TheJatim.com – Aksi teatrikal bayi raksasa dengan tubuh dipenuhi popok bekas dan sampah plastik menyita perhatian dalam forum bertajuk Dari Sungai Menuju Kesejahteraan: Pengelolaan Sampah Terintegrasi dan Penguatan Pekerja Sektor Persampahan Informal di Kota Surabaya, Jumat (31/7/2026). Aksi tersebut menjadi simbol keras atas semakin parahnya pencemaran Kali Tebu akibat limbah rumah tangga yang terus dibuang ke sungai.
Manajer Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK), Amiruddin Muttaqin, menegaskan bahwa temuan di lapangan menunjukkan persoalan sampah domestik di Surabaya belum terselesaikan dari hulunya.
“Dominasi popok sekali pakai menunjukkan persoalan pengelolaan sampah domestik yang belum terselesaikan. Sungai tidak boleh terus menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga. Dibutuhkan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, mulai dari pemilahan di sumber, pengangkutan, hingga pengolahan residu yang selama ini belum tertangani,” ujarnya.
Data hasil pemantauan Program MOZAIK memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Sebanyak 80,1 persen sampah yang dievakuasi dari Kali Tebu merupakan sampah residu. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen berupa popok sekali pakai, sedangkan sisanya terdiri atas plastik sekali pakai dan limbah residu lain yang sulit didaur ulang.
Temuan itu memperkuat fakta bahwa sungai masih menjadi lokasi pembuangan akhir limbah rumah tangga. Padahal, residu seperti popok sekali pakai hampir tidak memiliki nilai ekonomi sehingga tidak dapat dimanfaatkan kembali oleh pekerja sektor daur ulang. Kondisi tersebut memperbesar beban lingkungan sekaligus meningkatkan risiko pencemaran air yang berdampak pada kesehatan masyarakat.
Selain menjadi ancaman bagi ekosistem sungai, pencemaran residu juga dapat memperburuk kualitas sanitasi kawasan perkotaan. Sejumlah kajian pengelolaan sampah perkotaan menunjukkan limbah domestik yang tidak tertangani berpotensi menyumbat aliran sungai, memicu banjir, menimbulkan bau tidak sedap, hingga meningkatkan risiko penyebaran penyakit akibat kualitas air yang terus menurun.
Manajer Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahamatullah, mengatakan hasil analisis komposisi sampah memberikan gambaran nyata mengenai sumber pencemaran yang terjadi di Kali Tebu.
“Data menunjukkan mayoritas sampah yang masuk ke Kali Tebu merupakan residu yang sulit didaur ulang. Popok sekali pakai menjadi komponen terbesar sehingga diperlukan intervensi kebijakan yang lebih spesifik. Data ini penting sebagai dasar penyusunan strategi pengurangan sampah dan evaluasi kebijakan pengelolaan sampah perkotaan,” katanya.
Forum tersebut juga menyoroti pentingnya memperkuat peran pekerja sektor persampahan informal, mulai dari pemulung, pengepul hingga pengelola bank sampah. Selama ini mereka berkontribusi besar menyelamatkan material yang masih memiliki nilai ekonomi sebelum berakhir di tempat pembuangan akhir. Namun tingginya dominasi sampah residu membuat jumlah material yang masih bisa didaur ulang semakin terbatas.
Amiruddin menilai penanganan persoalan sampah tidak cukup dilakukan melalui kegiatan pembersihan sungai semata. “Pencegahan harus dimulai dari rumah tangga melalui pengurangan sampah residu, penyediaan layanan pengelolaan popok sekali pakai, serta penguatan kebijakan yang mendukung ekonomi sirkular,” tegasnya.
Melalui forum tersebut, Program MOZAIK mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara Pemerintah Kota Surabaya, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan pekerja sektor persampahan informal. Sinergi tersebut dinilai penting untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang mampu menekan kebocoran sampah ke sungai sekaligus memperkuat praktik ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.
Aksi bayi raksasa di penghujung acara menjadi pengingat bahwa persoalan sampah hari ini akan menentukan kualitas lingkungan generasi mendatang. Sungai yang bersih tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga menjadi fondasi kesehatan masyarakat, ketahanan lingkungan, dan kesejahteraan Kota Surabaya.
“Kami berharap data ini menjadi dasar lahirnya kebijakan yang lebih konkret agar sungai tidak lagi menjadi tempat pembuangan sampah, melainkan kembali menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat,” tutup Alaika Rahamatullah.


