TheJatim.com – Pengurus Koordinator Cabang PMII Jawa Timur mengecam keras eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang dinilai semakin memperparah krisis kemanusiaan di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Bidang Politik, Kebijakan, dan Ketahanan Regional PKC PMII Jawa Timur, Aqyas Sholeh. Ia menilai konflik yang terjadi tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik akibat serangan militer, tetapi juga merusak nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini menjadi fondasi peradaban dunia.
Menurut Aqyas, setiap ledakan bom di kota-kota Iran seperti Teheran dan Isfahan bukan sekadar penghancuran target strategis militer. Serangan tersebut juga meninggalkan trauma bagi masyarakat sipil, terutama anak-anak, serta mengancam masa depan generasi yang tidak memiliki keterlibatan dalam konflik geopolitik.
“Perang bukan sekadar manuver militer atau strategi geopolitik. Perang adalah penghancuran kehidupan manusia, masa depan keluarga, dan harapan masyarakat sipil yang tidak memiliki suara dalam keputusan politik global,” ujarnya dalam pernyataannya usai menggelar aksi di depan Komjen Amerika Serikat, Senin (9/3/2026).
Dinilai Melanggar Hukum Internasional
PMII Jawa Timur juga menilai tindakan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya berpotensi melanggar prinsip hukum internasional, terutama terkait larangan penggunaan kekuatan terhadap kedaulatan negara lain.
Organisasi mahasiswa tersebut merujuk pada prinsip yang tertuang dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang melarang penggunaan kekuatan militer terhadap negara lain tanpa dasar hukum internasional yang jelas.
Menurut Aqyas, praktik serangan pre-emptive atau pembunuhan bertarget yang dilakukan di wilayah kedaulatan negara lain berpotensi menjadi preseden berbahaya bagi stabilitas global.
“Dunia tidak boleh membiarkan situasi di mana sebuah negara dapat bertindak sebagai hakim, juri, sekaligus eksekutor di wilayah bangsa lain,” tegasnya.
Sejumlah lembaga kemanusiaan internasional sebelumnya juga memperingatkan bahwa konflik bersenjata di Timur Tengah kerap menimbulkan dampak kemanusiaan besar, termasuk korban sipil, pengungsian massal, hingga kerusakan infrastruktur vital.
Desak Sikap Tegas Pemerintah Indonesia
Dalam pernyataannya, PMII Jawa Timur meminta pemerintah Indonesia mengambil posisi tegas dalam merespons konflik internasional yang berdampak pada nilai kemanusiaan.
Mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menunjukkan sikap yang berpihak pada prinsip perdamaian dunia serta perlindungan hak asasi manusia.
Selain itu, organisasi mahasiswa tersebut juga meminta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan sikap politik daerah terkait konflik tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap korban sipil.
Menurut PMII Jawa Timur, Indonesia sebagai negara yang aktif dalam diplomasi perdamaian internasional memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Seruan Solidaritas dan Boikot Produk
PMII Jawa Timur juga menyerukan solidaritas masyarakat sipil di Jawa Timur untuk menyuarakan kepedulian terhadap krisis kemanusiaan di Timur Tengah.
Organisasi intelektual Nahdliyyin muda tersebut mengajak aktivis hak asasi manusia, organisasi masyarakat, serta umat Islam untuk menyuarakan dukungan terhadap korban konflik melalui aksi damai.
Selain itu, PMII Jawa Timur juga mendorong gerakan boikot terhadap produk-produk yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel sebagai bentuk protes moral terhadap kebijakan militer kedua negara tersebut.
Aqyas menegaskan bahwa sikap tersebut merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan sekaligus kritik terhadap praktik politik global yang dinilai mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
“Ketika kekuatan militer ditempatkan di atas nilai kemanusiaan, maka dunia sedang menghadapi krisis moral yang serius,” ujarnya.
“Jika tuntutan kami tidak digubris. Maka, kami janji akan membuat gerakan yang lebih besar dan kami akan membakar gedung Komjen Amerika Serikat, ” pungkasnya.


