TheJatim.com — Tradisi berbagi hewan kurban yang dilakukan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur kembali mendapat apresiasi dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Konsistensi tersebut dinilai bukan sekadar agenda seremonial Iduladha, tetapi bagian dari upaya menjaga persaudaraan kebangsaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Tahun ini, DPD PDI Perjuangan Jawa Timur melalui Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) menyerahkan dua ekor sapi kurban kepada PWNU Jawa Timur. Hewan kurban itu nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat dan warga yang membutuhkan di sejumlah wilayah.
Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur, HM Taufik Mukti, mengatakan hubungan antara Nahdlatul Ulama dan PDI Perjuangan selama ini memiliki kedekatan historis yang kuat. Di Jawa Timur, hubungan tersebut bahkan dikenal luas dengan istilah “ijo-abang”, simbol persatuan kalangan santri dan nasionalis.
Menurutnya, kedekatan itu tumbuh dari semangat yang sama dalam menjaga kerakyatan, kebangsaan, serta kepedulian terhadap masyarakat kecil.
“Hubungan NU dan PDI Perjuangan selama ini terjalin baik. Kami sering menyebutnya hubungan ijo-abang. Ada semangat kebangsaan, kerakyatan, dan kepedulian sosial yang tumbuh bersama di tengah masyarakat,” kata Taufik, Kamis (28/5/2026).
Ia menilai konsistensi penyaluran hewan kurban dari PDI Perjuangan Jawa Timur menjadi bagian penting dalam menjaga silaturahmi sosial di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya stabil.
Momentum Iduladha, kata dia, menjadi ruang nyata untuk memperkuat gotong royong dan solidaritas sosial. Terlebih, kebutuhan masyarakat terhadap bantuan pangan masih cukup tinggi, termasuk menjelang Hari Raya Kurban.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menunjukkan konsumsi masyarakat pada momentum hari besar keagamaan biasanya meningkat signifikan. Di sisi lain, distribusi daging kurban masih menjadi salah satu bentuk bantuan sosial yang paling dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.
Taufik juga menyinggung hubungan historis antara Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Menurutnya, keduanya menjadi simbol persatuan nasionalis dan Nahdliyin dalam menjaga demokrasi serta persatuan bangsa pada masa reformasi.
“Gus Dur dan Ibu Megawati punya kedekatan yang baik. Itu menjadi bagian dari sejarah kebangsaan Indonesia, bagaimana kalangan nasionalis dan Nahdliyin bisa berjalan bersama menjaga Indonesia,” ujarnya.
PWNU Jawa Timur, lanjut Taufik, mengapresiasi perhatian PDI Perjuangan Jawa Timur yang selama ini tetap menjaga hubungan baik dengan pesantren, ulama, dan warga Nahdliyin melalui berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Ia memastikan daging kurban akan disalurkan sesuai zona distribusi yang telah ditentukan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat yang membutuhkan.
“Yang paling penting manfaatnya bisa dirasakan masyarakat. Insya Allah daging kurban nanti akan kami distribusikan kepada masyarakat sesuai zona yang telah ditentukan,” katanya.
Di tengah meningkatnya tantangan ekonomi masyarakat, PWNU Jawa Timur berharap kolaborasi sosial seperti ini terus dijaga. Tidak hanya saat Iduladha, tetapi juga dalam berbagai program sosial lain yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat kecil.
“Semoga semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan ukhuwah kebangsaan seperti ini terus dirawat bersama demi kemaslahatan umat dan masyarakat luas,” pungkasnya.


