Jumat, 30 Oktober 2026
Image Slider

Cak Yebe Bawa Inspirasi Malaka Jaya ke Kampung-Kampung Surabaya

TheJatim.com – Upaya membangun ketahanan pangan di Kota Surabaya mulai diarahkan dari lingkungan permukiman. Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko mendorong model pengelolaan sampah organik yang terhubung dengan budidaya pangan dan pemberdayaan warga.

Politisi Gerindra yang akrab disapa Cak Yebe itu memulai program tersebut dari Perumahan Gunung Sari Indah (GSI), RW 9 Kelurahan Kedurus, dengan membagikan 20 tong komposter berkapasitas 160 liter.

“Untuk Perumahan Gunung Sari Indah, tepatnya di RW 9 Kelurahan Kedurus sebagai starter untuk mengawali program, saya distribusikan 20 unit tong komposter kapasitas 160 liter,” kata Cak Yebe, Selasa (6/10/2026).

Menurut Cak Yebe, pengolahan sampah organik menjadi langkah awal untuk membangun ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga. Sampah yang selama ini dianggap sebagai persoalan lingkungan dapat diolah menjadi kompos untuk mendukung tanaman pangan dan urban farming.

Program tersebut tidak berhenti di GSI. Cak Yebe memperluas pembagian komposter ke sejumlah wilayah binaannya di Daerah Pemilihan (Dapil) 5 Surabaya. “Bukan hanya di GSI, tapi juga di RW 3 dan 4 Sumberan, Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, di RW 4 Kelurahan Jajar Tunggal, RW 1 Kelurahan Kedurus, RW 3 Kelurahan Jeruk, serta RW 2 dan 3 Kelurahan Warugunung,” ujarnya.

Baca Juga:  Eri Cahyadi Minta Proses Hukum Pelaku Vandalisme Mural di Gubeng Pojok

Cak Yebe menyebut model Kampung Malaka Jaya di Jakarta Timur menjadi salah satu rujukan. Di kawasan tersebut, pengelolaan sampah organik dikembangkan bersama kegiatan pertanian lingkungan, budidaya ikan dan aktivitas ekonomi warga.

“Konsepnya saya terinspirasi dari Malaka Jaya. Di sana pengolahan limbah organik tidak berdiri sendiri, tetapi bisa dikembangkan menjadi bagian dari ketahanan pangan dan kegiatan produktif warga,” jelasnya.

Menurut dia, pola tersebut relevan diterapkan di kawasan padat permukiman dengan menyesuaikan kondisi setiap kampung. Pemanfaatan lahan terbatas dapat diarahkan untuk tanaman produktif, kolam ikan, pengolahan sampah hingga kegiatan pangan berbasis warga.

“Tidak harus persis sama dengan Malaka Jaya. Kita sesuaikan dengan kondisi kampung di Surabaya, tetapi prinsipnya sama, bagaimana limbah organik bisa dikelola dan hasilnya kembali memberikan manfaat untuk warga,” katanya.

Untuk tahap awal, setiap RW yang berminat akan mendapat sedikitnya empat tong komposter. Jumlah tersebut dapat bertambah sesuai luas wilayah, jumlah RT dan kebutuhan pengelolaan sampah organik di masing-masing lingkungan.

Baca Juga:  Kabel PJU Dicuri, Dishub Surabaya Laporkan Kerugian dan Modus Pelaku

“Tiap RW di wilayah binaan saya yang berminat untuk melakukan program pengolahan limbah organik saya distribusikan masing-masing minimal empat tong komposter, bergantung cakupan dan luas wilayah RT masing-masing dalam satu RW,” kata Cak Yebe.

Tong komposter yang dibagikan memiliki kapasitas 160 liter. Menurut Cak Yebe, ukuran tersebut dipilih agar dapat digunakan secara komunal dan menampung sampah organik dalam jumlah cukup besar.

“Saya memberikan bantuan langsung berupa unit tong komposter per RW sebanyak minimal empat pcs tong komposter kapasitas 160 liter atau kapasitas besar,” ujar mahasiswa doktoral Ilmu Hukum Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya tersebut.

Dalam rangkaian jaring aspirasi masyarakat, Cak Yebe menyiapkan sekitar 200 unit tong komposter untuk RW-RW binaannya di Dapil 5 Surabaya. Bantuan itu diberikan secara swadaya sebagai langkah awal menggerakkan warga mengolah sampah dari lingkungan sendiri.

Baca Juga:  Realisasi Program "Dandan Omah" Capai 1.200 Unit, Pemkot Surabaya Optimis Tuntas November 2023

“Kurang lebih dalam jaring aspirasi kali ini saya akan memberikan bantuan sebanyak 200 unit tong komposter yang dibagikan di RW-RW binaan saya di Dapil 5, secara swadaya dari saya pribadi,” tuturnya.

Cak Yebe menegaskan komposter bukan tujuan akhir. Alat tersebut hanya menjadi pintu masuk untuk membangun kegiatan produktif yang lebih luas di kampung. Sampah organik yang diolah dapat menghasilkan kompos untuk tanaman pangan, kebun warga maupun kegiatan urban farming.

“Sampah organik diolah, kemudian hasilnya bisa digunakan untuk tanaman, kebun pangan atau kegiatan produktif lain sehingga ketahanan pangan benar-benar tumbuh dari kampung,” tegasnya.

Ia berharap warga nantinya tidak bergantung pada bantuan. Setelah pengelolaan sampah berjalan, kegiatan dapat dikembangkan sesuai potensi setiap wilayah, termasuk tanaman pangan dan budidaya ikan.

“Harapannya nanti warga tidak hanya menerima bantuan, tetapi bisa mengembangkan sendiri. Kalau sudah berjalan, dari komposter bisa berkembang ke tanaman pangan, budidaya ikan atau kegiatan lain yang mendukung ketahanan pangan,” pungkasnya.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT