Jumat, 8 Mei 2026
Image Slider

Sarasehan Kebangsaan Aliansi BEM Surabaya Dorong Partisipasi Mahasiswa Bangun Demokrasi

TheJatim.com – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Surabaya (ABS) menggelar Sarasehan Ngabuburit Kebangsaan dan buka puasa bersama di Universitas Wijaya Putra Surabaya, Rabu (11/3/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog mahasiswa lintas kampus untuk memperkuat nilai kebangsaan, demokrasi, serta partisipasi generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.

Kegiatan yang berlangsung di kawasan Benowo, Surabaya Barat tersebut dihadiri perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di Kota Pahlawan. Forum ini juga menjadi ajang silaturahmi sekaligus refleksi kebangsaan di bulan suci Ramadhan.

Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Hymne Wijaya Putra, serta Mars Mahasiswa. Suasana berlangsung khidmat dan penuh semangat nasionalisme, mencerminkan komitmen mahasiswa dalam menjaga nilai kebangsaan di tengah dinamika sosial dan politik.

Presiden Mahasiswa BEM Universitas Wijaya Putra, Bayu Tri Putra, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, sarasehan kebangsaan menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk memperkuat solidaritas lintas kampus sekaligus membangun diskursus intelektual yang konstruktif.

“Forum seperti ini penting untuk memperkuat kebersamaan mahasiswa sekaligus menjadi ruang diskusi yang sehat untuk membahas masa depan kota dan bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Biro Kemahasiswaan dan CDS Universitas Wijaya Putra, Suprayoga, SE., M.Si., menekankan pentingnya menjaga jiwa kritis mahasiswa sebagai bagian dari kontrol sosial dalam demokrasi.

Baca Juga:  Parkir Liar Biang Macet, Akademisi Minta Pemkot Surabaya Naikkan Tarif TJU

Menurutnya, fungsi pengawasan terhadap kebijakan pemerintah tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga legislatif seperti DPR atau DPRD, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif mahasiswa.

“Mahasiswa harus tetap menjaga sikap kritisnya. Demokrasi membutuhkan kontrol sosial agar kebijakan publik tetap berpihak pada kepentingan masyarakat,” jelasnya.

Koordinator Umum Aliansi BEM Surabaya sekaligus Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya, Nasrawi Ibnu Dahlan, mengatakan momentum Ramadhan menjadi waktu yang tepat bagi mahasiswa untuk melakukan refleksi kebangsaan.

Ia menegaskan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

“Kalau kita berbicara tentang Indonesia Emas 2045, maka generasi muda hari ini harus memastikan bahwa kita bukan hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku yang menentukan masa depan bangsa,” tegasnya.

Nasrawi juga mengajak seluruh mahasiswa di Surabaya untuk menyatukan gerakan dalam satu visi bersama. Menurutnya, Surabaya selama ini dikenal sebagai salah satu episentrum gerakan mahasiswa di Jawa Timur.

Karena itu, solidaritas lintas kampus dinilai menjadi kunci untuk memperkuat peran mahasiswa dalam mengawal kebijakan publik.

Baca Juga:  Perda Hunian Layak Surabaya Resmi Berlaku Atur Kos hingga Rusunawa

“Surabaya adalah pusat pemerintahan di Jawa Timur. Mahasiswa di kota ini harus mampu menyatukan gerakan dan melebur dalam Aliansi BEM Surabaya tanpa sekat ego organisasi,” ujarnya.

Memasuki sesi utama, sarasehan dipandu oleh moderator Raihan Asfi Priadi yang juga menjabat Presiden Mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya.

Narasumber pertama berasal dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surabaya yang diwakili Muhammad, SH. Ia menekankan pentingnya sinergi antara mahasiswa dan pemerintah dalam menjaga stabilitas demokrasi serta nilai kebangsaan.

“Mahasiswa bukan hanya mitra kritis, tetapi juga mitra strategis pemerintah dalam membangun masyarakat yang demokratis,” katanya.

Sementara itu, Ahmad Yusuf Al-Khakim, Koordinator Aliansi BEM Surabaya periode 2021/2022 sekaligus mantan Presiden Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, menilai gerakan mahasiswa harus tetap menjaga integritas.

Ia mengingatkan agar pimpinan organisasi mahasiswa tidak terjebak pada kepentingan pribadi atau pragmatisme politik.

“Ketua BEM maupun pimpinan organisasi mahasiswa jangan sampai mudah dibeli dengan uang ataupun jabatan. Integritas adalah fondasi utama agar gerakan mahasiswa tetap independen,” tegasnya.

Menurutnya, transparansi dalam pengelolaan organisasi, termasuk penggunaan dana kegiatan, menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan dalam gerakan mahasiswa.

Baca Juga:  Hari Perdana Masuk Sekolah SDN Ujung V Surabaya Terhambat Banjir

Pendapat serupa disampaikan M. Aqiyas Sholeh, Koordinator Aliansi BEM Surabaya periode 2022/2023 sekaligus mantan Presiden Mahasiswa DEMA UIN Sunan Ampel Surabaya. Ia menilai gerakan mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, terutama di era digital.

Menurut Aqiyas, ruang gerakan mahasiswa saat ini tidak hanya berada di jalanan atau forum diskusi, tetapi juga di ruang digital seperti media sosial.

“Mahasiswa harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai kritisnya. Kritik harus tetap disampaikan, tetapi juga dibarengi dengan gagasan dan solusi,” jelasnya.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan gagasan dari mahasiswa lintas kampus di Surabaya. Forum tersebut menjadi ruang dialog yang produktif dalam membahas tantangan demokrasi, partisipasi publik, serta peran mahasiswa dalam pembangunan daerah.

Kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Momentum tersebut menjadi simbol penguatan silaturahmi sekaligus solidaritas mahasiswa di Kota Surabaya.

Melalui forum ini, Aliansi BEM Surabaya berharap gerakan mahasiswa tetap menjadi kekuatan moral yang mampu mengawal kepentingan masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan masa depan Indonesia.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT