Senin, Juli 22, 2024

Ingin Jadi Ketua Umum PBNU, Gus Yahya : Seperti Ngelamar Kerja

TheJatim. Surabaya – KH. Yahya Cholil Tsaquf menyatakan tidak tertarik dalam pencalonan Presiden, maupun Wakil Presiden di tahun 2024. Gus Yahya, menyatakan hal tersebut, dalam kesempatan Pelatihan Pendampingan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur (PW GP Ansor Jatim).

“Tidak usah ada Capres-Cawapres dari PBNU, artinya apa, setelah Muktamar NU ini, kedepan di tahun 2024, Saya tidak akan nyapres maupun nyawapres. Perlunya apa, supaya NU tidak menjadi salah satu pihak yang bertarung. Sehingga, kalau suasana meruncing, dan berpotensi pembelahan yang berbahaya, NU masih bisa berfungsi untuk menjadi juru damai,” tegasnya, Sabtu (16/10/2021).

Baca Juga:  Gus Yahya Nilai Jokowi Cawe-cawe Pilpres 2024 dalam Batas Wajar

Menurutnya, jika pihaknya menginginkan menjadi Presiden di tahun 2024 mendatang. Maka, Gus Yahya akan menggenjot manuver ke jaringan Internasionalnya secara maksimal. “Jika saya genjot manuver ke jaringan internasional saya dengan habis-habisan, tidak mungkin orang akan menaruh perhatian kepada saya,” ujarnya.

Gus Yahya, menceritakan, bahwa sebelum bertandang ke PW GP Ansor Jatim. Ia sempat menghadiri acara pertemuan di Gedung Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur bersama Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Jawa Timur.

Baca Juga:  Menghadapi Pemilu 2024, NU Dihadapkan pada Ujian Serius: Menjaga Khittah atau Terbawa Arus Politik?

“Saya tidak meminta dukungan, akan tetapi saya hanya ingin melamar pekerjaan (Ketua Umum PBNU). Saya melihat ada perubahan di NU yang harus dihadapi dengan tepat. Dan saya punya wawasan, rencana strategi, dan saya punya punya hasil, dari perencanaan yang sukses, yaitu Ansor,” katanya.

Masih kata Gus Yahya, saat melamar pekerjaan harus disertai Curikulum Vitae dan surat rekomendasi. Ia mengatakan, bicara soal tawaran dan bukan takabur. Jika terpilih menjadi Ketua Umum PBNU, Ia ingin meluruskan atau memberikan kesadaran kepada semua orang.

“Soalnya, Saya tidak ingin, bahwa yang menjadi Imam PBNU bukan Ketua Tanfidziah, Ketua Tanfidziah berperan sebagai Direktur Utamanya. Dan yang menjadi Imam adalah Rois Aam PBNU, untuk semua orang menjadi kesadaran,” ujarnya.

Baca Juga:  Muktamar NU ke-34, PCNU Surabaya Tunggu Kebijakan PBNU

Selanjutnya, Gus Yahya menyebut seseorang tanpa menerangkan namanya. Didalam NU ada yang menduduki sebuah jabatan, namun tidak jelas apa yang dikerjakan.

“Ini bukan tentang menjadi orang yang dipuja-puja oleh orang lain sebagai orang baik, walau dikasih jabatan, lalu terserah dia mau ngapain. Ini soal, memberikan jabatan untuk bekerja, yang pekerjaannya direncanakan dengan baik,” pungkasnya.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Populer
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terkait
ADVERTISEMENT