TheJatim.com – BEM Nusantara Jawa Timur menggelar Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) pada Kamis, 23 April 2026 sebagai forum penting untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menyusun arah baru gerakan mahasiswa yang lebih konkret dan berpihak kepada masyarakat.
Rapimda ini bukan sekadar agenda tahunan yang bersifat seremonial. Forum tersebut menjadi titik temu antar pimpinan mahasiswa untuk membedah capaian, mengkritisi kekurangan, dan memastikan gerakan mahasiswa tetap relevan di tengah berbagai persoalan sosial yang terus berkembang.
Koordinator BEM Nusantara Jawa Timur, Deni Oktaviano Pratama, menegaskan bahwa Rapimda harus dimaknai sebagai ruang refleksi bersama, bukan hanya formalitas organisasi.
Menurutnya, seluruh elemen mahasiswa perlu berani mengakui kelemahan internal, memperbaiki kesalahan yang terjadi, serta memperkuat capaian yang telah diraih selama ini.
“Rapimda bukan hanya agenda rutin. Ini momentum evaluasi dan refleksi atas perjuangan yang telah kita lalui. Kita harus jujur melihat kekurangan, lalu memperbaikinya bersama,” tegas Deni.
Ia menjelaskan, forum ini juga menjadi wadah untuk merumuskan program kerja yang tidak berhenti pada tataran administratif, tetapi benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Dalam pandangannya, mahasiswa tidak boleh terjebak pada agenda simbolik kampus semata. Gerakan mahasiswa harus hadir di tengah persoalan rakyat, mulai dari isu pendidikan, pengangguran, ketimpangan sosial, hingga problem ketenagakerjaan yang semakin kompleks.
Karena itu, setiap program yang dirancang dalam Rapimda harus memiliki nilai manfaat nyata, terukur, dan menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
Selain menyusun program kerja, Rapimda juga menjadi forum penentu arah gerakan organisasi ke depan. Deni menekankan bahwa setiap langkah dan kebijakan harus memiliki visi yang jelas, berpihak kepada rakyat, serta menjunjung tinggi nilai keadilan sosial.
Salah satu fokus utama dalam konsolidasi kali ini adalah persiapan menuju peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang diperingati setiap 1 Mei.
Menurut Deni, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk terus membersamai perjuangan kaum buruh, terutama dalam memperjuangkan hak-hak pekerja, perlindungan tenaga kerja, hingga penolakan terhadap kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat kecil.
Ia menilai, gerakan mahasiswa dan gerakan buruh memiliki irisan perjuangan yang sama, yakni melawan ketimpangan dan memperjuangkan keadilan sosial.
“Konsolidasi menuju May Day menjadi penting agar solidaritas antara mahasiswa dan buruh semakin kuat. Kehadiran mahasiswa harus nyata, bukan hanya dalam narasi, tetapi juga dalam perjuangan bersama rakyat,” ujarnya.
Secara nasional, isu ketenagakerjaan memang masih menjadi perhatian serius. Persoalan upah layak, gelombang PHK, sistem kerja kontrak, hingga jaminan sosial pekerja masih menjadi tuntutan yang terus digaungkan oleh serikat buruh di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur yang dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia.
Karena itu, BEM Nusantara Jawa Timur menilai momentum May Day bukan hanya agenda tahunan, tetapi ruang politik sosial yang harus dikawal secara serius oleh gerakan mahasiswa.
Rapimda ini turut dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur yang diwakili Sekretaris Dinas Pendidikan, hingga perwakilan Universitas Islam Negeri Madura melalui Kepala Biro Administrasi Umum, Akademik, dan Kemahasiswaan.
Hadir pula Koordinator Aliansi BEM Kabupaten Pamekasan bersama jajaran Ketua BEM se-Kabupaten Pamekasan, serta pengurus BEM Nusantara Jawa Timur dari berbagai kampus.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperkuat pesan bahwa gerakan mahasiswa membutuhkan kolaborasi luas, tidak hanya antar kampus, tetapi juga dengan pemerintah, akademisi, dan elemen masyarakat sipil.
Forum ini diharapkan menjadi titik awal penguatan konsolidasi internal BEM Nusantara Jawa Timur agar gerakan mahasiswa tidak kehilangan arah, tetap kritis, dan mampu menjadi kekuatan sosial yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Di tengah banyaknya tantangan sosial hari ini, mahasiswa dituntut tidak hanya lantang bersuara, tetapi juga mampu menawarkan solusi yang rasional, terukur, dan berpihak kepada kepentingan publik.
Rapimda BEM Nusantara Jawa Timur 2026 menjadi penanda bahwa gerakan mahasiswa masih memiliki ruang besar untuk hadir sebagai penjaga nurani publik, terutama saat keberpihakan kepada rakyat sering kali membutuhkan suara yang lebih keras.


