TheJatim.com – Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya, Muhammad Saifuddin, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam apatisme terhadap kebijakan publik. Ia mendorong mahasiswa memperkuat daya kritis, menjaga idealisme, serta melahirkan gagasan yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
“Mahasiswa harus kritis terhadap setiap kebijakan publik. Jangan sampai kehilangan daya kritis dan membiarkan apatisme menguasai diri, karena mahasiswa memiliki tanggung jawab intelektual terhadap masa depan bangsa,” ujar Saifuddin saat mengisi Sekolah Legislator 2026 di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Kamis (29/10/2026).

Politikus Partai Demokrat yang akrab disapa Bang Udin itu menilai mahasiswa memiliki posisi strategis dalam kehidupan demokrasi. Mereka tidak hanya berperan sebagai kelompok intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab mengawal jalannya pemerintahan dan menyampaikan aspirasi masyarakat.
Menurutnya, sikap kritis tidak cukup dibangun melalui keberanian menyampaikan pendapat. Mahasiswa perlu memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan, memperluas wawasan, serta membiasakan diri berdiskusi secara terbuka untuk memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.
Bang Udin menilai apatisme menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi mahasiswa. Sikap tidak peduli terhadap persoalan publik berpotensi melemahkan peran mahasiswa sebagai kelompok yang diharapkan mampu mendorong perubahan sosial.
“Musuh nyata di dalam diri mahasiswa adalah apatisme. Ini harus dilawan dengan membuka cakrawala ilmu pengetahuan, memperbanyak diskusi dan dialektika, serta membangun cara berpikir yang komprehensif dan progresif,” tegas mantan aktivis PMII Surabaya tersebut.
Dalam kegiatan Sekolah Legislator 2026 bertema Legislatif Muda Membangun Generasi Kritis, Aspiratif, dan Berintegritas itu, Bang Udin juga menyoroti pentingnya peran organisasi mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) diharapkan menjadi ruang pembelajaran demokrasi yang melahirkan pemimpin berintegritas.
“BEM, DPM, dan MPM harus mampu menjadi miniatur organisasi yang baik di kampus. Dari sana harus lahir konsep dan gagasan konstruktif yang mampu menjawab kegelisahan bangsa,” kata pengurus DPD Partai Demokrat Jawa Timur itu.
Ia menegaskan, organisasi mahasiswa tidak seharusnya hanya berorientasi pada kegiatan seremonial atau rutinitas internal kampus. Lebih dari itu, organisasi harus mampu mengembangkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa dan persoalan masyarakat.
Bang Udin juga mendorong mahasiswa berani menawarkan solusi, baik terhadap persoalan di lingkungan kampus maupun masalah sosial yang lebih luas. Menurutnya, kualitas gerakan mahasiswa tidak hanya diukur dari kerasnya kritik, tetapi juga dari kemampuan menyusun gagasan dan memberikan kontribusi nyata.
Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Surabaya II itu berharap mahasiswa mampu menjaga idealisme sekaligus menjadikan ilmu pengetahuan sebagai landasan dalam menentukan sikap. Dengan begitu, kritik yang disampaikan tidak berhenti sebagai penolakan, tetapi berkembang menjadi masukan yang membangun.
“Jadilah mahasiswa yang mampu memberi warna menuju progres, bukan sebaliknya menjadi mahasiswa yang menghasilkan produk gagasan regresif,” pungkasnya.


