TheJatim.com – Upaya memperkuat stabilitas keamanan di Kota Pahlawan tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum. Peran pemuda juga dinilai krusial. Hal itu tercermin dalam audiensi resmi antara Satuan Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Cabang Surabaya dengan Polrestabes Surabaya pada pertengahan April 2026.
Pertemuan yang berlangsung di Mapolrestabes Surabaya ini dihadiri langsung oleh Ketua SAPMA Surabaya Kevin Harlens bersama jajaran pengurus cabang. Mereka diterima oleh Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan didampingi Wakapolrestabes AKBP Muhammad Ridwan serta pejabat utama lainnya.
Audiensi tersebut tidak sekadar seremoni. Diskusi berjalan intens dengan fokus pada penguatan peran organisasi kepemudaan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat atau kamtibmas. Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika sosial di kota besar seperti Surabaya memang menuntut keterlibatan aktif generasi muda, terutama dalam merespons isu kenakalan remaja, konflik sosial, hingga potensi radikalisme berbasis komunitas.
Kevin Harlens menegaskan, SAPMA siap menjadi mitra strategis kepolisian. Ia menilai kolaborasi ini penting agar pemuda tidak hanya menjadi objek pembinaan, tetapi juga subjek yang ikut menjaga stabilitas kota.
“Pemuda harus hadir sebagai solusi. Kami ingin memastikan energi anak muda Surabaya diarahkan ke hal-hal positif, bukan sebaliknya,” ujarnya.
Pernyataan itu sejalan dengan data sejumlah lembaga riset sosial yang menunjukkan bahwa keterlibatan organisasi kepemudaan mampu menekan angka pelanggaran sosial di perkotaan. Program berbasis komunitas dinilai lebih efektif karena pendekatannya langsung menyasar lingkungan terdekat masyarakat.
Kapolrestabes Surabaya dalam kesempatan tersebut mengingatkan bahwa pemuda memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan. Namun, ia juga menekankan pentingnya menjaga disiplin sosial dan menjauhi tindakan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Menurutnya, sinergi antara kepolisian dan organisasi kepemudaan bukan hanya soal koordinasi, tetapi juga membangun kepercayaan publik. Apalagi Surabaya sebagai kota metropolitan memiliki kompleksitas masalah sosial yang terus berkembang.
“Kolaborasi ini harus berkelanjutan. Kami berharap SAPMA bisa menjadi contoh organisasi yang aktif menjaga kondusivitas kota,” pesannya.
Pertemuan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama. Namun lebih dari sekadar dokumentasi, momen tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam mengawal program “Jogo Suroboyo” agar tetap aman dan damai.
Ke depan, sinergi semacam ini diperkirakan akan semakin dibutuhkan. Dengan jumlah penduduk usia muda yang dominan, arah pembangunan sosial kota sangat bergantung pada bagaimana generasi muda dilibatkan secara aktif dalam menjaga stabilitas dan ketertiban.


