Jumat, 30 Oktober 2026
Image Slider

Jelang Muktamar NU, PDI Jatim Tegaskan Persaudaraan Religius Nasionalis

TheJatim.com – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), jajaran DPD PDI Perjuangan Jawa Timur berziarah ke makam KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Jombang, Selasa (25/8/2026). Ziarah tersebut menjadi penanda dukungan moral sekaligus upaya merawat hubungan historis antara kelompok nasionalis dan kalangan pesantren. Muktamar ke-35 NU sendiri akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas pada 27-31 Agustus 2026.

“NU telah membersamai Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Para kiai, pesantren, dan santri ikut mendirikan, mempertahankan, kemudian mengisi Republik melalui pendidikan, dakwah, dan pengabdian sosial. Karena itu, Muktamar NU di Jawa Timur juga menjadi kebahagiaan bagi kami. Kami ikut bungah,” kata Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Deni Wicaksono.

Rombongan PDI Perjuangan Jatim lebih dulu mendatangi makam KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Setelah itu, rombongan bergerak menuju kompleks Pondok Pesantren Tebuireng untuk berziarah ke makam Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan Gus Dur.

Menurut Deni, ziarah tersebut bukan sekadar agenda menjelang Muktamar. Ia melihat perjalanan ke makam tiga tokoh NU itu sebagai momentum untuk mengingat kembali sejarah panjang hubungan antara kekuatan religius dan nasionalis dalam perjalanan Indonesia. Apalagi, Tambakberas dipilih sebagai lokasi Muktamar ke-35 NU, forum permusyawaratan tertinggi organisasi yang akan membahas arah NU untuk lima tahun mendatang.

“Di PDI Perjuangan kami diajarkan memandang NU sebagai saudara tua. NU lahir pada 1926, sementara PNI yang didirikan Bung Karno dan menjadi salah satu akar sejarah perjuangan politik kami lahir pada 1927. Persaudaraan ini bukan lahir karena momentum politik, tetapi tumbuh dari sejarah panjang perjuangan menjaga Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga:  Jawa Timur: Kontributor Kedua Terbesar dalam Ekonomi Kreatif Nasional

Mbah Wahab menjadi sosok penting dalam sejarah berdirinya NU. Sebelum organisasi tersebut lahir pada 31 Januari 1926, KH Wahab Chasbullah telah aktif membangun berbagai wadah pendidikan dan pergerakan, antara lain Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, dan Nahdlatut Tujjar. Ia juga dikenal sebagai salah satu penggerak Komite Hijaz yang menjadi bagian dari proses menuju lahirnya NU.

“Mbah Wahab adalah seorang penggerak. Dari lingkungan pesantren beliau membangun pendidikan, mempertemukan para ulama, menggerakkan kesadaran kebangsaan, hingga ikut mendirikan Nahdlatul Ulama. Semangat Ya Lal Wathan yang beliau wariskan pun terus hidup hingga hari ini: kecintaan kepada tanah air dan pengabdian kepada Indonesia,” kata Deni.

Dari Tambakberas, rombongan melanjutkan ziarah ke Tebuireng. Di sana, Deni juga mengenang KH Hasyim Asy’ari sebagai salah satu tokoh penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia mengaitkannya dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang menjadi salah satu tonggak sejarah keterlibatan ulama dan santri dalam mempertahankan Republik. Semangat tersebut kemudian berkaitan erat dengan rangkaian perjuangan yang bermuara pada Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

“Dari Mbah Hasyim dan para kiai kita belajar bahwa mencintai agama dan mencintai tanah air tidak pernah harus dipertentangkan. Ketika Republik membutuhkan pembelaan, kiai dan santri berdiri di depan. Semangat yang sama diperjuangkan Bung Karno dan para pendiri bangsa: Indonesia merdeka, berdaulat, dan menjadi rumah bersama bagi seluruh rakyatnya,” kata Deni.

Baca Juga:  Pemkot Surabaya Larang Jual LKS, Guru Diminta Susun Soal Secara Mandiri

Jejak persaudaraan kebangsaan itu, menurut Deni, kembali terlihat pada masa Reformasi melalui pertemuan empat tokoh nasional dalam Deklarasi Ciganjur pada 10 November 1998. Saat itu, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X bertemu dalam Dialog Nasional untuk membicarakan masa depan Indonesia setelah berakhirnya Orde Baru.

“Gus Dur dan Ibu Megawati pernah berdiri bersama di Ciganjur ketika Indonesia memasuki masa yang menentukan. Keduanya sama-sama menjaga demokrasi, keberagaman, dan persatuan Indonesia. Zamannya berbeda dengan Mbah Wahab, Mbah Hasyim, dan Bung Karno, tetapi rumah yang mereka jaga tetap sama: Indonesia,” kata Deni.

Selain berziarah, PDI Perjuangan Jawa Timur juga menyiapkan pelayanan bagi peserta Muktamar. Posko Kesehatan dibuka di sekitar kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Posko tersebut dikelola Badan Penanggulangan Bencana (BAGUNA) PDI Perjuangan bersama Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI).

Langkah itu dilakukan sebagai bentuk penyambutan terhadap para kiai, nyai, santri, dan muktamirin yang mulai berdatangan ke Jombang. Berdasarkan jadwal panitia, registrasi peserta Muktamar dimulai Rabu (26/8/2026), sedangkan pembukaan resmi dijadwalkan Kamis (27/8/2026).

“Bagi kami, menyambut Muktamar bukan hanya mengucapkan selamat. Kami ingin ikut membantu dan melayani. Para kiai, nyai, santri, dan Nahdliyin yang datang ke Jawa Timur adalah tamu yang harus kita muliakan bersama,” ujar Deni.

Wakil Ketua Bidang Keagamaan dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa DPD PDI Perjuangan Jawa Timur KH Abdul Wahab Yahya atau Gus Wahab, yang juga pengasuh PP Al-Muhajirin 2 di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, mengatakan keluarga besar PDI Perjuangan Jatim ikut merasakan kegembiraan atas pelaksanaan Muktamar di Jombang.

Baca Juga:  Posko Mudik PDIP Surabaya Siaga Lebaran 2026 di Pasar Turi

“Kami ikut bungah, ikut nderek bingah. Para kiai, nyai, santri, dan Nahdliyin dari seluruh Indonesia datang ke Tambakberas. Bagi kami, cara terbaik menyambutnya adalah ikut membantu, melayani, dan mendoakan agar Muktamar berjalan lancar dan penuh berkah,” kata Gus Wahab.

Ia menilai hubungan antara keislaman dan kebangsaan tidak semestinya dipertentangkan. Menurutnya, teladan para pendahulu menunjukkan bahwa kehidupan beragama dan kecintaan terhadap tanah air dapat berjalan beriringan selama orientasinya adalah kemaslahatan masyarakat.

“Keislaman dan kebangsaan tidak perlu dipisahkan. Para pendahulu kita sudah memberi teladan. Muara keduanya adalah kemaslahatan: bagaimana kehadiran kita bermanfaat bagi masyarakat dan bagaimana Indonesia tetap kita jaga bersama,” ujarnya.

DPD PDI Perjuangan Jawa Timur kemudian menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta Muktamar ke-35 NU. Mereka berharap forum tersebut berlangsung teduh, penuh persaudaraan, dan menghasilkan keputusan yang bermanfaat bagi jam’iyah, jamaah, bangsa, serta negara.

“Memasuki abad keduanya, Indonesia membutuhkan NU yang semakin kokoh, menjadi sumber keteladanan, menjaga persaudaraan, serta terus membawa Islam rahmatan lil ‘alamin bagi kemajuan Indonesia dan dunia,” kata Deni.

Gus Wahab juga mengajak seluruh muktamirin datang ke Jombang dengan semangat persaudaraan. “Monggo rawuh di Jawa Timur, monggo rawuh di Jombang. Kami ikut bungah menyambut para kiai, nyai, santri, dan seluruh muktamirin. Semoga dari Tambakberas lahir kebaikan dan kemaslahatan untuk NU dan Indonesia,” pungkas Gus Wahab.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT