TheJatim.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Surabaya (ABS) menggelar Aksi Simbolik “September Hitam” di Lapangan Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Surabaya, Rabu (9/9/2026) malam. Aksi ini tidak dikemas sebagai demonstrasi besar, tetapi menjadi ruang refleksi untuk mengingat kembali persoalan hak asasi manusia (HAM) dan korban berbagai peristiwa kemanusiaan di Indonesia.
“September Hitam bukan sekadar momentum untuk mengingat masa lalu, tetapi menjadi pengingat bagi kita semua bahwa setiap persoalan kemanusiaan harus terus diperjuangkan melalui ingatan, kepedulian, dan keberanian untuk menjaga nilai-nilai HAM,” ujar Sekretaris Jenderal Aliansi BEM Surabaya sekaligus Presiden Mahasiswa Telkom Surabaya, Vasco.
Sekitar 50 mahasiswa dari sejumlah organisasi kampus hadir dalam kegiatan yang berlangsung mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB. Mereka membawa satu pesan yang sederhana, tetapi penting: sejarah tentang kekerasan dan pelanggaran HAM tidak boleh berhenti menjadi catatan yang perlahan hilang dari ingatan publik.
September Hitam selama ini menjadi momentum masyarakat sipil untuk mengingat berbagai peristiwa pelanggaran HAM dan persoalan kemanusiaan di Indonesia. Bagi ABS, momentum tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat kembali hubungan antara ingatan, keadilan, demokrasi, dan keberpihakan kepada korban.
Aksi tersebut merupakan tindak lanjut konsolidasi Aliansi BEM Surabaya pada 7 September 2026. Dalam konsolidasi itu, ABS memilih bentuk aksi simbolik dan refleksi di lingkungan kampus sebagai cara menyampaikan pesan tentang HAM.
“Mahasiswa tidak boleh kehilangan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan, karena menjaga ingatan adalah bagian dari menjaga masa depan demokrasi,” kata Vasco.
Sejumlah pimpinan mahasiswa hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka antara lain Bagas selaku Menteri Koordinator Eksternal Universitas Hang Tuah, Catur selaku Presiden Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Ale selaku Presiden Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, Fira selaku Presiden Mahasiswa Unitomo, Syaiful selaku Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya, Azam selaku Presiden Mahasiswa Akademi Farmasi Surabaya, Achong selaku Presiden Mahasiswa Universitas Katolik Darma Cendika, serta Ade selaku Presiden Mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan pengantar mengenai makna September Hitam. Peserta kemudian mengikuti orasi yang menyoroti pentingnya menjaga ingatan publik terhadap korban dan berbagai peristiwa pelanggaran HAM.
Pesan yang muncul dari kegiatan itu adalah bahwa mengingat bukan berarti terjebak pada masa lalu. Ingatan justru diperlukan agar masyarakat dapat belajar dari berbagai peristiwa dan mencegah terulangnya kekerasan atau pelanggaran terhadap hak warga negara.
“Menjaga ingatan adalah bagian dari menjaga masa depan demokrasi,” tegas Vasco.
Selain orasi, mahasiswa menampilkan seni sebagai medium untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Kegiatan kemudian berlanjut dengan tabur bunga dan doa bersama untuk menghormati para korban berbagai peristiwa kekerasan dan pelanggaran HAM.
Suasana berubah lebih hening saat peserta menaburkan bunga dan memanjatkan doa. Simbol tersebut tidak hanya ditujukan kepada korban, tetapi juga menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa setiap peristiwa kemanusiaan memiliki wajah manusia, keluarga, dan luka yang tidak selalu selesai ketika sebuah peristiwa berhenti diberitakan.
Bagi ABS, persoalan HAM juga tidak berhenti pada peristiwa masa lalu. Isu tersebut tetap berkaitan dengan kehidupan demokrasi dan ruang sipil hari ini. Karena itu, mahasiswa menilai pembicaraan mengenai keadilan, kemanusiaan, demokrasi, dan perlindungan masyarakat sipil perlu terus dipelihara.
“Setiap persoalan kemanusiaan harus terus diperjuangkan melalui ingatan, kepedulian, dan keberanian untuk menjaga nilai-nilai HAM,” ujar Vasco.
Kegiatan ditutup dengan penyampaian pernyataan sikap Aliansi BEM Surabaya. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari komitmen ABS untuk terus memberi perhatian terhadap persoalan HAM dan menjaga isu kemanusiaan tetap hadir dalam ruang diskusi publik.
Aksi ini sekaligus memperlihatkan bahwa ekspresi mahasiswa tidak selalu harus hadir dalam bentuk pengerahan massa dalam jumlah besar. Kampus juga dapat menjadi ruang untuk mengingat, berdiskusi, menyampaikan kritik, serta membangun kesadaran mengenai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.
September Hitam akhirnya tidak hanya menjadi penanda waktu bagi mahasiswa di Surabaya. Di tengah cepatnya arus informasi, ingatan terhadap korban justru menghadapi tantangan lain, yakni mudahnya sebuah persoalan tenggelam oleh isu baru.
“Merawat ingatan, menghormati korban, dan menjaga kepedulian terhadap kemanusiaan menjadi pesan yang kami bawa dalam momentum September Hitam tahun ini,” pungkas Vasco.
Aksi Simbolik “September Hitam” Aliansi BEM Surabaya di Unitomo berlangsung tertib, aman, dan kondusif hingga selesai.


