Rabu, 22 April 2026
Image Slider

Skandal “Sejarah Semu”: Benarkah Islam Masuk ke Kerajaan Champa Sejak Abad ke-11?

Oleh Nurul Yaqin, MAPSINU

TheJatim.com – Selama hampir satu abad, buku-buku sejarah Asia Tenggara mencatat bahwa Islam telah masuk ke Kerajaan Champa—kini berada di wilayah Vietnam—sejak abad ke-11. Teori ini bertumpu pada penemuan dua prasasti Arab kuno yang lama dianggap sebagai bukti tertua keberadaan umat Islam di kawasan tersebut.

Namun, penelitian terbaru justru mengungkap fakta yang mengejutkan. Narasi sejarah itu ternyata dibangun di atas dasar yang keliru, bahkan diduga merupakan hasil pemalsuan yang disengaja. Artikel ini merujuk pada jurnal Islam in Champa and the Making of Factitious History karya Stephen G. Haw.

Prasasti “Nyasar” dari Tunisia

Perdebatan ini bermula pada 1922, ketika Paul Ravaisse memublikasikan dua prasasti Arab yang diklaim ditemukan di pesisir Annam (Vietnam). Prasasti tersebut bertarikh awal abad ke-11 dan selama hampir 90 tahun dijadikan pilar utama dalam penulisan sejarah Islam di Champa.

Kejutan besar muncul pada 2003 dan kembali ditegaskan pada 2012. Para ahli epigrafi Arab menemukan bahwa prasasti itu bukan berasal dari Asia Tenggara, melainkan dari Kairouan, Tunisia. Bahkan, salah satu prasasti diidentifikasi sebagai karya pemahat abad ke-19 yang tinggal di Tunisia. Dugaan kuat mengarah pada kemungkinan Ravaisse merekayasa kisah asal-usul prasasti agar tampak seolah-olah ditemukan di Champa.

Baca Juga:  KH. Ridwan Abdullah

Salah Tafsir “Allahu Akbar” dan Gelar “Abu”

Selain prasasti, pendukung teori “Islam Awal di Champa” kerap mengutip catatan Tiongkok dari Dinasti Song. Stephen G. Haw menunjukkan sejumlah kekeliruan tafsir yang selama ini luput dikritisi:

1. Mantra ritual
Istilah “A luo he ji ba” dalam catatan Tiongkok pernah dianggap sebagai transkripsi lafaz “Allahu Akbar”. Kenyataannya, istilah tersebut lebih mungkin berasal dari bahasa Cham kuno untuk menyebut kerbau (kabav), yang digunakan dalam ritual Hindu.

2. Misteri nama “Pu”
Banyak penguasa Champa memiliki awalan nama “Pu”, yang sering disalahartikan sebagai singkatan dari nama Arab “Abu”. Padahal, “Pu” merupakan gelar kehormatan Austronesia (mPu, Pu, atau Po) yang lazim digunakan oleh penguasa Hindu di Asia Tenggara.

3. Pakaian “Arab”
Catatan Tiongkok menyebut orang Champa berpakaian mirip orang Arab (Dashi). Namun, kemiripan itu hanya merujuk pada bahan pakaian. Orang Champa mengenakan kain katun, bukan sutra seperti masyarakat Tiongkok pada masa tersebut.

Baca Juga:  Sarankan di Relokasi, Begini Kondisi Makam Pendiri NU

Dampak bagi Sejarah Nusantara: Teka-teki Sunan Ampel

Temuan ini berdampak besar pada historiografi Indonesia, khususnya terkait asal-usul Sunan Ampel yang dalam tradisi Jawa disebut berasal dari Champa pada abad ke-15.

Pada 1817, Thomas Stamford Raffles serta Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië Jilid 4 (1905) menjelaskan bahwa Champa yang dimaksud dalam kisah Putri Champa dan kelahiran Sunan Ampel merujuk pada suatu tempat bernama Jeumpa (dibaca: Tjempa) di wilayah Kabupaten Bireuën, Aceh. Pada abad ke-15, kawasan ini berada dalam pengaruh Kesultanan Samudra Pasai.

Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang kredibel, klaim Champa sebagai kerajaan Islam pada abad ke-15 semakin diragukan:

Kesaksian Ma Huan (1413–1415)
Ma Huan, seorang Muslim yang mendampingi Laksamana Zheng He, mengunjungi Champa pada awal abad ke-15. Sebagai sesama Muslim, ia sama sekali tidak mencatat keberadaan komunitas Islam di wilayah tersebut.

Laporan Tomé Pires (1512–1515)
Penjelajah Portugis ini menyatakan secara tegas bahwa tidak ada “Moor” (Muslim) di Kerajaan Champa hingga awal abad ke-16. Bangsa Portugis dikenal sangat mencermati keberadaan komunitas Islam di setiap wilayah yang mereka datangi.

Baca Juga:  Kiai Asep : Buat apa mendirikan PMII, jika Ketua Umum PBNU kader HMI

Jika Islam belum hadir secara signifikan di Champa hingga abad ke-16, maka narasi tentang seorang pangeran Muslim dari Champa yang datang ke Jawa pada abad ke-15 menjadi sebuah anomali sejarah. Bukti-bukti yang selama ini diklaim berasal dari abad ke-11 hingga ke-15 terbukti keliru atau merupakan hasil penafsiran yang dipaksakan.

Kapan Islam Benar-Benar Masuk Champa?

Stephen G. Haw menyimpulkan bahwa tidak ada bukti kuat keberadaan Islam di Champa sebelum abad ke-16. Islam justru pertama kali menetap secara mapan di Asia Tenggara melalui Sumatra Utara, khususnya Kesultanan Samudra Pasai, pada akhir abad ke-13. Sementara itu, Champa hingga periode tersebut masih tercatat sebagai wilayah penganut Hindu atau kepercayaan lokal.

Kasus Champa menjadi pelajaran penting bahwa sebuah “fakta” sejarah yang dikutip selama puluhan tahun bisa runtuh ketika bukti arkeologisnya terbukti sebagai hasil dari sejarah semu (factitious history).

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT