Minggu, 26 April 2026
Image Slider

DIRAYA 2025 BEM Unair Tegaskan Posisi Rakyat dalam Demokrasi Nasional

TheJatim.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Airlangga (BEM Unair) menggelar DIRAYA 2025, sebuah forum dialog publik yang menyoroti arah demokrasi dan posisi rakyat dalam kehidupan bernegara. Acara yang berlangsung di Aula A.G. Pringgodigdo Fakultas Hukum Unair pada Jumat (14/11/2025) ini diikuti sekitar 700 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum.

Ketua Pelaksana DIRAYA 2025, Rudi Hartono, menegaskan bahwa forum ini lahir dari kegelisahan banyak pihak atas perkembangan demokrasi pasca reformasi.

“Dua puluh tujuh tahun setelah reformasi, kita melihat demokrasi seperti kehilangan jiwanya. Partisipasi rakyat belum mendapat ruang yang memadai,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.

Program ini disusun oleh Kementerian Politik dan Kajian Strategis BEM Unair sebagai ruang diskusi terbuka, bukan sekadar seminar.

Baca Juga:  Kader PDIP Surabaya Dorong Semangat Jayalengkara, Usai Cak Ji Dikukuhkan

Menteri Politik dan Kajian Strategis BEM Unair, Satria Abdi, menyebutkan bahwa DIRAYA menjadi momentum untuk mempertemukan publik dengan tokoh yang memahami dinamika pemerintahan secara langsung.

“DIRAYA ini bukan acara seremonial. Kami ingin publik melihat bagaimana demokrasi berjalan dan apakah rakyat benar-benar memegang kedaulatan,” ungkapnya.

Forum ini menghadirkan dua narasumber utama: akademisi ilmu politik Unair Airlangga Pribadi Kusman, serta tokoh hukum nasional Prof. Dr. Mahfud MD. Dalam paparannya, Airlangga menyoroti penyempitan ruang publik dan semakin kuatnya dominasi elit yang berpotensi melemahkan makna kedaulatan rakyat.

Baca Juga:  Raperda Hunian Layak Rampung, DPRD Surabaya Tegaskan Aturan Domisili

“Ruang publik makin sempit, sementara pengaruh elit semakin besar. Jika ini dibiarkan, rakyat akan semakin jauh dari proses pengambilan keputusan,” tegasnya.

Sementara itu, Mahfud MD menyampaikan analisis mengenai dinamika hukum dan perubahan sejumlah regulasi yang dinilai memberi dampak serius terhadap kualitas demokrasi. Ia menilai beberapa revisi undang-undang cenderung memperkecil kontrol publik terhadap negara.

“Kita harus jujur melihat bahwa ada regulasi yang justru menjauhkan rakyat dari mekanisme kontrol terhadap pemerintah. Ini perlu dikritisi bersama,” kata Mahfud MD.

Setelah sesi pemaparan, acara berlanjut dengan dialog interaktif yang memberi kesempatan peserta menyampaikan pertanyaan, kritik, dan pandangan terkait situasi demokrasi saat ini. Format partisipatif ini menjadi salah satu ciri utama DIRAYA, sesuai tujuan untuk membuka ruang belajar politik bagi publik secara setara.

Baca Juga:  Insiden Bendera Terbalik, DPRD Surabaya Soroti Seleksi Paskibra Lebih Ketat

Dalam sambutannya, Menko Pergerakan BEM Unair M. Rizqi Senja Virawan menegaskan komitmen organisasi mahasiswa tersebut dalam membangun kesadaran politik yang sehat.

“BEM Unair berkomitmen menghadirkan ruang edukasi politik yang substantif. Demokrasi hanya bisa berjalan ketika rakyat bukan hanya dipimpin, tetapi ikut terlibat di dalam prosesnya,” tegas Rizqi Senja.

Melalui DIRAYA 2025, BEM Unair berharap diskusi mengenai masa depan demokrasi tidak berhenti di kampus saja, tetapi menjadi gerakan intelektual yang mendorong rakyat kembali berada di pusat pengambilan keputusan negara.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT