TheJatim.com – Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, kembali menapaki jejak sejarah perjuangan bangsa dengan berziarah ke makam Proklamator RI Ir. Soekarno di Kota Blitar, Sabtu (14/6/2026).
Kehadiran Megawati bersama jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan, pengurus DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, anggota legislatif, serta kader partai dari berbagai daerah menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno yang setiap tahun diperingati sepanjang Juni.
Di tengah suasana khidmat, Megawati memimpin tabur bunga dan doa bersama di pusara sang ayah. Momen tersebut bukan sekadar agenda seremonial partai, melainkan memiliki makna emosional dan historis yang kuat.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, MH Said Abdullah, menegaskan bahwa ziarah tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus bakti seorang anak kepada ayahnya yang telah mewariskan gagasan besar tentang Indonesia.
“Hari ini Ibu Megawati didampingi jajaran DPP PDI Perjuangan dan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur berziarah. Ziarah ini adalah bagian dari bakti seorang anak kepada bapaknya, mendoakan beliau di pusaranya,” ujar Said Abdullah.
Menurut Ketua Badan Anggaran DPR RI itu, Bung Karno bukan hanya tokoh sejarah yang dikenang karena perannya dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Lebih dari itu, pemikiran Bung Karno tentang kedaulatan bangsa, ekonomi berdikari, persatuan nasional, dan gotong royong masih relevan menghadapi tantangan Indonesia masa kini.
Karena itu, kata Said, Megawati terus berupaya menjaga serta mewariskan nilai-nilai perjuangan Bung Karno kepada kader-kader PDI Perjuangan maupun generasi muda Indonesia.
“Salah satunya, Ibu ingin bangsa ini maju dan sejahtera, berdikari sesuai dengan mimpi Bung Karno. Semangat itu yang terus dirawat dan diwariskan kepada seluruh kader PDI Perjuangan,” katanya.
Bagi PDI Perjuangan, Bulan Bung Karno memiliki makna strategis sebagai ruang refleksi kebangsaan. Juni menjadi bulan penting dalam perjalanan sejarah Indonesia karena bertepatan dengan hari lahir Pancasila pada 1 Juni, hari lahir Bung Karno pada 6 Juni, serta wafatnya Sang Proklamator pada 21 Juni 1970.
Rangkaian kegiatan Bulan Bung Karno tahun ini juga diarahkan untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap pemikiran dan keteladanan Bung Karno yang menempatkan persatuan nasional sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
Usai berziarah, Megawati dijadwalkan melanjutkan agenda kebangsaan lainnya di Kota Blitar, yakni meresmikan hasil renovasi Istana Gebang pada Minggu (15/6/2026). Rumah bersejarah tersebut merupakan tempat tinggal masa kecil Bung Karno yang menyimpan banyak catatan penting perjalanan hidup sang proklamator sebelum menjadi pemimpin bangsa.
Said Abdullah menjelaskan, renovasi Istana Gebang dilakukan secara swadaya melalui semangat gotong royong kader PDI Perjuangan. Dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp4,1 miliar dan digunakan untuk memperbaiki sejumlah bagian bangunan agar tetap terjaga sebagai situs sejarah nasional.
“Besok Bu Mega meresmikan Istana Gebang, rumah masa kecil Bung Karno, sekaligus peresmian hasil renovasi rumah tersebut. Renovasi ini merupakan hasil gotong royong seluruh pengurus dan kader PDI Perjuangan,” tuturnya.
Menurutnya, proses renovasi tersebut bukan hanya soal mempercantik bangunan fisik, tetapi juga menjadi bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga memori kolektif bangsa.
Gotong royong yang menjadi dasar renovasi, lanjut Said, merupakan implementasi nyata dari ajaran Bung Karno yang menempatkan kebersamaan sebagai kekuatan utama dalam membangun Indonesia.
“Gotong royong adalah ajaran Bung Karno yang terus kami pegang. Apa yang dilakukan untuk Istana Gebang ini adalah bentuk penghormatan sekaligus tanggung jawab moral untuk menjaga warisan sejarah bangsa,” tegasnya.
Peresmian Istana Gebang diharapkan semakin menguatkan fungsi kawasan tersebut sebagai pusat edukasi sejarah, kebudayaan, dan pembelajaran kebangsaan. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal Bung Karno sebagai tokoh proklamator, tetapi juga memahami gagasan besar yang diwariskannya untuk Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, ziarah Megawati ke makam Bung Karno menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar untuk dikenang, melainkan dijadikan pijakan dalam merawat cita-cita Indonesia yang diperjuangkan para pendiri bangsa.


