Jumat, 30 Oktober 2026
Image Slider

Agustus Kelam, BEM SI Kerakyatan Jatim Gelar Aksi di Depan Grahadi

TheJatim.com – Sekitar 300 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur menggelar aksi simbolik bertajuk “Agustus Kelam, Jatim Melawan” di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (31/8/2026) sore.

Presiden BEM Universitas Hang Tuah, Raihan Asfi Priadi, mengatakan aksi tersebut merupakan hasil konsolidasi mahasiswa untuk menyatukan pembacaan terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat sepanjang Agustus 2026.

“Aksi ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa Jawa Timur untuk menyatukan pembacaan terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Yang kami bawa bukan sekadar suara, tetapi kegelisahan masyarakat yang perlu dikawal bersama,” ujar Raihan.

Agustus Kelam, BEM SI Kerakyatan Jatim Gelar Aksi di Depan Grahadi

Aksi tersebut tidak hanya mengangkat satu isu. Mahasiswa membawa sejumlah persoalan, mulai dari penanganan bencana, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), persoalan lingkungan, hingga pemerataan pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam.

Salah satu sorotan utama adalah penanganan serta pemulihan masyarakat yang terdampak bencana. Mahasiswa menilai pemerintah tidak cukup hanya hadir ketika bencana terjadi. Pemulihan kehidupan warga, mitigasi, kesiapsiagaan, hingga perlindungan kelompok rentan juga harus menjadi perhatian.

“Bagi kami, penanganan bencana tidak boleh berhenti pada masa tanggap darurat. Setelah sorotan media berakhir, masyarakat masih harus menjalani kehidupan dan memulihkan kondisi mereka,” kata Raihan.

Baca Juga:  UNAIR Kenalkan Coding dan AI kepada Guru MAN 4 Banyuwangi

Isu kebencanaan menjadi perhatian mahasiswa setelah sejumlah bencana terjadi sepanjang Agustus. Dalam pernyataan sikapnya, BEM SI Kerakyatan Jawa Timur turut menyoroti gempa bumi di Nusa Tenggara Timur serta kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.

Karhutla dinilai tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan pemadaman api. Mahasiswa juga menyoroti pentingnya pencegahan, pengawasan tata kelola lahan, perlindungan ekosistem, serta dampak asap dan kerusakan lingkungan terhadap masyarakat.

“Karhutla harus dibaca dari hulu sampai hilir. Ketika api sudah membesar, persoalannya bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi mengapa kebakaran terjadi dan siapa yang terdampak,” tegasnya.

Rangkaian aksi diawali dengan menyanyikan lagu “Tanah Airku”. Bagi mahasiswa, lagu tersebut menjadi simbol refleksi terhadap makna kemerdekaan Indonesia yang telah memasuki usia 81 tahun.

Kemerdekaan, menurut mereka, tidak cukup dirayakan melalui seremoni setiap Agustus. Makna kemerdekaan juga berkaitan dengan kemampuan negara memberikan rasa aman, perlindungan dan kehidupan yang layak bagi masyarakat.

Baca Juga:  RDP DPRD Surabaya Soal Bale Hinggil Gagal Digelar

Aksi kemudian dilanjutkan dengan orasi kebangsaan dari sejumlah perwakilan perguruan tinggi. Mahasiswa menyampaikan pandangan mengenai kondisi kebangsaan sekaligus berbagai persoalan yang mereka temukan di daerah masing-masing.

Teatrikal turut menjadi bagian dari aksi. Pertunjukan tersebut digunakan sebagai medium untuk menggambarkan tragedi dan bencana yang menimpa masyarakat.

“Di balik angka korban ada manusia, ada keluarga, ada kehidupan yang berubah. Karena itu, kami ingin tragedi dan bencana tidak berhenti menjadi angka dalam laporan,” ujar Raihan.

Selain orasi dan teatrikal, mahasiswa membuka mimbar bebas. Forum tersebut memberi kesempatan kepada peserta dari berbagai perguruan tinggi menyampaikan persoalan daerah yang dianggap perlu mendapat perhatian publik.

Salah satu isu yang muncul berasal dari Madura. Mahasiswa menyoroti pembagian dan pemanfaatan Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi bagi kabupaten-kabupaten di Pulau Madura.

Persoalan tersebut ditempatkan dalam konteks keadilan pembangunan. Mahasiswa mempertanyakan sejauh mana sumber daya alam yang berada di suatu daerah dapat memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat setempat.

Baca Juga:  Usai Hearing, Intra Publik Dorong Pemkot Surabaya Tingkatkan Komitmen Belanja Pendidikan

Raihan menegaskan gerakan mahasiswa harus dibangun melalui konsolidasi, kajian dan argumentasi. Kritik terhadap kebijakan publik, menurut dia, tidak boleh berhenti pada slogan.

“Keberanian untuk bersuara harus dibarengi tanggung jawab intelektual. Kami ingin setiap persoalan yang dibawa memiliki dasar data, kajian, dan argumentasi yang jelas,” tegasnya.

Setelah rangkaian orasi, teatrikal dan mimbar bebas selesai, mahasiswa menutup aksi dengan doa lintas agama dan tabur bunga.

Tabur bunga dilakukan sebagai bentuk solidaritas sekaligus penghormatan kepada korban tragedi dan bencana. Simbol tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kehilangan satu nyawa memiliki dampak panjang bagi keluarga yang ditinggalkan.

Aksi “Agustus Kelam, Jatim Melawan” menjadi ruang konsolidasi mahasiswa Jawa Timur untuk mempertemukan berbagai persoalan masyarakat dalam satu gerakan. Isu kebencanaan, karhutla, lingkungan, hingga keadilan pembangunan menjadi bagian dari kritik yang mereka sampaikan.

“Kami akan terus mengawal persoalan masyarakat. Gerakan ini tidak berhenti di aksi hari ini. Fakta, kajian dan kepentingan masyarakat akan menjadi dasar bagi mahasiswa Jawa Timur untuk terus bersuara,” pungkas Raihan.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT