Jumat, 30 Oktober 2026
Image Slider

Mahasiswa UNESA Bongkar Makna September Hitam dan Keadilan

TheJatim.com – Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengangkat kembali isu sejarah, ketidakadilan, dan hak asasi manusia melalui diskusi bertajuk September Hitam: Mengingat Sejarah, Menguji Nalar, Mempertanyakan Keadilan, Kamis (24/9/2026) malam.

Kegiatan yang digelar Divisi Sosial, Politik, dan Budaya (Sospolbud) HIMA Manajemen UNESA itu dikemas melalui DISNALOGI (Diskusi Nalar dan Logika), mimbar bebas, serta doa bersama. Kepala Divisi Sospolbud HIMA Manajemen UNESA, Jingga, mengatakan forum tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengenang peristiwa masa lalu.

“September Hitam ini dibuat untuk mengajak kita kembali melihat sejarah, bukan hanya untuk mengingat apa yang pernah terjadi, tetapi juga untuk mengulitinya lebih dalam. Karena sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lalu; di dalamnya ada banyak hal yang perlu dipertanyakan, dibongkar, dipahami, dan dibicarakan kembali,” ujar Jingga.

Istilah September Hitam selama ini digunakan untuk mengingat sejumlah peristiwa kelam yang terjadi pada September. Komnas HAM, misalnya, pernah mencatat tragedi 1965-1966, Tanjung Priok 1984, Semanggi II 1999, pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib pada 2004, hingga peristiwa Reformasi Dikorupsi 2019 dalam rangkaian ingatan tersebut.

Baca Juga:  Silatwil BEM PTMAI Zona V Jatim Bali Resmi Dibuka

Karena itu, diskusi mahasiswa UNESA tidak berhenti pada daftar peristiwa. Forum tersebut mencoba mengajak peserta membaca latar belakang, dampak, serta persoalan keadilan yang muncul dari berbagai peristiwa sejarah.

Jingga mengatakan mahasiswa perlu melihat sejarah dari lebih dari satu sudut pandang. Menurut dia, pemahaman tersebut penting agar peristiwa masa lalu tidak sekadar menjadi catatan yang dihafalkan di ruang kelas.

“Lewat diskusi ini, kita ingin belajar menguliti sejarah dari berbagai sisi, melihat apa yang ada di balik peristiwa dan narasi yang selama ini kita kenal. Supaya apa yang terjadi tidak berhenti sebagai ingatan, tetapi bisa menjadi pelajaran untuk memahami hari ini dan melangkah ke depan,” katanya.

Salah satu pemantik diskusi, Adamas Hafizh Addin, kemudian memperluas pembahasan mengenai makna “September Hitam”. Ia mengajak peserta tidak membatasi persoalan ketidakadilan hanya pada satu bulan, peristiwa, atau simbol tertentu.

Baca Juga:  DPRD Surabaya Temukan Dugaan Pelanggaran Pembangunan Cafe NOOK oleh PT SAS

Menurut Adamas, persoalan sosial yang membuat masyarakat mengalami kesulitan dapat berlangsung kapan saja. Karena itu, refleksi terhadap ketidakadilan tidak semestinya berhenti ketika momentum September berakhir.

“Tidak ada September Hitam. Semua hari itu hitam bagi orang-orang yang masih merasakan kesusahan dalam hidupnya dan tidak sejahtera atas dirinya sendiri,” ujar Adamas.

Pandangan tersebut menjadi salah satu titik diskusi untuk menghubungkan ingatan sejarah dengan persoalan sosial hari ini. Peserta diajak mempertanyakan bagaimana sejarah dipahami, siapa yang terdampak, serta bagaimana pengalaman masa lalu dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda.

Ketua HIMA Manajemen UNESA, Erick Ferdiansyah Reziyanto, mengatakan DISNALOGI merupakan ruang belajar bagi mahasiswa untuk membangun keberanian dalam membaca sejarah secara kritis.

“Bagi kami, September Hitam bukan sekadar tentang mengingat masa lalu, tetapi tentang keberanian untuk belajar darinya. HIMA Manajemen menghadirkan forum ini agar mahasiswa tidak menjadi generasi yang hanya mewarisi sejarah, tetapi juga memahami, mempertanyakan, dan ikut menjaga agar luka yang sama tidak kembali terulang,” ujar Erick.

Baca Juga:  Ratusan Atlet Muda Ramaikan Kejuaraan Panjat Tebing di Taman Bungkul

Pembahasan tersebut menjadi relevan karena sejumlah kasus yang dikaitkan dengan September masih menjadi bagian dari pembicaraan mengenai penegakan HAM. Dalam kasus pembunuhan Munir, misalnya, Komnas HAM membentuk Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM yang Berat pada Januari 2023. Dalam keterangan resminya, Komnas HAM menyebut proses penyelidikan masih berjalan, termasuk pemeriksaan saksi dan pengumpulan dokumen terkait kasus tersebut.

Melalui DISNALOGI, HIMA Manajemen UNESA berupaya menjadikan kampus sebagai ruang dialog bagi mahasiswa untuk menguji informasi dan membaca persoalan sosial dari berbagai perspektif. Bagi penyelenggara, mengingat sejarah bukan sekadar menoleh ke belakang, tetapi juga mempertanyakan apa yang masih belum selesai pada hari ini.

“Supaya apa yang terjadi tidak berhenti sebagai ingatan, tetapi bisa menjadi pelajaran untuk memahami hari ini dan melangkah ke depan,” ujar Jingga.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT