Kamis, 30 April 2026
Image Slider

BEM Hang Tuah Gelar “Panggung Pemikir” Bahas Krisis Lingkungan

TheJatim.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Hang Tuah kembali menggelar forum intelektual bertajuk Panggung Pemikir 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Kedokteran, Selasa (7/4/2026), itu menjadi ruang diskusi terbuka bagi mahasiswa untuk membedah persoalan krisis lingkungan dan kemaritiman di Indonesia.

Mengusung tema besar kerusakan dan pencemaran lingkungan serta kemaritiman, forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan aktivis lingkungan dan akademisi. Di antaranya Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Timur, Pradipta Indra Ariono, serta dosen Fakultas Hukum Universitas Hang Tuah, Ilham Dwi Rafiqi. Diskusi dipandu Wakil Presiden Mahasiswa Mochamad Dewa Surya sebagai pemantik.

Ketua pelaksana kegiatan, Rangga Kadek Ar-rozaaq, menyampaikan bahwa Panggung Pemikir 2026 merupakan bagian dari komitmen BEM dalam menghadirkan ruang dialog kritis yang tidak hanya berhenti pada wacana.

“Mahasiswa tidak cukup hanya memahami persoalan. Harus ada gagasan dan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan lingkungan dan kemaritiman,” ujarnya dalam keterangan resminya yang diterima The Jatim, Rabu (8/4/2026).

Baca Juga:  Hari Sumpah Pemuda, 68 Anak Muda Surabaya Dapat Penghargaan

Dalam sambutannya, Pembina BEM Universitas Hang Tuah, apt. Farizah Izazi, menekankan bahwa kampus memiliki tanggung jawab moral dalam membentuk karakter mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap persoalan sosial.

Menurutnya, isu lingkungan saat ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika pembangunan yang kerap mengabaikan aspek keberlanjutan. Karena itu, mahasiswa dituntut hadir sebagai bagian dari solusi.

Senada dengan itu, Presiden Mahasiswa Universitas Hang Tuah, Raihan Asfi Priadi, menegaskan bahwa isu lingkungan dan kemaritiman merupakan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda.

“Mahasiswa harus kembali pada perannya sebagai agent of change, mampu berpikir kritis, bersuara, dan terlibat langsung dalam merespons persoalan sosial,” tegasnya.

Baca Juga:  Taman Bungkul Jadi Pusat Peringatan Hari Hak Tahu Surabaya

Dalam sesi pemaparan, Pradipta Indra Ariono mengungkap bahwa krisis ekologis di Indonesia semakin mengkhawatirkan akibat eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Ia menyebut dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kehidupan masyarakat, terutama yang bergantung langsung pada alam.

Sejumlah data menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait pencemaran laut. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat peningkatan volume sampah plastik di perairan, sementara wilayah pesisir terus tertekan oleh aktivitas industri dan alih fungsi lahan.

“Ketika lingkungan rusak, yang paling terdampak adalah masyarakat kecil. Ini bukan sekadar isu ekologi, tetapi juga kemanusiaan,” ujarnya.

Sementara itu, Ilham Dwi Rafiqi memperkenalkan konsep blue justice sebagai pendekatan pembangunan maritim yang berkeadilan. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi di sektor kelautan tidak boleh mengorbankan hak masyarakat pesisir dan nelayan.

Baca Juga:  DPRD Surabaya Tegaskan Pengusaha RHU Wajib Taat Aturan saat Ramadan

“Pembangunan harus memastikan akses yang adil terhadap sumber daya laut serta perlindungan bagi kelompok rentan,” jelasnya.

Dalam sesi pemantik, Mochamad Dewa Surya mengajak peserta untuk merefleksikan posisi mahasiswa di tengah krisis yang terjadi. Ia mempertanyakan apakah mahasiswa masih mampu mempertahankan peran kritisnya atau justru mulai terjebak dalam zona nyaman.

Diskusi berlangsung dinamis. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pandangan terkait persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran laut hingga ketimpangan akses sumber daya di wilayah pesisir.

Secara keseluruhan, Panggung Pemikir 2026 tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan. BEM Universitas Hang Tuah berharap forum ini mampu mendorong lahirnya gerakan mahasiswa yang lebih konkret dalam merespons krisis lingkungan dan ketidakadilan maritim di Indonesia.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT