TheJatim.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Koalisi Alumni GMNI Mataraman Raya menyatakan dukungan moral kepada H. Gudfan Arif Ghofur atau Gus Gudfan untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dukungan tersebut disebut lahir dari kesamaan pandangan tentang kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat kecil, kemandirian organisasi, serta penguatan nilai kebangsaan yang berakar pada tradisi Islam Nusantara.
“Kami di Koalisi Alumni GMNI Mataraman Raya melihat sosok Gus Gudfan sebagai perwujudan nyata Santri Marhaen. Nilai perjuangan Marhaenisme Bung Karno untuk membela kaum mustadh’afin bertaut secara presisi dengan Catur Piwulang Sunan Drajat yang mengalir dalam darah beliau, yakni memberi makan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, serta memberi perlindungan bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Koordinator Koalisi Alumni GMNI Mataraman Raya Muhammad Zulfikar Putra Prawiranegara, S.H., M.H.
Muktamar ke-35 NU sendiri dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Tambakberas, Jombang. Forum tertinggi organisasi tersebut menjadi perhatian publik karena akan menentukan arah kepemimpinan dan masa depan jam’iyah NU dalam menghadapi tantangan sosial, ekonomi, hingga dinamika kebangsaan yang terus berkembang.
Menurut Zulfikar, Tambakberas bukan sekadar lokasi penyelenggaraan Muktamar, melainkan ruang sejarah yang memiliki keterkaitan kuat dengan perjalanan para ulama pendiri NU. Karena itu, momentum tersebut dinilai tepat untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu menjaga persatuan warga nahdliyin sekaligus mempertahankan independensi organisasi dari kepentingan pragmatis.
Ia menilai rekam jejak Gus Gudfan di lingkungan NU memperlihatkan perpaduan antara pengalaman organisasi dan perhatian terhadap penguatan ekonomi umat. Dalam berbagai kiprahnya, Gus Gudfan dikenal pernah menempati posisi strategis dalam pengelolaan keuangan PBNU serta aktif mengembangkan gagasan kemandirian ekonomi sebagai salah satu fondasi kekuatan organisasi.
“NU saat ini membutuhkan figur Ar-Ra’i, yakni pemimpin yang merawat dan mengayomi seluruh elemen. Kerendahan hati atau taslim yang selama ini ditunjukkan Gus Gudfan justru menjadi bukti kedewasaan spiritual karena beliau tidak menampilkan ambisi kekuasaan, melainkan menghadirkan kemampuan untuk menjadi titik temu di tengah berbagai perbedaan,” jelas Zulfikar.
Koalisi Alumni GMNI Mataraman Raya juga menempatkan gagasan Marhaenisme sebagai salah satu landasan moral dalam membaca kebutuhan kepemimpinan NU. Mereka memandang perjuangan membela kelompok lemah memiliki irisan kuat dengan prinsip keadilan sosial yang selama ini menjadi bagian dari tradisi perjuangan para ulama Nusantara.
Selain itu, Zulfikar menghubungkan pandangan tersebut dengan pemikiran KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengenai demokrasi tanpa kekerasan, pluralisme, serta keberanian menjaga jarak kritis terhadap kekuasaan. Menurutnya, nilai tersebut tetap relevan untuk memperkuat Khittah NU sebagai organisasi keagamaan yang berdiri bersama masyarakat dan menjaga martabat demokrasi Indonesia.
“Meneladani pemikiran Gus Dur tentang demokrasi tanpa kekerasan, Muktamar ke-35 NU di Tambakberas harus menjadi momentum menegakkan kembali Khittah NU sebagai khittah sufistik pembebasan. NU harus tetap menjaga jarak kritis yang bermartabat dari kekuasaan pragmatis sambil konsisten membela kedaulatan warga dan keadilan sosial,” ungkapnya.
Lebih jauh, Koalisi Alumni GMNI Mataraman Raya menilai pengalaman Gus Gudfan dalam tata kelola ekonomi organisasi menjadi salah satu alasan penting munculnya dukungan tersebut. Mereka menyebut penguatan badan usaha dan kemandirian ekonomi merupakan bagian dari upaya membangun Tauhid Sosial, yaitu memastikan jam’iyah mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri agar tidak mudah terkooptasi kepentingan jangka pendek.
Pandangan itu juga diperkuat oleh latar belakang Gus Gudfan sebagai kader NU yang menempuh perjalanan organisasi dari lingkungan pesantren hingga dipercaya mengemban tanggung jawab dalam struktur PBNU. Bagi koalisi, kapasitas manajerial tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan modernisasi organisasi tanpa meninggalkan nilai keulamaan dan tradisi pesantren.
“Wong kang wis ditandhani langit ora bakal bisa mlayu saka takdire. Kami meyakini kepemimpinan Gus Gudfan adalah jawaban atas kerinduan jam’iyah terhadap sosok pemimpin yang tidak silau oleh takhta, melainkan hadir membawa rahmah, perlindungan, serta keberpihakan kepada rakyat kecil,” pungkas Zulfikar.


