Jumat, 30 Oktober 2026
Image Slider

Dari Hidroponik ke Ayam Petelur, Cak Yebe Bangun Pangan Kampung

TheJatim.com – Ketahanan pangan di Kota Pahlawan tidak harus menunggu lahan pertanian luas. Dari gang permukiman, kebun hidroponik hingga pengolahan sampah organik, warga Surabaya dinilai mampu membangun sumber pangan sekaligus penggerak ekonomi kampung.

Pandangan itu disampaikan Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko saat menjaring aspirasi warga di RT 7 RW 1, Kelurahan Kedurus, Kecamatan Karang Pilang, Rabu (7/10/2026). Politisi Gerindra yang akrab disapa Cak Yebe itu sekaligus meninjau kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu yang dikelola masyarakat.

“Selain disuplai ke supermarket dan pasar modern, juga didistribusikan kepada balita, ibu hamil, dan lansia di wilayah sekitar. Jadi manfaat urban farming ini tidak hanya untuk ekonomi, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan gizi warga,” ujar Cak Yebe.

Menurut dia, kebun hidroponik tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang lebih besar. Bukan hanya menghasilkan sayuran, tetapi juga membangun rantai pangan dari produksi, pemanfaatan hasil panen hingga pemasaran.

Dorongan itu relevan dengan arah kebijakan pertanian perkotaan Surabaya. Pemkot melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) pada 2026 mengembangkan urban farming sebagai gerakan masyarakat. Program tersebut menyasar pemanfaatan pekarangan, lahan aset, fasilitas umum dan ruang yang belum termanfaatkan.

Baca Juga:  Stabilitas Harga Terjaga, Surabaya Alami Deflasi 0,07 Persen

“Bantuan ini saya berikan untuk mendukung operasional kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu. Harapannya, kegiatan yang sudah berjalan ini bisa semakin produktif dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” kata Cak Yebe.

Dalam kunjungan tersebut, Cak Yebe memberikan dukungan dana Rp10 juta untuk operasional kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu. Bantuan itu diarahkan untuk menjaga keberlanjutan kegiatan sekaligus mendorong kebun warga agar tidak berhenti sebagai aktivitas lingkungan semata.

Ia juga menyerahkan empat unit tong komposter kepada warga. Langkah tersebut dinilai penting karena urban farming tidak cukup hanya bicara soal tanaman. Sampah organik rumah tangga juga bisa menjadi bagian dari siklus produksi apabila dikelola dengan benar.

“Pengelolaan sampah organik juga harus berjalan bersama dengan urban farming. Karena itu, saya memberikan empat unit tong komposter agar limbah organik yang ada bisa dikelola dan dimanfaatkan kembali,” ujar Cak Yebe.

Baca Juga:  Warga Sidotopo Wetan Keluhkan Banjir, PJU, Hingga Pelatihan Kerja

Konsep tersebut bukan hal baru dalam pengembangan pertanian perkotaan Surabaya. Pada awal 2026, pelatihan urban farming di RW 5 Babatan bahkan mengajarkan pemanfaatan bahan organik menjadi pakan alternatif ikan lele. Artinya, sampah rumah tangga dapat didorong menjadi sumber daya yang kembali masuk ke kegiatan pangan warga.

Cak Yebe kemudian meminta warga tidak terpaku pada satu jenis usaha. Jika kondisi lahan memungkinkan, kawasan tersebut dapat dikembangkan dengan peternakan ayam petelur sebagai pelengkap kebun hidroponik.

“Lahan yang ada jangan hanya dimanfaatkan untuk hidroponik. Kalau masih memungkinkan, bisa dikembangkan untuk ternak ayam petelur sehingga ada diversifikasi usaha dan hasil yang bisa mendukung ketahanan pangan warga,” kata dia.

Diversifikasi itu dinilai penting agar ketahanan pangan tidak berhenti pada kemampuan menanam sayuran. Produksi telur, sayuran, pengolahan sampah organik dan pemasaran bisa dikembangkan secara bertahap sesuai kemampuan warga.

“Yang kita dorong adalah bagaimana warga bisa mengelola potensi yang ada di lingkungannya sendiri. Dari hidroponik, pengolahan sampah, kemudian bisa berkembang ke peternakan dan kegiatan produktif lainnya,” tuturnya.

Baca Juga:  UKT Beasiswa Pemuda Tangguh Rata Rp2,5 Juta, Picu Masalah Mahasiswa

Pengembangan model semacam itu sejalan dengan arah urban farming Surabaya yang kini mulai diarahkan lebih luas. Pada Juli 2026, Pemkot Surabaya menyiapkan 11 titik demonstration plot urban farming untuk menjadi lokasi percontohan pengembangan pertanian perkotaan. Komoditas, luas lahan dan produktivitas menjadi bagian dari data yang disiapkan untuk pengembangan model tersebut.

Karena itu, Cak Yebe berharap kebun Sri Rejeki Jitu tidak hanya dipandang sebagai kebun hidroponik warga. Ia ingin kegiatan tersebut berkembang menjadi contoh bagaimana kampung di tengah kota dapat mengelola lahan terbatas, sampah rumah tangga dan potensi ekonomi menjadi sumber pangan.

“Harapannya, warga tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi bisa terus mengembangkan usaha ini secara mandiri. Kalau dikelola bersama dan konsisten, urban farming bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan di tingkat kampung,” pungkas Cak Yebe.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT