Sabtu, 9 Mei 2026
Image Slider

Kiai Haji Mas Ahmad Muhajir

The Angel in Disguise

*Oleh Isfandiari Mahbub Djunaidi.

TheJatim.com – Izinkan saya menjulukinya seperti pada judul di atas. Julukan itu terlintas spontan setelah membaca hikayat beliau yang ditulis sahabat saya, Wasid Masyur, dalam buku Jejak Nasionalisme Pejuang Laskar Hizbullah Surabaya terbitan Pustaka Idea, 2021.

Kiai yang masyhur dari Pondok Pesantren An-Najiyah, Kampung Ndresmo, Surabaya Selatan ini lahir pada awal abad ke-20, tepatnya tahun 1912 Masehi atau 1330 Hijriah. Para santrinya memanggil beliau “Buya”. Sosoknya seolah malaikat yang menyamar.

Ia dikenal sebagai kiai alim dan tawaduk, sekaligus memiliki kemampuan kanuragan. Pribadinya toleran, luwes dalam pergaulan, serta terlibat aktif dalam perjuangan pra dan pasca-revolusi. Ia berada di barisan Laskar Hizbullah melawan agresi Jepang, Belanda, dan Inggris. Setelah menghadapi kekuatan asing, ia juga berhadapan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), serta kelompok-kelompok radikal kontemporer yang dinilai berpotensi memecah belah umat.

Sebagai pendidik, ia melahirkan kader santri tangguh berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah dengan tiga pilar utama: ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah insaniyah atau basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

Baca Juga:  Skandal Lapas Kediri, Korban Alami Cacat Permanen Akibat Kekerasan

Karya dan Kiprah Kebudayaan

Kedalaman ilmunya melahirkan sejumlah karya, antara lain Takhalluq al-Akhlaq (Pembentukan Moral), Mafatih al-Abwab (Kunci-Kunci Pintu Pedoman Hidup Selamat), serta Tarjamah Tarbiyat al-Murid yang membahas sifat-sifat Allah dan Rasul serta relasi sosial.

Di bidang seni budaya, Buya dikenal piawai memainkan gambus dan hadrah. Ia menjadi pelindung Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (Ishari) Jawa Timur, bersama sejumlah ulama besar seperti KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, dan KH Idham Chalid yang duduk sebagai Ketua Dewan Kehormatan.

Jejak Perjuangan Revolusi

Ayahandanya, KH Mas Mansur, adalah pejuang yang pernah satu sel dengan KH Hasyim Asy’ari saat ditawan Jepang. Ia wafat sebagai syuhada setelah ditembak di penjara. Peristiwa itu menjadi luka mendalam, namun tidak menyurutkan langkah Buya melanjutkan perjuangan.

Ia bergabung dengan Laskar Hizbullah Mojokerto di bawah komando Mayor Mansyur Solichin. Ia terlibat langsung dalam pertempuran 10 November 1945, sejalan dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Dalam catatan sejarah, konflik tersebut menewaskan Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby dan Brigadir Jenderal Robert Guy Loder dari pihak Sekutu.

Baca Juga:  BERITA

Menghadapi Komunisme dan Gejolak Ideologi

Masuknya paham komunisme yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam memicu ketegangan di berbagai daerah. Melalui organisasi seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), terjadi perampasan tanah dalam kebijakan land reform era 1960-an. Sejumlah tanah rakyat, termasuk milik kiai dan santri, terdampak.

Nahdlatul Ulama melalui Ansor dan Banser turut terlibat dalam dinamika tersebut. Buya melakukan penguatan mental dan spiritual kepada santri pejuang. Banyak di antara mereka kemudian berkiprah di dunia militer, sementara Buya tetap konsisten di jalur dakwah dan pendidikan.

Menghadapi Kelompok Internal

Pada fase berikutnya, muncul kelompok yang dinilai keras dan eksklusif dalam memahami ajaran Islam. Dalam buku Wasid Masyur disebutkan nama Imam Haji Nurhasan Ubaidillah yang memimpin Darul Hadis sejak era 1940-an. Buya menilai gerakan tersebut berpotensi mengganggu harmoni, nilai Pancasila, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga:  Dakwah Lebay, Umat Goodbye

Polemik yang terjadi berlangsung panjang, bahkan berujung pada pelarangan organisasi melalui Surat Keputusan Republik Indonesia Nomor Kep-089/D.A/10/1971. Dalam perkembangannya, organisasi tersebut berganti nama menjadi Lembaga Karyawan Islam (Lemkari), Yayasan Pondok Pesantren Nasional (Yeppenas), dan kemudian Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Disebutkan bahwa terjadi perubahan konsep dan pendekatan setelah wafatnya Nurhasan.

Warisan Nilai Kebangsaan

Selama 77 tahun kehidupannya, Kiai Haji Mas Ahmad Muhajir mengajarkan pentingnya menjadi Muslim yang kuat lahir dan batin, sekaligus mencintai bangsa dengan sepenuh jiwa. Ia wafat pada 25 November 1989 atau 21 Rabiul Tsani 1410 Hijriah.

Jejaknya tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi hidup dalam kader-kader yang ia didik. Sosoknya, bagi banyak orang, benar-benar “the angel in disguise”.

Al-Fatihah.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT