, hingga family gathering dibanding sekadar konvoi di jalan raya.
Ketua ZTH, Steven Septianus Lee, mengatakan touring rutin menjadi agenda penting komunitas yang berdiri sejak 2 Februari 2011 tersebut. Menurutnya, touring bukan sekadar pelarian dari rutinitas harian, melainkan cara sederhana untuk menjaga rasa persaudaraan.
“Touring ini bukan hanya melepas penat, tapi menjaga silaturahmi dengan member kami, Mas Rico, yang sekarang tinggal di Kediri. Sekalian juga wisata religi,” ujar Steven saat dikonfirmasi, Jumat (15/5/2026).
Usai bersilaturahmi dengan komunitas setempat, agenda dilanjutkan dengan kunjungan religi ke kawasan Puhsarang, Kabupaten Kediri. Kawasan yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata rohani di Jawa Timur itu menjadi titik refleksi sebelum rombongan beristirahat di wilayah Mojoroto.
Keesokan harinya, perjalanan pulang menuju Surabaya tidak langsung dilakukan. Para biker terlebih dahulu singgah ke kawasan Wonosalam, Jombang, yang selama ini dikenal sebagai sentra durian lokal unggulan Jawa Timur.
Di sana, rombongan menikmati durian khas Wonosalam sambil bersantai di kediaman salah satu anggota ZTH bernama Tio. Momen sederhana itu justru menjadi bagian paling hangat dalam perjalanan mereka.
“Puji Tuhan seluruh agenda berjalan lancar dan positif. Kami juga mampir ke rumah salah satu member di Jombang,” kata Steven.
Selama lebih dari 15 tahun berdiri, ZTH terus mengalami perubahan. Anggotanya kini tidak lagi didominasi anak muda lajang. Banyak yang telah berkeluarga bahkan berpindah kota karena pekerjaan. Namun kondisi tersebut tidak membuat ikatan komunitas melemah.
Salah satu founder ZTH, Christyananda, menegaskan bahwa komunitas yang mereka bangun sejak 2011 bukan sekadar tempat berkumpul sesama pecinta motor, melainkan keluarga besar yang terus dijaga hingga sekarang.
“Harapan kami ZTH tetap solid dan saling merangkul. Sekarang banyak yang sudah punya keluarga dan pindah kota, tapi hubungan tetap harus terjaga,” ujar pria yang akrab disapa Nanda itu.
Menurutnya, konsep komunitas motor juga mulai berubah. Jika dahulu touring identik dengan kebebasan anak muda, kini ZTH mulai mengembangkan agenda family trip dengan melibatkan pasangan hingga anak-anak anggota.
Dalam waktu dekat, ZTH telah menyiapkan agenda touring berikutnya menuju Tulungagung sekaligus menjajal Jalur Lintas Selatan (JLS) yang kini menjadi favorit rider di Jawa Timur karena menawarkan panorama pesisir selatan yang eksotis.
Sementara untuk agenda jangka panjang, komunitas tersebut tengah mematangkan rencana perjalanan lintas pulau menuju Bali, Lombok, hingga Dieng.
“Perjalanan bukan lagi soal siapa paling cepat di jalan. Tetapi tentang siapa yang tetap tinggal dan saling menjaga setelah belasan tahun bersama di atas aspal,” pungkasnya.


