TheJatim.com – Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya Muhammad Saifuddin meminta Kepala Satpol PP Surabaya tidak membiarkan dugaan tindakan arogan anggotanya terhadap ambulans yang membawa jenazah. Ia bahkan mendesak oknum tersebut dicopot jika terbukti melakukan tindakan seperti yang terekam dalam video yang beredar.
Video tersebut memperlihatkan seorang anggota Satpol PP mendatangi ambulans milik BPJS Watch Surabaya yang sedang membawa jenazah dari Surabaya menuju Sampang, Madura. Ia menilai tindakan itu tidak hanya merugikan pengemudi ambulans, tetapi juga berpotensi mencoreng nama Satpol PP dan Pemerintah Kota Surabaya.
“Ini sudah luar biasa mencemarkan Satpol PP Kota Surabaya dan juga mencemarkan Pemkot Surabaya. Karena tindakan ini dilakukan oleh oknum yang tidak punya perikemanusiaan dan tidak mempunyai empati terhadap orang yang lagi kena musibah,” kata Bang Udin sapaan akrabnya kepada The Jatim, Jum’at (25/9/2026).
Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 19.05 WIB di kawasan Jalan Taman Putro Agung Kulon, arah Suramadu. Dalam rekaman yang beredar, anggota Satpol PP terlihat mengetuk kaca ambulans dan mempertanyakan penggunaan sirene serta kondisi yang dibawa kendaraan tersebut.
Bang Udin menilai tindakan petugas tersebut perlu diperiksa secara serius karena tugas Satpol PP berkaitan dengan penegakan peraturan daerah dan ketertiban umum. Menurut dia, pemeriksaan terhadap kendaraan yang sedang menjalankan kepentingan darurat tidak boleh dilakukan dengan cara yang justru menimbulkan persoalan baru.
“Yang kedua adalah apa coba relevansinya kalau benar ini adalah Satpol PP? Satpol PP ini tugasnya itu menegakkan Perda, bukan kemudian melakukan sweeping terhadap ambulans yang memakai sirene. Ini jauh di luar nalar kita,” tegasnya.
Sorotan legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Surabaya II itu juga tertuju pada kendaraan yang digunakan oknum tersebut. Ia menyebut motor petugas dalam video terlihat tidak memiliki kedua spion. Kondisi itu dinilai menjadi persoalan tersendiri karena petugas yang mempertanyakan aspek keselamatan ambulans justru disebut menggunakan kendaraan yang kelengkapan keselamatannya patut dipertanyakan.
“Yang ketiga adalah si oknum ini juga tidak memenuhi, tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Tidak mematuhi aturan-aturan lalu lintas. Salah satunya motor orang ini tidak ada spionnya, dua-duanya tidak ada spionnya, dengan juga menegur bahasa-bahasa yang sangat kasar,” ujar politisi muda Partai Demokrat itu.
Di sisi lain, Plt Kepala Satpol PP Surabaya Irna Pawanti menyebut kejadian tersebut bermula dari miskomunikasi. Menurut Irna, anggota Satpol PP bernama Dimas awalnya melihat kedua spion ambulans dalam kondisi tertutup dan bermaksud mengingatkan pengemudi. Namun, suara sirene membuat komunikasi tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Setelah mengetahui ambulans membawa jenazah, petugas disebut mempersilakan kendaraan tersebut melanjutkan perjalanan. Persoalan itu kemudian dimediasi Kecamatan Bulak. Kedua pihak disebut telah saling meminta maaf dan anggota Satpol PP yang bersangkutan juga membuat surat pernyataan.
Meski Satpol PP menyebut insiden itu sebagai miskomunikasi, Saifuddin meminta penjelasan tersebut tidak serta-merta dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan anggotanya. Ia meminta pimpinan Satpol PP memeriksa rekaman kejadian dan meminta pertanggungjawaban petugas jika ditemukan pelanggaran.
“Untuk itu, saya meminta kepada Kepala Satpol PP untuk memanggil orang ini, memberikan penegasan terhadap orang ini, kalau perlu copot orang ini. Jangan sampai ada anggota Satpol PP yang arogan, macak seperti preman,” tegasnya.
Menurut Bang Udin, Komisi A DPRD Surabaya juga berencana memanggil anggota Satpol PP yang bersangkutan untuk meminta penjelasan langsung mengenai kejadian tersebut. Langkah itu diperlukan agar persoalan tidak berhenti hanya pada permintaan maaf setelah video telanjur menjadi perhatian publik.
Ia juga mempertanyakan klarifikasi Satpol PP yang menyebut kejadian tersebut sebagai miskomunikasi. Saifuddin menilai keterangan tersebut harus diuji dengan fakta dalam rekaman video dan keterangan pihak ambulans, bukan hanya berdasarkan penjelasan internal dari anggota yang terlibat.
“Apa yang disampaikan oleh Plt Kasatpol PP Kota Surabaya itu sebetulnya jauh di luar fakta yang terjadi. Jadi saya minta kepada Satpol PP untuk tidak membenarkan sesuatu yang salah. Jangan kemudian membenarkan anggotanya yang arogan, seperti preman jalanan, kemudian dilindungi,” pungkas alumni aktivis PMII itu.


