TheJatim.com – Gelombang kritik terhadap kondisi ekonomi nasional kembali mengemuka. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Jawa Timur menggelar demonstrasi di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, Jalan Pahlawan Surabaya, Rabu (10/6/2026).
Aksi yang berlangsung selama beberapa jam itu menjadi perhatian publik karena diwarnai pembakaran ban, tuntutan pencopotan Gubernur Bank Indonesia, hingga pelaksanaan sumpah mubahalah yang jarang terjadi dalam demonstrasi bertema ekonomi.
Mahasiswa menilai pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir harus menjadi perhatian serius pemerintah dan otoritas moneter. Mereka menganggap kondisi tersebut tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa karena berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional, daya beli masyarakat, hingga iklim investasi.
Koordinator aksi sekaligus Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur, Mohammad Ivan Akiedozawa, mengatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini membutuhkan pengawasan ketat dari seluruh elemen bangsa. Menurutnya, sejumlah program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar harus diimbangi dengan kebijakan ekonomi yang mampu menjaga stabilitas fiskal dan moneter.
Dalam orasinya, Edo, sapaan akrabnya menyebut pelemahan rupiah merupakan sinyal yang tidak boleh diabaikan. Ia mengingatkan agar Indonesia tidak kembali mengalami tekanan ekonomi seperti yang pernah terjadi pada krisis moneter 1998 yang meninggalkan dampak panjang terhadap berbagai sektor.
“Krisis moneter ada di depan mata. Jangan sampai bangsa ini kembali mengalami krisis seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Karena itu kami turun untuk mengingatkan dan mengawal kondisi ekonomi nasional,” ujarnya di hadapan massa aksi.
Menurutnya, rupiah bukan sekadar alat transaksi, melainkan simbol kedaulatan ekonomi negara yang harus dijaga oleh seluruh pemangku kebijakan. Karena itu mereka menuntut Bank Indonesia lebih agresif menjaga stabilitas nilai tukar dan memperkuat kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.
Situasi sempat memanas ketika massa aksi meminta Gubernur Bank Indonesia hadir langsung menemui demonstran. Karena tuntutan tersebut tidak segera dipenuhi, mahasiswa membakar ban bekas di depan gerbang kantor BI sebagai bentuk protes.
Petugas kepolisian yang berjaga langsung memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). Aparat juga memperketat pengamanan guna mengantisipasi potensi gangguan ketertiban selama aksi berlangsung. Sedikitnya 102 personel kepolisian diterjunkan untuk mengawal demonstrasi.
Selain menyampaikan kritik terhadap kebijakan moneter, mahasiswa juga membawa tujuh tuntutan utama. Mereka meminta Bank Indonesia bertanggung jawab atas pelemahan rupiah, mendesak DPR RI melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja BI, mendorong reformasi kelembagaan Bank Indonesia, memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter, hingga meminta Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi dan mencopot Gubernur BI beserta jajarannya.
Tuntutan yang paling menyita perhatian publik adalah permintaan agar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur melakukan sumpah mubahalah sebagai bentuk pembuktian bahwa tidak pernah melakukan penyimpangan dalam menjalankan tugas dan kewenangannya.
Setelah melalui dialog cukup panjang, perwakilan BI akhirnya menemui demonstran. Tiga orang perwakilan membacakan sumpah mubahalah di hadapan massa aksi.
Namun suasana kembali memanas ketika salah satu perwakilan BI meminta mahasiswa melakukan sumpah serupa. Permintaan tersebut langsung ditolak demonstran yang menilai substansi tuntutan mereka ditujukan kepada pihak otoritas moneter, bukan kepada peserta aksi.
Cipayung Plus Jawa Timur kemudian kembali mendesak agar Gubernur Bank Indonesia hadir secara langsung untuk memberikan penjelasan terkait kondisi ekonomi nasional dan kebijakan stabilisasi rupiah. Mereka juga mengancam akan menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan yang diajukan tidak mendapatkan respons konkret.
Pengamat menilai demonstrasi ini menjadi salah satu aksi mahasiswa paling mencolok di Jawa Timur sepanjang tahun 2026. Selain mengangkat isu strategis terkait pelemahan rupiah dan kebijakan moneter nasional, aksi tersebut juga menghadirkan simbol-simbol protes yang kuat, mulai dari pembakaran ban hingga sumpah mubahalah yang jarang muncul dalam gerakan mahasiswa.
Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional, demonstrasi ini diperkirakan akan memicu diskusi lebih luas mengenai efektivitas kebijakan moneter, stabilitas nilai tukar rupiah, serta peran Bank Indonesia dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tantangan global yang masih berlangsung.


