Thejatim.com, BANYUWANGI — Kawasan Kebonrejo, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, secara historis memiliki keterikatan mendalam dengan komoditas kopi. Diperkenalkan pertama kali oleh perintis asal Skotlandia pada dekade 1800-an dan dikembangkan secara masif pada awal 1900-an di era kolonial Belanda, kopi Robusta Kalibaru telah mengakar selama lebih dari dua abad sebagai tulang punggung ekonomi warga lokal Desa Kebonrejo.
Secara kuantitatif, potensi ini terbukti melalui data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 yang mencatat volume panen kopi Kabupaten Banyuwangi mencapai 13.104 ton, mengukuhkan Banyuwangi sebagai salah satu produsen dan sentra kopi Robusta terbesar di Jawa Timur—dengan Kecamatan Kalibaru sebagai penyumbang produksi utama.
Namun, di balik melimpahnya hasil panen, petani kopi Kalibaru selama ini dihadapkan pada masalah struktural yang kronis: kehilangan identitas asal (loss of origin). Sebagian besar hasil panen terlempar ke luar daerah dalam bentuk biji ceri basah (raw cherry) dengan marjin keuntungan sangat tipis.
Kopi-kopi berkualitas tinggi tersebut mengalir deras ke sentra pemrosesan lain seperti Jember, Dampit (Malang), Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Temanggung, hingga Luar Pulau. Dampaknya, setelah diolah di daerah tujuan, kopi asal Kalibaru tersebut di-brand dan diklaim sebagai produk khas dari daerah pembeli.
Era Baru: Deklarasi dan Konsolidasi 100 Hektare Lebih Lahan
Menjawab tantangan tersebut, pergeseran paradigma (paradigm shift) resmi dimulai. Pada Rabu (19/08/2026) malam, bertempat di Desa Kebonrejo, Kalibaru, resmi berdiri Kelompok Tani “Bintang Kopi Sejahtera” di bawah naungan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kalibaru – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi.
Pendirian kelompok tani yang dinahkodai oleh Sukarmin ini didukung oleh konsolidasi ekonomi yang solid. Pertemuan pembentukan dihadiri oleh lebih dari 60 petani lokal dengan total hamparan lahan terintegrasi mencapai lebih dari 100 hektare. Luas hamparan ini menjadi modal sosial sekaligus modal produksi utama untuk membangun efisiensi skala ekonomi (economies of scale) serta sinergi kolektif.
Gerakan strategis yang diinisiasi oleh akademisi, peneliti lokal, sekaligus pegiat kopi muda, Ali Mursyid Azisi, ini mendapat sambutan hangat dari jajaran dinas pertanian, pemerintah desa, hingga lembaga legislatif seperti anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi, Bapak Abdul Ghofur.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Kalibaru, Agus Rakhman, S.P., mengatakan bahwa kehadiran Kelompok Tani Bintang Kopi Sejahtera adalah momentum krusial untuk menghentikan praktik kopi pindah KTP dan nilai tambah yang minim di tingkat petani.
“Selama ini petani kita hanya menjadi penonton saat kopi ceri unggulan Kalibaru diolah dan diberi nama daerah lain. Lewat wadah ini, BPP Kalibaru siap memberikan pendampingan teknis dari sektor hulu hingga pascapanen secara ilmiah agar petani mampu melakukan standarisasi mutu dan pascapanen mandiri,” ujarnya.
Apresiasi senada juga disampaikan Pj Kepala Desa Kebonrejo, RB Winoto Wardoyo. Ia menyambut hangat dan mengapresiasi tinggi konsolidasi besar ini. Lebih dari 100 hektare lahan yang terkonsolidasi bukan jumlah yang sedikit. Ini adalah aset strategis Kebonrejo.
“Atas nama Pemerintah Desa Kebonrejo, kami berkomitmen mendukung regulasi desa serta memfasilitasi kemitraan agar Bintang Kopi Sejahtera menjadi motor penggerak kedaulatan ekonomi warga desa,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Terpilih Kelompok Tani Bintang Kopi Sejahtera, Sukarmin, mengatakan bahwa tanggung jawab yang diamanahkan kepadanya adalah cerminan untuk memimpin perubahan cara pandang.
“Kita tidak boleh lagi menjual kopi ceri murah. Langkah utama Bintang Kopi Sejahtera adalah memperkuat posisi tawar (bargaining power) petani, membangun standarisasi olah basah maupun kering (specialty processing), dan memastikan bahwa seluruh kopi yang keluar dari desa ini membawa nama kebanggaan Kopi Kalibaru,” ucapnya.
Pihaknya meyakini bahwa kunci utama untuk menaikkan kelas Kopi Kalibaru berada di tangan generasi mudanya. Pemuda Kebonrejo bukan sekadar pelengkap, melainkan aktor sentral dan agen perubahan (agent of change) yang dirangkul untuk bergerak di seluruh rantai nilai (value chain).
Untuk itu, sejumlah terobosan akan dilakukan ke depan. Pertama, Inovasi Hulu & Pascapanen: Menerapkan pendekatan saintifik, teknologi modern, dan kontrol kualitas berbasis riset. Kedua, Branding & Narasi Kreatif: Membangun identitas dan geographic branding yang kuat agar Kopi Kalibaru memiliki daya tarik tersendiri di pasar nasional dan mancanegara. Ketiga, Pemasaran Digital & Ekspansi: Menguasai jejaring pasar modern, platform e-commerce, hingga akses ekspor.
“Kombinasi antara kebijaksanaan petani senior di lahan dan progresivitas pemuda di sektor hilir menjadi formula utama untuk merebut kembali kedaulatan merek, meningkatkan harga tawar, dan membawa Kopi Kalibaru bersaing mendunia,” tuturnya.
Sebagai informasi, Nama “Bintang Kopi Sejahtera” memiliki Ringkasan Makna sebagai berikut:
– Bintang: Menggambarkan orientasi (navigasi) dan standar tertinggi (gold standard) sebagai penuntun arah modernisasi pertanian kopi lokal.
– Kopi: Komoditas inti berbasis keunggulan komparatif (comparative advantage) wilayah Kalibaru.
– Sejahtera: Muara dari penguatan ekosistem ekonomi, di mana pertumbuhan nilai tambah pertanian berbanding lurus dengan peningkatan taraf hidup petani.


