TheJatim.com – Momentum peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 dimanfaatkan mahasiswa di Kota Pahlawan untuk mengangkat persoalan klasik yang belum juga tuntas yakni ketimpangan antara tingkat pendidikan dan kesejahteraan pekerja. Aliansi BEM Surabaya bersama BEM SI Jawa Timur menggelar diskusi bertajuk “Ijazah Tinggi, Upah Rendah: Evaluasi Sistem Pendidikan dan Ketenagakerjaan” di Wico Telkom University Surabaya, Kamis (30/4/2026).
Diskusi yang diikuti sekitar 50 mahasiswa lintas kampus ini berlangsung tertib, namun sarat kritik. Forum ini bukan sekadar agenda seremonial menjelang May Day, tetapi ruang konsolidasi gagasan mahasiswa untuk membaca ulang hubungan antara dunia pendidikan dan realitas pasar kerja yang semakin kompetitif.
Sekretaris Jenderal Aliansi BEM Surabaya, Vasco, menegaskan bahwa mahasiswa tidak bisa mengambil jarak dari isu publik, terutama yang berkaitan langsung dengan nasib buruh. Ia menyebut, peran mahasiswa sebagai kontrol sosial harus terus dijaga agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
“Mahasiswa tidak boleh absen. Konsistensi gerakan penting agar suara masyarakat tetap tersampaikan secara konstruktif,” ujarnya.
Sorotan utama diskusi mengarah pada fenomena meningkatnya lulusan perguruan tinggi yang tidak sebanding dengan kualitas pekerjaan dan tingkat upah yang diterima. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka dari lulusan diploma dan sarjana masih cukup signifikan, sementara sebagian lainnya bekerja di sektor informal dengan pendapatan minim.
Koordinator Wilayah BEM SI Jawa Timur, Muhammad Aqomaddin, menilai persoalan ini tidak bisa dilihat secara parsial. Menurutnya, sistem pendidikan dan ketenagakerjaan adalah dua sektor yang saling berkaitan dan harus dibenahi secara bersamaan.
“May Day yang berdekatan dengan Hari Pendidikan Nasional menjadi momen refleksi. Kita harus melihat ini sebagai satu kesatuan masalah yang perlu direspons bersama,” katanya.
Dari sisi strategi gerakan, Koordinator Media BEM SI Jawa Timur, Aab, mengingatkan pentingnya penguatan narasi di ruang digital. Ia menilai, tanpa pengelolaan komunikasi yang tepat, isu-isu krusial seperti ketimpangan upah dan kualitas pendidikan berpotensi tenggelam di tengah arus informasi yang padat.
“Media bukan sekadar alat publikasi, tapi ruang membangun kesadaran kolektif. Gerakan mahasiswa harus mampu memanfaatkan ini,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Presiden Mahasiswa Telkom University Surabaya, Adekanz Maulana, menekankan bahwa May Day harus dimaknai sebagai momentum kolaborasi antara mahasiswa dan buruh. Ia menyebut, perjuangan keadilan sosial tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
“Ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ada tanggung jawab moral bagi mahasiswa untuk terlibat dalam isu buruh dan ketenagakerjaan,” ucapnya.
Diskusi ini sekaligus menjadi penanda bahwa gerakan mahasiswa di Surabaya mulai mengarah pada pendekatan yang lebih dialogis dan berbasis data. Tidak lagi sekadar aksi turun ke jalan, tetapi juga memperkuat argumen melalui forum diskusi yang terukur.
Ke depan, mahasiswa berharap ada sinergi nyata antara dunia pendidikan, pemerintah, dan sektor industri untuk menciptakan ekosistem kerja yang lebih adil. Tanpa itu, fenomena “ijazah tinggi, upah rendah” berpotensi terus berulang dan menjadi beban struktural bagi generasi muda.


