Thejatim.com – Saya ceritakan dari kitab Ihya Ulumuddin, ada dikisahkan begini: Ada seorang begal, yang tidak ada baiknya sama sekali. Dia masyhur sebagai begal karena sudah 40 tahun lamanya. Jadi begal dua tahun saja sudah jelek, ini sampai 40 tahun.
Ketika melihat ada Nabi Isa dan seorang Hawari (pengikut setia Nabi Isa) sedang berjalan berdua. Begal tadi spontan berucap, “Orang kok begitu baiknya, aku ingin berjalan bersama mereka, barangkali bisa dapat berkahnya.”
Ketika berjalan bersama dan jejer (sejajar) dengan orang Hawari tadi, dia pun merasa risih. Orang Hawari lalu berpindah ke samping Nabi Isa. Akhirnya preman tadi sendirian di belakang Nabi Isa dan Hawari yang berjalan sejajar di depannya. Tapi dia bersyukur pernah bersanding (berjalan sejajar) dengan orang Hawari tersebut, karena begitu cintanya dengan orang baik.
Saat itu juga Nabi Isa dapat wahyu dari Allah, “Wahai Isa, dua orang ini harus memulai amal dari nol.” Nabi Isa pun bertanya, “Maksudnya bagaimana, Gusti?”
Katakan pada orang Hawari (santri andalanmu) yang jalan bersamamu: “Semua amalnya aku hapus karena sombong (ujub). Dan preman (begal) ini semua kejelekannya aku hapus karena tawadhu’. Sampaikan pada mereka berdua, untuk sama-sama memulai amalnya dari awal (nol).”
Orang Hawari itu pun menangis. Habis semua. Orang kalau ujub (menyombongkan) amal baiknya makan bisa jadi akan habis, dihapuskan semua pahala amal baiknya.
Analogi Taubat
Ibaratnya, kamu sehari mandi lima kali itu pasti bersih, namun jika tercebur sekali ke dalam kotoran maka pasti langsung kotor. Demikian juga sebaliknya, orang yang tiap hari membersihkan septic tank (terkena kotoran), sekali mandi akan jadi bersih. Tuhan buat perumpamaan seperti itu.
Gersang karena kemarau setahun bisa dihapus dengan hujan sehari. Orang yang maksiat setahun begitu taubat sekali maka selesai, dihapus semua keburukannya yang lalu. Orang kafir 40 tahun, lalu bertaubat dan masuk Islam sebelum maut menjemput, maka dosa kafirnya yang 40 tahun dan yang diperhitungkan hanya amal baiknya, walaupun hanya setahun.
Di dunia ini, orang baik itu tidak jelas, demikian juga orang jelek. Yang jelas hanyalah betapa luasnya rahmat Allah SWT.
وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَاَكْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِاٰيٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ
Artinya: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa dan menunaikan zakat serta bagi orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 156)
Termasuk takwa itu menghilangkan sifat sombong, sok suci, dan merasa benar sendiri.
Nabi itu kalau mencontohkan orang taubat habis-habisan. Ada orang telah membunuh 99 orang dan dia ingin bertaubat. Tanya kepada seorang pendeta dijawab tidak bisa, maka dibunuh sekalian sehingga genap seratus.
Kalau bertanya pada ulama, mungkin akan dijawab, “Siapa yang boleh menghalangi seseorang untuk bertaubat? Tapi kamu sekarang punya tradisi berbuat jelek, maka sering-seringlah pergi mengaji (mengikuti kajian Islam).”
Ahli Maksiat dan Perdebatan Malaikat
Ada kisah tentang mengaji baru dapat 50 plus 1. Jadi bukan hanya KPU saja, malaikat itu dulu sudah punya teori 50 plus 1.
Ada seorang ahli maksiat yang sudah berniat untuk hijrah (mengaji) ke daerah yang baik, tepat di tengah perjalanan dia mati. Malaikat Azab sudah bersemangat, karena ada bidikan (yang akan diazab). Saat hendak ditarik oleh Malaikat Azab, tapi Malaikat Rahmat tidak terima, “Dia adalah bagianku karena niatnya mau mengaji.” Kata Malaikat Azab, “Tidak bisa, ini bagianku, dia orang bermasalah, sering berbuat maksiat.”
Maka terjadilah perdebatan antara dua malaikat tersebut. Lalu Allah mengutus Jibril, “Wahai Jibril, berilah keputusan.” Malaikat Jibril itu kan terpelajar, “Kalian ribut-ribut ini maksudnya apa?”
“Ini dia mau mondok, berarti niatnya baik,” kata Malaikat Rahmat. Kata Malaikat Azab, “Tidak bisa, dia orang bermasalah, sering maksiat.” Malaikat Jibril lalu memberi solusi, “Kalau begitu diukur saja jarak perjalanannya.”
Setelah diukur ternyata 50 plus 1. Dia telah melewati 50 persen dari rumahnya menuju tempat mengajinya, tapi jelek lebih satu langkah. Bahkan tidak sampai lebih satu, baru 50 koma sekian.
Tapi ternyata itu dimenangkan oleh Malaikat Jibril, artinya dia dianggap orang baik. Jadi teori 50 plus 1 itu kuno, pernah diriwayatkan dalam sebuah hadis. Ini menunjukkan adanya rahmat Allah, bukan berarti Allah mengabaikan dosa, tapi bukti bahwa rahmat Allah itu begitu luas. Jadi jangan merasa sok suci (paling baik amalnya) seperti orang Hawari tadi yang jadi santri andalan Nabi Isa. Gara-gara dia sombong (ujub) lalu amal baiknya ditarik (dihapus pahalanya) oleh Allah SWT.


