Jumat, 30 Oktober 2026
Image Slider

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam Sendang Winotan

Oleh: Balya Ibnu Malkan

TheJatim.com – Di ranah keilmuan pesantren, transmisi pengetahuan tidak pernah hanya bertumpu pada lembaran-lembaran kitab kuning. Ada dimensi lain yang jauh lebih substansial dalam menjaga kesinambungan sejarah, yakni sanad laku atau rantai transmisi keteladanan dan spiritualitas.

Tradisi lisan dan memori kolektif tentang bagaimana seorang kiai bersikap, beribadah, serta berinteraksi dengan masyarakat sering kali menjadi sumber pembelajaran yang lebih hidup dibandingkan sekadar teks tertulis. Sayangnya, memori komunal yang diwariskan dari mulut ke mulut sangat rentan memudar seiring berpulangnya para santri sepuh yang menjadi saksi perjalanan sejarah.

Dalam pusaran kegelisahan tentang pelestarian memori komunal itulah buku Sendang Winotan: Kisah Teladan dan Amalan KH Abdul Hamid Chasbullah hadir layaknya oase literasi. Membaca buku ini, kita disuguhkan sebuah gagasan penting yang merepresentasikan inti pendidikan pesantren: warisan terbesar seorang ulama bukanlah banyaknya karya yang ditinggalkan, melainkan akhlak, ilmu, dan keteladanan yang terus hidup dalam diri murid-muridnya.

Buku ini merupakan ikhtiar progresif yang patut diapresiasi karena berusaha merawat warisan nonmaterial tersebut ke dalam bentuk dokumentasi yang dapat diakses publik secara lebih luas.

Membicarakan lanskap sejarah Nahdlatul Ulama (NU), khususnya di Jombang yang menjadi salah satu pusat penting perkembangan ulama dan pesantren, tidak mungkin melepaskan peran sentral jejaring Pesantren Tambakberas. Di tengah episentrum pergerakan keagamaan tersebut, sosok KH Abdul Hamid Chasbullah menorehkan jejak pengabdian yang kuat.

Namun, membaca rekam jejak beliau melalui karya ini membawa kita pada sebuah fenomena yang menarik. Corak kepemimpinan yang ditampilkan justru sangat dekat dengan karakter para kiai khos, yakni kiai utama atau kiai sepuh di lingkungan Nahdliyin. Pengaruh yang besar tidak selalu berjalan beriringan dengan popularitas. Justru, dalam banyak kasus, kewibawaan tumbuh dari kesederhanaan dan keteladanan yang dijalankan secara konsisten.

Baca Juga:  Berkah Kesabaran: Teladan dari Jombang hingga Magelang

Kesan kesederhanaan tersebut bahkan terpancar dari perwajahan sampul buku. Visual sang kiai yang menunduk dalam sikap tawaduk dengan raut wajah teduh, mengenakan pakaian serba putih yang bersahaja, serta berlatar siluet menara masjid bersejarah yang ikonik, seolah mengonfirmasi bahwa sosok yang dihadirkan adalah patron yang membumi.

Seperti yang ditekankan dalam blurb buku, di balik dinamika perjalanan sejarah NU, beliau merupakan ulama yang memiliki pengaruh luas, tetapi memilih jalan hidup yang dipenuhi kesederhanaan. KH Abdul Hamid Chasbullah menampilkan profil kepemimpinan yang menjauh dari panggung publisitas yang bising.

Daya tarik dan otoritas beliau memancar dari kedalaman ilmu, keikhlasan dalam berkhidmat tanpa pamrih, keluhuran akhlak, serta keistiqamahan dalam membimbing masyarakat akar rumput.

Dari perspektif jurnalistik maupun kajian sosial-keislaman, terbitnya Sendang Winotan memiliki signifikansi historis sebagai salah satu upaya nyata mendokumentasikan tradisi lisan pesantren. Selama ini, berbagai kisah tentang karamah, laku prihatin atau tirakat, hingga amalan-amalan khusus seorang kiai lebih sering beredar secara organik di warung kopi sekitar madrasah, serambi masjid kala senja, atau dalam majelis-majelis haul yang digelar setahun sekali.

Melalui buku ini, ingatan kolektif yang berpotensi tercecer tersebut ditarik menjadi sebuah dokumen historis yang lebih tertata dan sistematis.

Baca Juga:  BEM PTMAI Desak DPRD Jatim Evaluasi Tambang Hingga MBG

Secara substansi, karya ini menghimpun materi berupa kisah-kisah inspiratif, nasihat, tuntunan amalan, doa, wirid, hingga laku spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah. Aspek-aspek batiniah yang sangat personal tersebut sebelumnya diwariskan dari para murid dan keluarga secara turun-temurun.

Tentu, harus diakui secara kritis bahwa penyusunan buku biografi spiritual yang berbasis pada memori lisan memiliki kerentanan tersendiri. Salah satunya adalah kemungkinan munculnya glorifikasi berlebihan atau bias subjektivitas dari pihak yang menyampaikan kisah.

Akan tetapi, karya ini menunjukkan pendekatan metodologis berlapis yang cukup hati-hati. Keterlibatan sejumlah pihak dalam proses editorial dapat menjadi mekanisme cross-reference atau validasi melalui proses tabayun, sebagaimana dikenal dalam tradisi intelektual pesantren.

Buku tersebut ditulis oleh KH Ainur Rofiq Al-Amin dan KH Muhammad Syifa’ Malik, dengan proses kompilasi naskah yang dilakukan oleh Ahsani Fathurrohman dan Fathul H. Panatapraja. Karya ini juga diperkuat dengan sambutan pembuka dari KH Abdurrozaq Sholeh.

Arsitektur kepenulisan yang kolaboratif tersebut memberikan ruang untuk memastikan setiap riwayat dan sanad amaliah yang dicantumkan memiliki akar sumber yang jelas serta dapat dipertanggungjawabkan, baik dari sisi historis maupun syariat.

Bagi warga jam’iyah Nahdlatul Ulama, literatur semacam ini memiliki daya guna yang melampaui sekadar catatan biografi. Frasa Sendang Winotan secara puitis dapat dimaknai sebagai telaga spiritual yang airnya tidak pernah surut dalam membasuh dahaga.

Di tengah era digital yang riuh dan serba pragmatis, buku ini menjelma menjadi semacam panduan amaliah keseharian yang menenangkan. Kumpulan doa dan wirid di dalamnya menjadi pedoman praktis yang relevan bagi warga Nahdliyin masa kini untuk menjaga jangkar ketenangan batin.

Baca Juga:  Silatwil BEM PTMAI Zona V Jatim Bali Resmi Dibuka

Lebih jauh, literatur kultural semacam ini dapat menjadi referensi penyeimbang bagi warga NU untuk kembali menjernihkan niat, terutama ketika organisasi menghadapi momentum nasional seperti Muktamar.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa diskursus publik menjelang perhelatan besar organisasi acap kali dipenuhi manuver politik kebangsaan, kontestasi struktural, dan hitung-hitungan elektoral. Sendang Winotan hadir untuk menginterupsi kebisingan tersebut.

Buku ini menjadi pengingat bahwa fondasi penyangga jam’iyah NU dibangun oleh para ulama linuwih yang hidupnya didedikasikan pada keikhlasan, pengabdian yang sunyi, serta laku tirakat dalam keheningan malam.

Pada akhirnya, Sendang Winotan berhasil menghadirkan sisi humanis sekaligus spiritual dari seorang ulama kharismatik Nusantara. Karya ini menawarkan kesegaran moral bagi generasi masa kini, sekaligus mengingatkan bahwa ketokohan seorang ulama tidak semata-mata diukur dari luasnya pengaruh, tetapi juga dari nilai yang diwariskan kepada generasi setelahnya.

Munculnya dokumentasi semacam ini sudah semestinya memantik kesadaran pesantren-pesantren lain di berbagai penjuru negeri. Membukukan riwayat, jejak pengabdian, dan pedoman amaliah para kiai lokal sejatinya merupakan bagian dari strategi kebudayaan.

Langkah tersebut menjadi cara untuk menjaga agar perpustakaan peradaban Islam Nusantara tidak hanya dipenuhi catatan politik dan birokrasi, tetapi juga dijiwai oleh kekayaan literatur tasawuf, tradisi keilmuan pesantren, serta keluhuran budi pekerti para ulama yang telah mewariskan keteladanan kepada generasi berikutnya.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Baca Juga
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Terbaru
ADVERTISEMENT