TheJatim.com – Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Deni Wicaksono, menegaskan bahwa arah politik Indonesia mulai mengalami perubahan. Generasi muda dinilai tidak lagi sepenuhnya menjadikan uang sebagai faktor utama dalam menentukan pilihan politik.
Pernyataan itu disampaikan Deni saat menghadiri pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se-Kabupaten Jember di Ballroom Cempaka Hotel, Minggu (24/5/2026).
Di hadapan kader partai, Deni menyebut dominasi pemilih muda pada Pemilu 2029 menjadi peluang besar bagi partai politik untuk menghadirkan politik yang lebih sehat, rasional, dan berbasis gagasan.
Menurutnya, sekitar 58 persen pemilih pada pemilu mendatang berasal dari kalangan generasi muda. Kondisi itu dinilai menjadi momentum penting untuk mengubah pola politik transaksional yang selama ini masih kuat terjadi di sejumlah daerah.
“Kalau 58 persen pemilih besok adalah anak muda, maka memilih tidak hanya karena urusan duit sebagai penentu, tetapi juga kredibilitas diperhatikan. Ruang itu yang harus kita rangkul,” ujar Deni.
Wakil Ketua DPRD Jawa Timur itu juga menyoroti meningkatnya pragmatisme politik masyarakat dalam berbagai momentum pemilihan di Kabupaten Jember. Meski begitu, ia meminta kader PDI Perjuangan tidak kehilangan arah perjuangan politik kerakyatan.
Menurut Deni, tantangan politik uang justru harus dijawab dengan kerja nyata dan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda yang kini semakin kritis terhadap isu sosial, ekonomi, hingga rekam jejak calon pemimpin.
“Di Jember, pragmatisme rakyat dalam event politik memang naik. Karena itu kita tidak boleh gentar. Kita harus bertekad menjungkirbalikkan politik uang menjadi politik perjuangan,” tegasnya.
Fenomena pergeseran perilaku pemilih muda memang mulai terlihat dalam beberapa kontestasi politik nasional. Anak muda saat ini cenderung aktif mengakses informasi melalui media digital dan media sosial sebelum menentukan pilihan politik.
Situasi tersebut membuat partai politik dituntut lebih adaptif, tidak hanya hadir saat pemilu, tetapi juga mampu membangun komunikasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari generasi muda.
DPD PDI Perjuangan Jawa Timur sendiri mulai memperluas pendekatan politik melalui kegiatan komunitas, olahraga, hingga ruang kreatif anak muda. Beberapa program seperti Soekarno Fun Run dan forum diskusi “Red Talk” disebut menjadi cara partai menjangkau kelompok nonpartisan.
Deni mengakui pendekatan formal dengan bahasa politik yang terlalu berat sering kali sulit diterima anak muda. Karena itu, partai memilih pendekatan yang lebih cair dan inklusif agar pesan politik dapat diterima tanpa kesan menggurui.
“Karena kalau kita ingin mengajak anak muda langsung berbicara politik dan pemerintahan, itu akan menjadi berat,” katanya.
Ia menambahkan, kader muda di tubuh PDI Perjuangan juga diberi ruang untuk berkembang sesuai minat dan kreativitas masing-masing melalui berbagai organisasi sayap partai seperti Repdem, Taruna Merah Putih (TMP), hingga Banteng Muda Indonesia (BMI).
Menurut Deni, keterlibatan anak muda dalam politik tidak cukup hanya menjadi pelengkap demokrasi. Generasi muda harus menjadi motor perubahan yang mampu mendorong lahirnya politik yang lebih bersih dan berpihak kepada rakyat.


