Sabtu, 18 April 2026
Image Slider

BEM Hang Tuah Kritik Ketidakadilan Maritim dan Kerusakan Lingkungan Nasional

TheJatim.com – Isu krisis lingkungan dan ketimpangan pengelolaan sumber daya maritim kembali mengemuka. Kali ini, suara kritis datang dari kalangan mahasiswa dalam forum Panggung Pemikir 2026 yang digelar di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah, Selasa (7/4/2026) siang.

Forum yang diinisiasi Kementerian Luar Negeri BEM Universitas Hang Tuah itu mengangkat tema besar kerusakan lingkungan dan pencemaran kemaritiman di Indonesia. Tema ini dinilai relevan di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem laut, mulai dari pencemaran limbah, eksploitasi wilayah pesisir, hingga ketimpangan akses sumber daya bagi masyarakat lokal.

Presiden Mahasiswa Universitas Hang Tuah, Raihan Asfi Priadi, dalam forum tersebut menyampaikan kritik tajam. Ia menilai persoalan lingkungan saat ini tidak bisa lagi dilihat semata sebagai isu ekologis, melainkan telah menjelma menjadi persoalan keadilan sosial.

Baca Juga:  Cak YeBe Minta Pembentukan Kopkel Merah Putih Dijalankan Secara Transparan dan Selektif

Menurutnya, kelompok masyarakat pesisir menjadi pihak yang paling merasakan dampak kerusakan lingkungan. Di sisi lain, keuntungan ekonomi justru lebih banyak dinikmati oleh pihak-pihak dengan akses dan kekuatan modal.

“Kerusakan lingkungan bukan sekadar soal alam yang rusak. Ini tentang siapa yang terdampak dan siapa yang diuntungkan. Ketika nelayan kehilangan ruang hidup, di situlah ketidakadilan terjadi,” ujarnya, dalam keterangan pers yang diterima The Jatim, Rabu (8/4/2026).

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tingkat pencemaran laut di Indonesia masih tergolong tinggi, terutama akibat limbah plastik dan aktivitas industri di kawasan pesisir. Indonesia bahkan masih masuk dalam daftar penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia, dengan estimasi jutaan ton sampah mengalir ke laut setiap tahunnya.

Baca Juga:  Cak Yebe: Jangan Nodai Kemerdekaan dengan Bendera Fiksi

Kondisi tersebut mempertegas apa yang disampaikan Raihan, bahwa krisis lingkungan memiliki dampak langsung terhadap keberlangsungan hidup masyarakat kecil, khususnya nelayan tradisional yang bergantung pada ekosistem laut yang sehat.

Dalam forum itu, ia juga menekankan peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya bergerak di ruang akademik, tetapi harus terlibat langsung dalam advokasi sosial dan lingkungan.

“Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus turun, memahami, dan berpihak. Diam berarti membiarkan kerusakan terus terjadi,” tegasnya.

Pernyataan tersebut selaras dengan konsep blue justice yang turut dibahas dalam forum. Konsep ini menekankan bahwa pembangunan ekonomi berbasis kelautan harus berjalan seimbang, tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan maupun hak-hak masyarakat pesisir.

Baca Juga:  Aktivis 98 Jawa Timur Serukan Demo Bermartabat Dengan Sepuluh Tuntutan

Sejumlah narasumber dalam diskusi juga menyoroti lemahnya perlindungan terhadap masyarakat pesisir di tengah masifnya proyek pembangunan dan eksploitasi sumber daya laut. Minimnya regulasi yang berpihak pada masyarakat lokal dinilai memperparah ketimpangan yang sudah ada.

Forum Panggung Pemikir 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai ruang diskusi semata. Raihan menegaskan pentingnya tindak lanjut berupa gerakan konkret mahasiswa dalam merespons krisis lingkungan dan ketidakadilan sosial yang terus terjadi.

“Diskusi harus berlanjut menjadi aksi. Mahasiswa harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di ruang kelas,” pungkasnya.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT