Minggu, 10 Mei 2026
Image Slider

Tragedi Tual Picu Tekanan Reformasi dan Evaluasi Polri di Pasuruan

TheJatim.com – Suasana di Mapolres Pasuruan mendadak hening ketika ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Pasuruan Raya (BEMPAS) menggelar aksi solidaritas, Kamis (26/2/2026). Aksi ini dipicu tewasnya pelajar 14 tahun dalam Tragedi Tual di Maluku, yang diduga melibatkan aparat.

Momentum paling emosional terjadi saat mahasiswa asal Maluku yang tengah menempuh studi di Pasuruan maju ke depan barisan. Suara mereka bergetar, menahan amarah dan duka yang datang dari kampung halaman.

“Orang tua saya menelepon dari kampung. Pesannya jelas, jangan diam dan suarakan kebenaran. Ini bukan sekadar aksi, ini soal nurani,” ujar salah satu mahasiswa.

Baca Juga:  BEM UNU Pasuruan Lumpuh Mahasiswa Lawan Intimidasi di Momentum Hardiknas

Mahasiswa lain menyebut kehadiran mereka di Jawa untuk menuntut ilmu kini berubah menjadi panggilan moral. Mereka menilai kematian pelajar tersebut tidak bisa lagi disederhanakan sebagai ulah oknum.

Kasus kekerasan aparat terhadap warga sipil memang kerap memantik kritik publik. Sejumlah laporan lembaga pemantau HAM dalam beberapa tahun terakhir mencatat masih adanya praktik kekerasan dalam penanganan warga. Kondisi ini memperkuat desakan mahasiswa agar reformasi Polri dijalankan secara nyata, bukan sekadar wacana.

Ultimatum dan Pakta Integritas

Aksi yang dipimpin Koordinator Lapangan Qais Zauqi berujung pada penandatanganan Pakta Integritas dan Komitmen Kerakyatan oleh pimpinan Polres Pasuruan di atas meterai. Mahasiswa menegaskan, sanksi administratif berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat bukanlah akhir dari proses hukum.

Baca Juga:  FITRA Soroti Anggaran Rp2,6 Triliun Polisi untuk Alat Represif

Beberapa tuntutan utama yang mereka ajukan meliputi proses pidana maksimal tanpa pandang bulu terhadap pelaku, penerapan prinsip pertanggungjawaban komando bagi atasan langsung, serta evaluasi menyeluruh sistem rekrutmen Polri guna mencegah praktik suap dan transaksi jabatan.

Selain itu, mahasiswa meminta jaminan ruang aman bagi gerakan sipil. Mereka menuntut Polres Pasuruan bertindak humanis dan tidak represif terhadap aksi mahasiswa.

Di hadapan massa, perwakilan kepolisian menyatakan komitmen mendukung penegakan hukum secara terbuka. Namun mahasiswa menegaskan akan terus mengawal implementasinya.

Baca Juga:  Aliansi BEM Surabaya Nilai Respons Polri Salah Fokus Tangani Komedi

Salat Ghaib dan Nyala Lilin di TMP

Usai penandatanganan pakta, halaman Mapolres Pasuruan berubah menjadi saf salat ghaib. Ratusan mahasiswa bersimpuh mendoakan korban. Tangis pecah, sebagian mahasiswa saling menguatkan.

Aksi berlanjut dengan prosesi nyala lilin dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Pasuruan. Di bawah cahaya lilin, mahasiswa menyampaikan peringatan tegas. Jika komitmen dalam pakta integritas dilanggar, mereka siap kembali dengan massa lebih besar.

Bagi mahasiswa Maluku di Pasuruan, Tragedi Tual bukan sekadar berita dari kampung halaman. Ia menjadi luka yang terasa dekat, sekaligus ujian bagi penegakan hukum dan reformasi Polri di Indonesia.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT