Thejatim.com – Surabaya. Pelatihan Penggunaan Augmented Reality dalam Meningkatkan Pembelajaran Inklusif untuk Guru Sekolah Dasar Labschool UNESA dilaksanakan pada 11 September 2025 sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pembelajaran inklusif. Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru Sekolah Dasar Labschool UNESA yang memiliki komitmen untuk menciptakan proses pembelajaran yang adaptif, interaktif, dan mampu mengakomodasi keberagaman karakteristik serta kebutuhan belajar peserta didik, termasuk siswa berkebutuhan khusus.
Kegiatan pelatihan menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Zaenal Abidin, S.Pd., M.Pd. dan Prof. Dr. Wagino, M.Pd., yang memiliki kepakaran di bidang pendidikan dasar, teknologi pembelajaran, dan pendidikan inklusif. Materi yang disampaikan meliputi konsep dasar Augmented Reality (AR), urgensi pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran abad ke-21, prinsip-prinsip pembelajaran inklusif, serta strategi mengintegrasikan media AR ke dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan pemahaman peserta didik.

Pelaksanaan pelatihan menggunakan pendekatan partisipatif yang mengombinasikan penyampaian materi, demonstrasi penggunaan aplikasi Augmented Reality, praktik langsung, diskusi kelompok, serta pendampingan penyusunan skenario pembelajaran berbasis AR. Guru diberikan kesempatan untuk mencoba berbagai aplikasi Augmented Reality, mengeksplorasi objek tiga dimensi (3D), serta merancang aktivitas pembelajaran yang memanfaatkan visualisasi interaktif agar materi pelajaran lebih mudah dipahami oleh seluruh peserta didik dengan berbagai karakteristik kemampuan belajar.
Hasil pelatihan menunjukkan bahwa guru memperoleh peningkatan pemahaman mengenai konsep dan implementasi Augmented Reality dalam pembelajaran inklusif. Guru mampu mengoperasikan aplikasi AR, memilih media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, serta menyusun rancangan pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi digital untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik, kontekstual, dan bermakna. Selain itu, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung serta aktif berdiskusi mengenai berbagai alternatif penerapan AR pada berbagai mata pelajaran di sekolah dasar.
Salah satu luaran penting dari kegiatan ini adalah tersusunnya rancangan pembelajaran berbasis Augmented Reality yang dapat langsung diimplementasikan di kelas inklusif. Guru berhasil mengembangkan aktivitas pembelajaran yang memanfaatkan objek virtual tiga dimensi untuk menjelaskan konsep-konsep abstrak sehingga peserta didik lebih mudah memahami materi melalui pengalaman belajar yang interaktif. Pendekatan ini juga membantu guru dalam memberikan layanan pembelajaran yang lebih adaptif sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik belajar setiap peserta didik.
Secara keseluruhan, Pelatihan Penggunaan Augmented Reality dalam Meningkatkan Pembelajaran Inklusif untuk Guru Sekolah Dasar Labschool UNESA memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kompetensi profesional guru dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran berbasis digital. Kolaborasi antara narasumber dan peserta menghasilkan berbagai inovasi pembelajaran yang diharapkan mampu mendukung implementasi pendidikan inklusif yang lebih efektif. Ke depan, kegiatan serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan agar pemanfaatan Augmented Reality semakin optimal dalam menciptakan pembelajaran yang inovatif, inklusif, dan berpusat pada kebutuhan peserta didik.


