Rabu, 29 April 2026
Image Slider

Peringatan May Day 2026 Mahasiswa dan Buruh Serukan Keadilan Sosial

TheJatim.com – Momentum Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Kota Surabaya tidak hanya diisi dengan aksi turun jalan, tetapi juga ruang dialog yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, legislator, dan elemen buruh dalam satu forum diskusi kritis.

Aliansi BEM Surabaya menggelar kegiatan bertajuk “Cangkru’an & Diskusi May Day Aliansi BEM Surabaya” di Universitas Bhayangkara Surabaya, Selasa (28/4/2026), dengan tema besar Mahasiswa dan Buruh Bersatu, Mengkritisi Ketimpangan dan Mengawal Keadilan.

Forum ini menjadi ruang konsolidasi penting di tengah masih banyaknya persoalan ketenagakerjaan di Indonesia, mulai dari upah yang belum layak, praktik kerja kontrak berkepanjangan, lemahnya perlindungan buruh, hingga ketimpangan sosial yang semakin terasa di kalangan masyarakat bawah.

Presiden Mahasiswa BEM Ubhara, Devano Faradiska Eka Candra, menegaskan bahwa May Day tidak seharusnya hanya menjadi agenda seremonial tahunan. Menurutnya, peringatan Hari Buruh harus menjadi momentum refleksi bersama untuk melihat realitas sosial yang masih timp.

“Mahasiswa tidak boleh apatis. Kita punya tanggung jawab moral untuk hadir bersama rakyat dan ikut mengawal keadilan sosial,” ujarnya saat membuka diskusi.

Baca Juga:  Pemkot Surabaya Dampingi Panitia Lokal Piala Dunia U-17 Inspeksi Stadion GBT

Ia menilai mahasiswa dan buruh memiliki semangat perjuangan yang sama, yakni memperjuangkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ruang diskusi seperti ini dinilai penting untuk memperkuat solidaritas dan membangun kesadaran kolektif antargerakan.

Koordinator Umum Aliansi BEM Surabaya, Nasrawi Ibnu Dahlan, juga menekankan pentingnya persatuan gerakan mahasiswa di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penonton dalam dinamika sosial. Mereka harus hadir sebagai penggerak perubahan yang nyata, terutama dalam mengawal kebijakan yang menyangkut nasib buruh dan rakyat kecil.

“Mahasiswa harus tetap kritis terhadap kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, khususnya soal kesejahteraan buruh dan keadilan sosial,” katanya.

Diskusi menghadirkan anggota DPRD Kota Surabaya M. Saifuddin, S.Sos., akademisi hukum Dr. Jamil, S.H., M.H., serta Syahril Romadhon dari Dewan Buruh Nasional Konfederasi KASBI. Moderator kegiatan adalah Viky Dwi Nurviyanto dari Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Dalam pemaparannya, Dr. Jamil menyoroti akar persoalan ketimpangan ekonomi dari sudut sejarah revolusi industri. Ia menjelaskan bahwa Indonesia tidak pernah mengalami revolusi industri seperti yang terjadi di Inggris dan negara-negara Eropa.

Baca Juga:  Sumpah Pemuda, GMNI Surabaya Ajak Pemuda Evaluasi Setahun Pemerintahan Prabowo Gibran

Menurutnya, kolonialisme Belanda justru menjadikan Indonesia sebagai wilayah eksploitasi sumber daya alam, bukan pembangunan industri yang kuat untuk masyarakat pribumi.

“Belanda datang ke Indonesia bukan untuk membangun industri rakyat, tetapi untuk mengambil sumber daya yang kita miliki,” tegas dosen Hukum Ubhara itu.

Ia menambahkan, Indonesia sejatinya merupakan negara welfare state atau negara kesejahteraan. Karena itu, negara harus hadir secara nyata dalam menjamin pendidikan, kesehatan, perlindungan tenaga kerja, dan kesejahteraan sosial masyarakat.

Sementara itu, M. Saifuddin yang lebih akrab disapa Bang Udin, mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya berpikir menjadi pencari kerja setelah lulus kuliah. Ia mendorong generasi muda untuk mulai membangun pola pikir kreatif dan inovatif agar mampu membuka lapangan kerja baru.

Menurut anggota Komisi A itu, masa kuliah adalah waktu terbaik untuk memperkuat kapasitas diri melalui belajar, membaca, dan memperluas wawasan.

“Mahasiswa harus mampu memanfaatkan kesempatan belajar dengan baik. Cari tahu apa yang belum diketahui dan terus tingkatkan kapasitas diri,” ujar alumni aktivis PMII itu.

Baca Juga:  DPRD Surabaya Bahas Pendefinisian Hunian Layak Agar Aturan Tidak Menyulitkan Rakyat

Dari sisi gerakan buruh, Syahril Romadhon berharap kolaborasi antara mahasiswa dan buruh terus diperkuat. Ia menilai kedua elemen ini memiliki posisi strategis dalam mengawal kebijakan pemerintah agar tetap berpihak pada rakyat kecil.

“Tantangan ketenagakerjaan saat ini semakin kompleks, mulai dari ancaman PHK, rendahnya jaminan sosial pekerja, hingga ketidakpastian kerja bagi generasi muda yang baru memasuki dunia profesional,” tegasnya.

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta aktif menyampaikan pertanyaan dan pandangan mengenai eksploitasi buruh, kondisi kerja yang belum manusiawi, hingga masa depan ketenagakerjaan di Indonesia.

Forum ini menjadi salah satu bentuk konsolidasi gerakan mahasiswa dan buruh di Surabaya menjelang May Day 2026. Lebih dari sekadar peringatan tahunan, kegiatan ini menegaskan bahwa perjuangan keadilan sosial masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus terus dikawal bersama.

Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, suara mahasiswa dan buruh dinilai tetap menjadi kekuatan penting untuk menjaga arah kebijakan agar tetap berpihak pada kepentingan rakyat.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT