Jumat, 30 Oktober 2026
Image Slider

Inovasi Paduan Suara Islami Modern, Cara Baru TK Muttaqien Surabaya Menyatukan Seni, Pendidikan dan Spiritualitas

TheJatim.com – Seni dan agama selama ini kerap diposisikan sebagai dua dunia yang berjalan beriringan, namun belum sepenuhnya dipadukan dalam ruang pendidikan usia dini. Paradigma tersebut coba dipatahkan melalui sebuah inovasi kreatif yang lahir di lingkungan KB-TK Islam Muttaqien Surabaya.

Momentum Haflah Akhirussanah atau pisah kenang dan pentas seni tahun 2026 yang digelar di halaman Masjid Muttaqien Surabaya pada 13 Juni lalu, menjadi ruang aktualisasi kolaborasi antara seni modern, pendidikan karakter, dan nilai-nilai keislaman.

Penggagas konsep tersebut adalah Ratna Mestikasari Putri atau Ratna Tjokroaminoto, perempuan urban keturunan keempat tokoh pergerakan nasional H.O.S Tjokroaminoto, yang juga berprofesi sebagai seniman serta dosen musik dan vokal di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.

Menurut Ratna, Islam sejatinya tidak pernah menolak seni. Sejak masa Rasulullah SAW, ekspresi seni telah hadir melalui syair, nasyid, dan berbagai bentuk lantunan pujian yang memiliki nilai spiritual.

“Agama dan seni dapat bercengkrama satu sama lain. Seni bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media pendidikan, ekspresi jiwa, dan penguatan karakter,” ujarnya.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pertunjukan paduan suara yang melibatkan seluruh orang tua atau wali murid kelas Kelompok Bermain (KB) dan TK B.

Baca Juga:  Barrier Beton Dipasang di Depan Tunjungan Plaza, Ini Penjelasan Wali Kota

Menariknya, lagu yang dipilih bukan lagu religi, melainkan lagu populer berjudul Sampai Jumpa karya grup musik Endank Soekamti.

Pilihan tersebut sempat dianggap tidak lazim. Namun, Ratna memiliki pertimbangan tersendiri.

Lagu yang dirilis pada 2016 dan diciptakan oleh Erix Soekamti itu telah berkembang menjadi anthem perpisahan lintas generasi di Indonesia. Liriknya menyampaikan pesan tentang keikhlasan, rasa syukur atas pertemuan, dan optimisme untuk bertemu kembali di masa mendatang.

Pesan tersebut dinilai relevan dengan tema kegiatan sekolah, yakni Merangkai Imajinasi Sebuah Kenangan dan Menampilkan Kreativitas.

Tidak hanya anak-anak yang menjadi pusat perhatian. Para orang tua justru menjadi pemeran utama dalam pertunjukan paduan suara tersebut.

Koordinator kelas Fitria Nur Hidayah dan Choirontun Ni’mah turut menggerakkan partisipasi seluruh wali murid agar terlibat aktif dalam proses kreatif.

Di tengah kesibukan pekerjaan masing-masing, persiapan dilakukan hanya dalam tiga kali pertemuan, termasuk gladi bersih.

Keterbatasan waktu menjadi tantangan tersendiri.

Ratna mengaku harus menerapkan metode percepatan pembelajaran vokal agar seluruh peserta mampu bernyanyi secara harmonis, percaya diri, dan tampil maksimal dalam waktu singkat.

Baca Juga:  Pemkot Surabaya Sediakan Transaksi Lewat e-Commerce, Bayar PBB Semakin Mudah

“Target utamanya bukan kesempurnaan teknis, melainkan bagaimana seluruh peserta dapat menyampaikan emosi dan pesan lagu secara utuh,” katanya.

Selain vokal, koreografi sederhana juga disiapkan agar mudah diikuti oleh seluruh peserta dari berbagai latar belakang profesi.

Sementara konsep busana dibuat kasual dengan warna senada yang dekat dengan selera generasi milenial dan Gen Z. Hanya kostum konduktor yang dibuat berbeda dengan dominasi warna gelap sebagai identitas visual.

Pertunjukan juga diperkuat dengan konsep live music yang dinilai mampu menghadirkan kedalaman rasa dan energi yang lebih hidup dibandingkan iringan rekaman.

Ratna melibatkan mahasiswa STKW Surabaya dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Jurusan Musik, yakni Vio, Atan, dan Dimas Domex.

Dalam proses pengarahan musik, ia juga didampingi oleh Rangga Adytia, dosen musik mayor biola STKW Surabaya yang sebelumnya merupakan mantan mahasiswanya.

Tidak ketinggalan, pembawa acara Arifin ikut memeriahkan suasana hingga seluruh rangkaian acara berjalan lancar.

Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi refleksi atas perkembangan pendidikan modern yang semakin menekankan keseimbangan antara kecerdasan akademik dan kecerdasan emosional.

Baca Juga:  Seragam Siswa Miskin Tak Layak, DPRD Surabaya Minta Evaluasi

Berbagai riset pendidikan global menunjukkan bahwa keterlibatan seni dalam proses belajar mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, kerja sama, empati, serta kepercayaan diri anak.

Dalam konteks pendidikan Islam, pendekatan tersebut menjadi penting karena membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya akan sensitivitas sosial dan spiritual.

Ratna menilai, selama ini seni dalam ruang keislaman masih identik dengan hadrah, samrah, dan lantunan selawat. Padahal, perkembangan zaman membuka peluang yang lebih luas untuk menghadirkan ekspresi seni yang tetap selaras dengan nilai-nilai agama.

Baginya, kreativitas tidak harus dibatasi oleh genre musik tertentu, selama substansi, etika, dan pesan yang disampaikan tetap membawa manfaat.

Inovasi yang lahir dari KB-TK Islam Muttaqien Surabaya tersebut menjadi contoh bahwa agama dan seni bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua elemen yang dapat saling menguatkan dalam membangun karakter generasi masa depan.

Pendekatan sederhana ini sekaligus menunjukkan bahwa ruang pendidikan tidak hanya bertugas mencetak prestasi akademik, tetapi juga menghadirkan pengalaman emosional yang akan terus dikenang oleh anak-anak, orang tua, dan seluruh pihak yang terlibat.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT