Thejatim.com, BANYUWANGI – Potensi kopi robusta asal kawasan lereng Pegunungan Malangsari, Desa Kebonrejo, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, kian menunjukkan taji di kancah nasional. Dua perwakilan petani sekaligus prosesor asal Kalibaru mendominasi papan atas kompetisi uji cita rasa (cupping test) kategori Robusta dalam ajang Nusantara’s Finest Coffee and Tobacco for Worldwide yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bondowoso pada 28 Agustus hingga 4 September 2026.
Kegiatan yang diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai daerah di Indonesia tersebut menempatkan kopi Robusta Malangsari pada peringkat skor tertinggi pertama dan kedua. Berdasarkan kriteria penilaian cupping, greenbean yang dikirimkan oleh perwakilan Kalibaru berhasil masuk dalam kategori kopi grade premium dengan karakter rasa yang otentik.
Skor tertinggi pertama cupping (Average Cupping) kategori robusta diraih oleh Ali Mursyid Azisi dari BillCoffee Nusantara. Kopi yang diberi nama “Robusta Blambangan” tersebut mencatatkan nilai 83,50. Kopi ini ditanam pada ketinggian 750 meter di atas permukaan laut (mdpl) di kawasan Gunung Kendit, Malangsari, Kebonrejo, Kalibaru, dengan mengaplikasikan proses pascapanen natural klasik.
Sementara itu, peringkat kedua skor cupping tertinggi diraih oleh Sukarmin yang mewakili Kelompok Tani Bintang Kopi Sejahtera, Kebonrejo, Kalibaru. Dengan Kopi bernama “Robusta Bintang Sejahtera”, Sukarmin mengantongi skor 82,63. Kopi yang dibudidayakan pada bentang alam dan ketinggian yang sama—yakni 750 mdpl Gunung Kendit—ini menggunakan metode pengolahan pascapanen full washed.
Peringkat ketiga diraih oleh perwakilan tuan rumah, Ravi Cahyo Wisanggeni dari raffCo Coffee Roastery asal Bondowoso, yang mengumpulkan nilai cupping 82,50. Peringkat keempat ditempati oleh Okta Kurniawan dari Sugara (Sumberweringin, Bondowoso) dengan nama kopi “Demit Coffee” yang meraih skor 80,50. Adapun posisi lima besar ditutup oleh Yonatan Kurnia Chandra dari Sumberweringin dengan kopinya yang bernama “Kopi Cap Kembang”.
Mendorong Bargaining Power Daerah
Dominasi produk kopi dari kawasan Pegunungan Malangsari, Kebonrejo, dalam ajang skala nusantara ini mempertegas kualitas serta daya saing komoditas kopi asal Banyuwangi barat. Hasil uji laboratorium cita rasa ini sekaligus meningkatkan posisi tawar (bargaining power) Kalibaru sebagai salah satu sentra penghasil kopi robusta terbaik di Jawa Timur.
Ali Mursyid Azisi dari BillCoffee Nusantara menyampaikan bahwa raihan skor di atas 80 poin untuk kategori robusta bukanlah perkara mudah. Angka tersebut menandakan bahwa kopi dari Malangsari memiliki keanekaragaman profil rasa (flavor profile) yang kompleks serta memenuhi standar baku pasar Internasional.
“Capaian ini menjadi bukti konkret bahwa ekosistem mikro di Pegunungan Malangsari, Kebonrejo, memiliki keunggulan teritorial yang sangat mendukung tumbuh kembang kopi robusta berkualitas tinggi. Proses pascapanen yang cermat, mulai dari pemetikan buah merah hingga pengeringan yang terukur, terbukti mampu mengeluarkan potensi maksimal dari Kopi Robusta Blambangan,” ujar Ali Mursyid Azisi.
Ali menambahkan, keberhasilan ini diharapkan mampu memicu semangat para petani muda di Kalibaru untuk terus konsisten menjaga mutu produksi, tidak hanya berfokus pada kuantitas panen, tetapi juga pada tata kelola pascapanen bernilai tambah.
Sinergi Petani dan Kualitas Pascapanen
Keberhasilan Kelompok Tani Bintang Kopi Sejahtera menembus urutan kedua juga menggarisbawahi pentingnya edukasi kelolapenaan pascapanen di tingkat kelompok tani lokal. Sukarmin mengungkapkan, penggunaan teknik full washed pada produk “Robusta Bintang Sejahtera” bertujuan memunculkan karakter kebersihan rasa (clean cup) serta tingkat keasaman yang seimbang.
“Kami di kelompok tani terus belajar dan berbenah dalam mengolah biji kopi. Hasil ini bukan hanya milik pribadi atau kelompok kami, melainkan milik seluruh petani kopi di Kebonrejo, Kalibaru. Hasil uji cupping ini membuktikan bahwa kopi olahan petani lokal mampu bersaing secara adil dengan pengolah kopi modern dari kawasan lain,” kata Sukarmin.
Menurut Sukarmin, konsistensi mutu yang diakui melalui pengujian saintifik ini menjadi modal berharga bagi kelompok tani untuk menembus rantai pasok kopi komersial tingkat atas hingga pasar ekspor.
Menopang Komoditas Kopi Jawa Timur
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, Jawa Timur mengukuhkan posisinya sebagai provinsi penyumbang komoditas kopi terbesar ketiga di Indonesia. Kontribusi tersebut didorong oleh sebaran kawasan perkebunan rakyat yang terbentang di sepanjang jalur pegunungan, termasuk bentang alam di Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso.
Ajang Nusantara’s Finest Coffee and Tobacco for Worldwide tahun 2026 menjadi panggung pembuktian bahwa inovasi pada ranah pascapanen yang dilakukan oleh para petani-prosesor di Desa Kebonrejo mampu menaikkan kelas kopi robusta Jawa Timur. Kopi robusta yang dahulu sering dinilai memiliki karakter rasa dominan pahit (bitter) yang monoton, kini terbukti mampu menghadirkan nuansa rasa yang kaya, otentik, serta dinamis apabila dikelola secara presisi. Ke depan, penguatan kapasitas petani dalam mempertahankan grade green bean premium seperti yang ditunjukkan oleh BillCoffee Nusantara dan Kelompok Tani Bintang Kopi Sejahtera menjadi kunci utama kelangsungan industri kopi nasional. Dengan dorongan standarisasi mutu dan pengakuan di tingkat kompetisi daerah maupun nasional, kopi Robusta Malangsari dari Kalibaru kian mantap menapaki jejak menuju pasar global.


