TheJatim.com – Momentum peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 dimaknai lebih dari sekadar seremoni. Presiden Mahasiswa Universitas Hang Tuah, Raihan Asfi Priadi, menegaskan bahwa dua peringatan tersebut memiliki benang merah kuat yang tak bisa dipisahkan: kualitas pendidikan dan kesejahteraan pekerja.
Dalam pandangan yang disampaikan di Surabaya, Raihan menilai masih banyak pihak melihat Hari Buruh dan Hardiknas sebagai agenda terpisah. Padahal, menurutnya, keduanya merupakan refleksi utuh tentang masa depan sumber daya manusia Indonesia. Pendidikan yang timpang, kata dia, berujung pada ketimpangan di dunia kerja.
“Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional adalah dua sisi dari koin yang sama. Ketika akses pendidikan tidak merata, maka ketimpangan di dunia kerja akan terus berulang,” ujarnya.
Ketimpangan Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Raihan menyoroti sejumlah persoalan struktural yang hingga kini belum terselesaikan. Mulai dari akses pendidikan berkualitas yang belum merata, ketimpangan keterampilan tenaga kerja, hingga lemahnya perlindungan bagi pekerja sektor informal.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja Indonesia masih didominasi lulusan pendidikan menengah ke bawah. Kondisi ini berdampak langsung pada produktivitas dan daya saing tenaga kerja di tengah perubahan industri yang semakin cepat.
Di sisi lain, sektor informal yang menyerap lebih dari separuh tenaga kerja nasional masih menghadapi persoalan klasik: minim perlindungan, upah tidak stabil, dan akses pelatihan yang terbatas. Raihan menyebut situasi ini sebagai sinyal bahwa sistem pendidikan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan dunia kerja.
Pendidikan Jadi Kunci Mobilitas Sosial
Sejumlah kajian akademik menegaskan bahwa pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus membuka peluang mobilitas sosial. Pendidikan yang inklusif dan adaptif dinilai mampu menciptakan tenaga kerja yang siap menghadapi disrupsi industri.
Raihan menilai, tanpa pembenahan serius di sektor pendidikan, Indonesia berisiko menghadapi bonus demografi yang tidak optimal. Alih-alih menjadi kekuatan ekonomi, jumlah usia produktif yang besar justru bisa menjadi beban jika tidak diimbangi kualitas.
Peran Mahasiswa dan Dorongan Sinergi
Dalam konteks ini, mahasiswa disebut memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar mengejar capaian akademik. Raihan menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani isu pendidikan dan ketenagakerjaan.
“Mahasiswa harus hadir di tengah realitas sosial. Tidak cukup hanya memahami teori, tapi juga harus terlibat dalam advokasi dan solusi nyata,” tegasnya.
Ia juga mendorong adanya sinergi konkret antara pemerintah, institusi pendidikan, dan dunia industri. Kolaborasi ini dinilai penting untuk menciptakan sistem pendidikan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja, sekaligus memastikan perlindungan dan kesejahteraan pekerja.
Momentum Refleksi, Bukan Sekadar Seremoni
Peringatan Hari Buruh dan Hardiknas 2026, menurut Raihan, harus menjadi titik refleksi bersama. Bukan hanya agenda tahunan, tetapi momentum untuk mendorong perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada keadilan sosial.
Jika pendidikan mampu diperbaiki secara menyeluruh, maka dampaknya tidak hanya dirasakan di ruang kelas, tetapi juga di pabrik, kantor, hingga sektor informal. Dengan kata lain, masa depan pekerja Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan hari ini.


