Minggu, Juli 21, 2024

Hari Santri 2021, PDI Perjuangan Surabaya Diskusikan Santri, Pemerintah dan Parpol

TheJatim. Surabaya – Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, gelar diskusi virtual dalam rangka memeringati Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2021. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, Ketua PCNU Kota Surabaya Muhibbin Zuhri dan akademisi Universitas Airlangga (Unair) Listyono Santoso juga ikut dalam forum tersebut secara online.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Adi Sutarwijono menyampaikan rasa syukur karena HSN tahun ini jatuh ketika pandemi Covid-19 sudah dalam posisi membaik. “Senin (18/10) kemarin pemerintah pusat sudah memutuskan bahwa Surabaya sudah masuk PPKM Level 1 sehingga program pemulihan ekonomi bisa dijalankan dengan baik oleh wali kota dan wakil wali kota,” ujarnya, Rabu malam (20/10/2021).

Adi secara khusus ingin mendorong terjadinya sinergitas antara PDI Perjuangan dengan santri. Sebab, kader banteng dan santri memiliki ideologi yang sama. Santri mewarisi karakter seorang pejuang. “PDI Perjuangan merupakan wadah perjaungan masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PC NU Kota Surabaya Muhibbin Zuhri menilai dalam penanganan pandemi santri juga ikut mengambil peran. Mulai memberikan bantuan kepada warga terdampak hingga membantu memulihkan ekonomi dari bawah. “Pemerintah kota juga masif melakukan intervensi sehingga di bawah kepemimpinan pak Eri ini PPKM di Surabaya bisa menjadi level 1,” ucapnya.

Baca Juga:  5 Kepala Daerah ini paling Berpengaruh di Jawa Timur

Menurut Muhibbin, definisi santri tidak hanya sebatas orang yang belajar di pesantren. Santi merupakan warga yang taat menjalankan agama. Juga, memiliki komitmen yang kuat dalam menjaga kedaulatan bangsa. “Karena itu, santri bisa siapa saja. Yang jelas, santri harus memiliki wawasan kebangsaan yang kuat untuk menjaga keutuhan bangsa,” jelas ulama yang juga dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) itu.

Akademisi Unair Listyono menceritakan bagaimana perjuangan para santri dan ulama dalam catatan sejarah. Dimulai dari perjuangan kerajaan islam yang berjuang mengusir Portugis dari Selat Malaka, sampai pergerakan organisasi massa (Ormas) islam yang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Mulai Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, sampai Sarekat Islam.

Baca Juga:  Realisasi Program "Dandan Omah" Capai 1.200 Unit, Pemkot Surabaya Optimis Tuntas November 2023

Jejak santri dalam sejarahnya sudah terbukti. Nah, di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, santri diberi penghargaan yang luar biasa. “Dengan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, itu merupakan apresiasi yang luar biasa,” kata Listiyono.

Sebab, lanjut dia, peristiwa 10 Nopember 1945 belum tentu terjadi jika tidak ada peristiwa 22 Oktober di tahun yang sama. Tidak hanya penetapan hari santri, Presiden Joko Widodo juga memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap pesantren dengan mengesahkan UU nomor 18 tahun 2019 yang ditindaklanjuti dengan peraturan presiden (Perpres) nomor 82 tahun 2021 tentang penyelenggaraan pesantren. “Negara memberikan apresiasi bahwa negara ini tidak bisa berdiri tanpa peran para santri,” papar mantan aktivis PMII itu.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menyebut perjuangan santri tidak bisa dilupakan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Tepat tanggal 22 Oktober 76 tahun yang lalu, tentara sekutu kembali ke tanah air untuk merebut kembali kemerdekaan yang sudah diproklamasikan presiden Soekarno 17 Agustus 1945. “Di situlah perjuangan santri tercatat ketika para ulama menyuarakan resolusi jihad,” terangnya.

Baca Juga:  Jangan Lewatkan! Festival Musik Surabaya Hebat, Ada 'Ndarboy Genk' yang Siap Bikin Ambyar

Para ulama bersama barisan santri se-Jawa dan Madura berjuang mempertahankan kemerdekaan yang sudah berlandaskan pancasila. “Dan ini sama persis dengan ideologi PDI Perjuangan. Selaras dengan PDI Perjuangan yang juga berjuang mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia hari ini,” paparnya.

Kata Eri, santri selalu hadir ketika masa krisis. Dulu, ketika terjadi krisis kemerdekaan, santri berada di garda paling depan. Sekarang, ketika negara sedang mengalami krisis kesehatan dan ekonomi akibat pandemi Covid-19, santri juga hadir membantu masyarakat. “Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, mari berjuang bersama-sama, PDI Perjuangan harus bersinergi dengan kaum santri untuk ikut andil menghadapi pandemi Covid-19. Berjuang bersama agar Surabaya bisa menjadi baldatun toyyibatun wa robbun ghofur,” terangnya.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Populer
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terkait
ADVERTISEMENT