Jumat, 30 Oktober 2026
Image Slider

PDIP Surabaya Evaluasi Kekalahan Suara Pemilu 2024, Target Kembalikan Basis Dukungan

TheJatim.com – DPC PDI Perjuangan (PDIP) Kota Surabaya mulai memperkuat konsolidasi internal untuk mengembalikan perolehan suara yang menurun pada Pemilu 2024. Partai berlambang banteng moncong putih ini mengaku tetap solid, tetapi mengakui masih memiliki pekerjaan rumah untuk memperbaiki kekurangan dan menjaga dukungan masyarakat.

Sekretaris DPC PDIP Surabaya, Syaifudin Zuhri atau Kaji Ipuk, mengatakan konsolidasi bukan agenda musiman yang hanya dilakukan menjelang pemilihan umum. Menurut dia, Fraksi PDIP di DPRD Surabaya rutin menggelar rapat mingguan untuk menyamakan langkah dan membahas aspirasi masyarakat yang dihimpun para anggota dewan.

“Rapat rutin biasa, bahwa Fraksi PDI Perjuangan selama ini tetap setiap satu minggu ada rapat rutin untuk memperkuat, mempersiapkan apa-apa yang perlu diperjuangkan,” kata Kaji Ipuk di Gedung DPRD Surabaya, Selasa (13/10/2026).

Selain rapat fraksi, PDIP Surabaya menjalankan konsolidasi organisasi melalui musyawarah ranting (musran) hingga musyawarah anak cabang (musancab). Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga koordinasi kader di berbagai tingkatan sekaligus memastikan arah perjuangan partai tetap sejalan.

Kaji Ipuk menegaskan, konsolidasi diperlukan untuk menyatukan barisan setelah hasil Pemilu 2024 menjadi bahan evaluasi. Ia menilai penurunan suara tidak boleh dihadapi dengan sikap defensif, melainkan harus menjadi dorongan untuk mengidentifikasi kelemahan dan memperbaiki strategi politik.

“PDI Perjuangan pernah suaranya 2024 kalah, ya kita akan koreksi kekurangan apa yang selama ini terjadi. Maka itu kita harus optimistis untuk bisa memenangkan dan mengembalikan suara partai,” tegasnya.

Menurut Kaji Ipuk, langkah berikutnya adalah memperkuat koordinasi, menggerakkan kader hingga tingkat bawah, serta memantau perubahan kebutuhan masyarakat. Ia menilai kerja politik tidak cukup dilakukan melalui rapat internal, tetapi harus terlihat dalam aktivitas kader yang bersentuhan langsung dengan warga.

Baca Juga:  Seluruh Ponpes di Surabaya Akan Diverifikasi Keamanan dan Perizinannya

“Upayanya memperkuat barisan satu komando, koordinasi diperkuat, terus konsolidasi dalam gerakan ke bawah terus dijalin, monitoring dilakukan, itu saja,” ujarnya.

Ia juga membantah anggapan bahwa kader PDIP baru aktif mendampingi masyarakat ketika pemilu semakin dekat. Kaji Ipuk menyebut kader partainya selama ini terlibat dalam berbagai persoalan warga, termasuk membantu masyarakat yang menghadapi masalah kesehatan dan kebutuhan sosial lainnya.

“PDI Perjuangan tidak hanya menyikapi ketika mau Pemilu. PDI Perjuangan sudah tertempati, setiap kadernya bergerak terus mendampingi masyarakat, ada urusan sakit, urusan apa saja, PDI selalu hadir di setiap masyarakat,” jelasnya.

Kaji Ipuk mengakui masih ada kekurangan yang perlu dibenahi. Baginya, evaluasi hasil pemilu harus berujung pada tindakan nyata agar partai tidak kehilangan basis dukungan akibat mengabaikan perubahan aspirasi masyarakat. Ia menegaskan, upaya mengembalikan suara harus berjalan seiring dengan penguatan karakter dan identitas perjuangan partai.

“Penguatan untuk terus dari kekurangan-kekurangan, kita tingkatkan untuk menjadi lebih baik agar supaya koreksi yang kemarin ada hilangnya itu menjadi target untuk bisa kita kembalikan,” tuturnya.

Tak Risau Mantan Kader Pindah Partai

Di tengah upaya memperkuat barisan, Kaji Ipuk mengaku tidak terlalu mengkhawatirkan mantan kader yang memilih bergabung dengan partai politik lain. Ia menyebut keputusan tersebut merupakan hak pribadi setiap orang dan tidak seharusnya mengalihkan perhatian partai dari pekerjaan utamanya.

Baca Juga:  Cak Yebe: Jangan Nodai Kemerdekaan dengan Bendera Fiksi

“Terkait dengan mantan yang bergabung di partai sebelah, wah itu hak mereka, bagi kita itu hak pribadi mereka dan PDI tidak terlalu risau juga kalau seandainya begitu,” katanya.

Menurut dia, perpindahan kader merupakan dinamika yang sudah pernah dihadapi PDIP. Karena itu, partai memilih berfokus pada pembenahan organisasi dan penguatan kader yang masih aktif, daripada menghabiskan energi untuk mempersoalkan keputusan politik mantan anggota.

Kaji Ipuk menilai tantangan utama PDIP justru terletak pada kemampuan membaca perubahan situasi sosial dan harapan masyarakat. Dukungan pemilih, kata dia, tidak bisa dianggap akan terus bertahan hanya karena ikatan historis atau loyalitas terhadap partai.

“Langkah yang paling konkret adalah bagaimana kita bisa membaca situasi kebatinan masyarakat dan apa yang disenangi masyarakat. Itulah langkah konkret dalam hal taktik politik,” ujarnya.

Ia menambahkan, optimisme tetap diperlukan, tetapi harus disertai kerja nyata. Kader perlu memahami persoalan yang dihadapi warga dan menjawabnya melalui langkah yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, bukan sekadar mengandalkan popularitas partai.

“Yang penting optimistis wajib, karena setiap gerakan politik ini kan menyangkut hati dan perasaan orang,” katanya.

Karena itu, Kaji Ipuk meminta seluruh kader tetap merawat basis pemilih PDIP atau yang kerap disebut basis merah. Ia mengingatkan bahwa identitas historis partai harus dijaga melalui konsistensi sikap dan kedekatan dengan masyarakat.

“Makanya basis merah ini terus harus kita pelihara. Jangan sampai orang yang senang terhadap PDI Perjuangan itu akan lari manakala kita lupa atas jati diri kita sebagai kader PDI Perjuangan yang secara historis memiliki psikologis gerakan massa,” pungkasnya.

Baca Juga:  Polemik PT SJL, DPRD Surabaya Tekankan Pabrik Emas Harus Relokasi

Menanggapi anggapan bahwa pertarungan politik ke depan semakin berat, Kaji Ipuk menyebut tantangan tersebut bergantung pada kesediaan partai melakukan evaluasi dan merespons perkembangan aspirasi warga. Menurut dia, observasi dan pemantauan harus menghasilkan langkah konkret, bukan berhenti sebagai catatan organisasi.

“Berat bagi yang tidak mau melakukan. Tapi bagi orang politik yang mau melakukan observasi, monitoring, apa yang sesungguhnya tren keinginan masyarakat, itu harus dijawab dengan langkah konkret,” tandasnya.

Kaji Ipuk juga membantah anggapan bahwa PDIP Surabaya sedang dilanda konflik internal besar. Ia menegaskan tugasnya sebagai sekretaris partai adalah menjaga agar seluruh agenda organisasi berjalan sesuai target. Namun, klaim soliditas tersebut tetap perlu dibuktikan melalui konsistensi kerja kader dan kemampuan partai memperbaiki hasil politiknya.

“Oh tidak, itu orang luar saja melihat satu dua konflik, enggak ada konflik. Saya sekretaris yang memastikan dalam rangka gerak juang partai, tugas fungsi sekretaris menjaga dan memastikan gerakan partai harus jalan sesuai dengan target dan impian,” tegas Ketua DPRD Surabaya tersebut.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa kekuatan politik PDIP semestinya digunakan untuk menjawab kebutuhan warga, bukan semata-mata mempertahankan kepentingan partai. Bagi PDIP Surabaya, tantangan setelah Pemilu 2024 bukan hanya menyatukan kembali kader, melainkan membuktikan bahwa aspirasi masyarakat benar-benar menjadi dasar kerja politik.

“PDI Perjuangan menguasai bukan untuk PDI Perjuangan, tapi untuk menyelaraskan keinginan masyarakat. Dan itu sudah jalan,” pungkas Kaji Ipuk.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT